Antitesis: Mendapat dan Kehilangan

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri sebuah acara temu almuni Kagama di ecopark ancol. Sudah lama memang saya mengetahui acara ini, dari sebuah flayer yang di broadcast lewat grub di WA. Sebelumnya pernah saya menghadiri acara Kagama serupa yaitu ketika acara buka bersama lalu di hotel Sahid. Waktu itu bareng teman-teman sekantor yang juga alumni UGM. Puas dengan acara (makan-makan) sebelumnya itu membuat saya tidak kapok untuk hadir lagi. hehehe masih jiwa mahasiswa. Bersama teman-teman satu angkatan yang sekarang sudah hijarah di ibukota dan sekitarnya, kami janjian untuk hadir.

Seperti khasnya acara temu alumni, isinya ya kebanyakan ngobrol, makan, dan memutar kembali memori masa kuliah. Kami tergolong alumni termuda dari para alumni yang ada. Setelah beberapa sambutan dari beberapa alumni yang sudah sukses dan jadi pejabat, kita-kita tetap makan yang memang di sediakan khas makanan Jogja.

Acara diakhiri dengan beberapa game dan doorprize. Secara sepontan saya maju kedepan untuk ikut game seru-seruan. Sebuah game menyusun puzzle dari mosaik foto sebuah tempat di Jogja yang dilakukan beregu sebanyak 12 orang. Mosaik foto yang regu kami dapat adalah sebuah Foto Stasiun Tugu. Aturan mainnyapun cukup mudah yaitu hanya cepat-cepatan melawan regu lain menyusun puzzle tersebut. Setelah waktu dimulai, dengan cepatnya mosaik foto itu tersusun, dan ternyata regu kamilah yang menyusunnya dengan waktu tercepat. Saat pembagian hadiah, ternyata hadiah untuk juara pertama adalah sebuah sepeda motor. Alhamdulillah.

Satu persoalan lagi ketika acara selesai, karena satu regu ada 12 orang, kita pun bingung bagaimana membagi hadiah tersebut. Akhirnya saya berinisiatif untuk menjualnya, akhirnya motor itu terjual dan hadiah itu bisa dibagikan ke anggota yang lain.

Lain hari jauh setelah hari itu, ketika saya berangkat kantor. Seperti biasa saya menggunakan jasa angkutan kota Kopaja. Saya yang biasanya bisa berdamai dengan Kopaja, namun tidak untuk pagi ini. Kopaja pagi ini penuh sesak, ditambah lagi ada sindikat penumpang gelap. Agag aneh memang, ketika kernetnya hanya ada di pintu depan saja, dan ada orang yang meminta uangnya di pintu belakang, yang kemudian saya tahu itu bukan kernet nya.

Satu kursi didepan ku kosong karena orang yang duduk di sana barusan turun, saya yakin bisa mendapatkan kursi itu. Tiba-tiba saya di dorong dan tempat duduk tu diserobot oreh seorang yang berbadan cukup lebar. Saya terhimpit antara tubuhnya dan penumpang yang lain. Setelah saya membenarkan posisi berdiri saya, tersadar telepon genggam saya sudah tidak ada di saku celana. Seketika itu saya langsung menanya penumpang gendut yang menyerobot tempat duduk saya tadi. “Mana HP saya?” | dia hanya memberikan sebuah HP kecil yang bukan HP saya, kemudian beberapa saat bersitegang dengan orang itu, dia menjawab “Mas HP mu diambil sama orang yang barusan turun” yang ternyata kernet gelap yang meminta uang di pintu belakang. Setelah itu orang gendut itu turun.

Setelah beberapa lama, ternyata ada juga bapak-bapak yang juga kehilangan telepon genggamnya, ternyata HP bapak itu adalah yang HP kecil dilihatkan orang gendut tadi kepadaku. Ternyata sindikat pencopet HP ini bergerombol dalam satu Kopaja. Belakangan saya ketahui ternyata memang untuk Kopaja trayek ini p.20 jurusan Senen-Lebakbulus terkenal dengan banyak copetnya.

Kejadian ini membuat saya harus lebih waspada ketika berada di angkutan umum, bisa dengan naik lewat pintu depan, menaruh Hp dan dompet di saku depan, atau naik angkutan lain yang lebih ramah karena saya tetap harus bisa berdamai dengan angkutan umum.

Dari dua kejadian antitesis itu saya belajar. Apa yang kita miliki itu sebenarnya bukanlah milik kita yang sebenarnya. Itu hanya titipanNya yang diamanahkan kepada kita, kadang kita diberi tiba-tiba, kadang juga diambil tiba-tiba. Yang kita bisa hanya menjaga amanah itu. Tidak berlebihan menggunakan karena ada hak orang lain juga disana. Belajar ikhlas dan legowo ketika amanah itu diambil, maka kita akan mendapat ganti yang lebih baik.

 

4 thoughts on “Antitesis: Mendapat dan Kehilangan

  1. iya amin pik, semoga cepet bisa move-on meninggalkan kenangan yg hilang bersama HP itu dan
    dapat ganti yang lebih baik
    🙂

  2. iya, kalo naik kopaja mending barang2 berharga dimasukkan ke tas. HP, dompet dimasukkan ke tas. Selain itu, kalo mau naik kopaja biasakan juga sedia uang pas buat bayar ke kernet. Itu sedikt tips sih, hehe. Trus tips lainnya, kalo naik kopaja biasakan jangan bengong, liatin aja penumpang satu per satu

  3. iya mas bener banget, dan lagi kalo bawa tas, tas nya di gendong nya di depan, karena ada pengalaman temen juga barang”nya udah ditaruh di tas namun di gendong dibelakang, tas itu pun di silet sama pencopetnya, dan lenyaplah dompet dan hp nya
    tetap hati hati disegala kondisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.