Tak Gamang dalam Gelapnya Arah

Sosok bapak-bapak yang cukup berumur ini saya amati selalu hadir dalam shaft depan masjid kampus ketika saya mampir untuk sembahyang sholat. Entah itu dzuhur ataupun ashar. Memang intensitasku mampir di masjid ini tidak lah sesering dulu. Namun dalam beberapa waktu terakhir selalu kusempatkan untuk mampir sholat ketika adzan berkumandang. Ada beberapa alasan saya suka sholat di masjid kampus ini. Salah satunya karena adem, lantai marmernya membuat bagian dalam masjid menjadi sejuk dan membuat betah para jamaahnya. Agaknya tidak berlebihan ketika saya menobatkan masjid ini menjadi salah satu tempat favorit saya ketika mencari ketenangan.

Waktu itu dzuhur tiba, dan matahari sedang terik-teriknya. Saya yang memang menyibukkan diri setelah lulus, menyempatkan untuk sholat di masjid kampus. Benar sholat berjamaah di masjid diawal waktu memang membuat hati lebih tenang. Bukan berlebihan, atau sok-sokan karena bagi lelaki hal itu memang harus dilakukan demikian.

Bapak cukup umur yang biasa saya lihat ketika saya mampir disini pun seperti biasa, mengisi shaft pertama. Secara natural saya mengamatinya, karena memang hal ini tak lazim seperti kebanyakan. Seorang bapak yang mempunyai keterbatasan penglihatan yang biasa mendagangkan keset dan sulak selalu mampir sholat berjamaah disini. Setidaknya ketika saya mampir saya sering melihat beliau. Subhanallah, semoga bapak ini selalu diberi kekuatan dan keistiqomahan dalam menjalani hidup.

Trenyuh iya, ya begitulah saya, yang sangat melankolis ini. Saya angkat topi dan menaruh hormat yang tinggi kepada orang-orang seperti ini. Beliau bekerja keras dengan tetap berusaha berjualan keset dan sulaknya meskipun  punya keterbatasan penglihatan. Beliau lebih terhortmat dari pada para peminta-minta. Dalam sedikit waktunya, dan gelap akan arah jalannya beliau menyempatkan berhenti sejenak untuk sholat berjamaah. Beliau lebih berderajat dari pada manusia normal yang pura pura buta dan tuli ketika mendengar adzan. Ketika berjalan saja beliau menatapkan kaki langkah demi langkah dan memastikan dengan tongkatnya tidak ada benda penghalang didepannya. Semoga Allah selalu menatapkan langkahnya dalam kebenaran, dan dimudahkan dalam setiap langkahnya.

 

Kali ini mungkin situasi yang lain dan tidak biasa untuk dirinya. Beliau mengajak anak-anaknya untuk keliling berjualan. Ya waktu itu memang masa libur sekolah. Saya melihat senyum kebahagian keluarga ini. Semoga kebahagian selalu tercurah untuk mereka, tak gamang dalam gelapnya arah.

 

One thought on “Tak Gamang dalam Gelapnya Arah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.