Usang

Rumah usang dipinggir jalan, jauh dari keramaian. Jalan didepannya sudah jarang dilewati orang, karena kata orang-orang rumah itu berhantu. Rumah ini dulu mampu memberi keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya. Atapnya yang sederhana itu meneduhkan ketika siang, menghangatkan ketika malam.Rumah itu tetap memberikan keteduhan meski dia diam dan tidak berkata pada penghuninyanya.

Malam dingin berganti pagi, lalu siang yang terik kemudian malam lagi. Hal itu yang dilalui menjadi ketetapan bak roda berputar, ia tetap menopang atap untuk berteduh tetap memberikan kenyamanan bagi penghuninya dan dia tetap diam. Pintunya masih bisa dibuka dengan lancar meski engselnya jarang diberi oli. Semakin rapuh dan usang menjadi hal wajar, apalagi suatu waktu yang lalu sempat terjadi gempa yang mengguncang beruntung tidak ambruk seperti rumah-rumah lain didaerah itu yang justru lebih mewah dan gedongan. Hanya terjadi retak kecil dibagian samping, namun dia tetap diam, tidak kemudian protes atau ngamuk pada penghuninya. Ia tetap memberikan keteduhan senyaman yang ia mampu berikan. Belum lagi fenomena alam lain seperti gunung meletus yang abunya memberatkan atapnya, dia tetap diam, menunggu hujan membersihkan atapnya. Angin kencang dan hujan badai yang baru baru ini terjadi membuat rumah ini semakin reot dan sepi, bahkan mungkin membuat penghuninya tidak nyaman lagi namun dia masih diam.

Apalagi kabar orang bahwa rumah itu berhantu telah sampai kepada penghuninya yang membulatkan tekad untuk pergi meninggalkan rumah itu. Penghuninya lebih mencari kenyamanan dan keteduhan di rumah lain, namun rumah itu tetap diam.

Dalam keusangannya rumah ini tetap diam, daun pintunya takmampu bicara, jendelanya hanya mampu mendengar dan membiarkan hembusan angin dan kabar masuk menyelinap dalam kesunyian karena telah ditinggal penguniinya. Yang mampu dia lakukan hanyalah mengharap kepada Tuhannya pemilik sesungguhnya rumah itu. “Semoga rumah ini bisa bersih, nyaman dan kokoh kembali sehingga para penghuninya kelak betah didalamnya” rintihnya dalam setiap doa.

Ia tetap diam dalam renungan, sepi tak berpenghuni, namun justru ini dia bisa beradu kasih dengan pemilik sesungguhnya. Ia tetap diam, pintu dan kuncinya masih sama, memberikan celah bagi yang mau menghuninya bahkan untuk penghuni lamanya yang meninggalkanya, karena dia sudah hafal kunci dan dari pintu mana dia harus masuk ke rumah usang yang diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.