Pulang dan Pergi

Dua hari yang lalu ada sms teman saya (Fika), ada kabar duka dari teman saya kuliah (Kurnia) bahwa ayahandanya telah tiada. Saya dan Fika terus merencanakan gimana caranya bisa takziah kesana. Rumah Kurnia ada di daerah Gombong/Kebumen,ya kira kira sekitar 150 km dari Yogya. Akhirnya diputuskan untuk naik motor, berangkat pagi jam 6 karena rencana dimakamkan pukul 10.

Mentari
Silih bergantinya siang dan malam, hidup dan mati sudah ada yang mengatur

 

Awalnya jalanan lancar karena masih pagi, namun semakin lama sudah mulai padat merayap karena memang ini H+4 Lebaran orang-orang pada balik ke tempat kerja mereka setelah mudik. Hampir disetiap terminal yang kita lewati penuh dengan antrean. Euforia mudik dan arus balik ini juga terasa oleh ku di jalanan pagi ini. Kalo kata temen saya PAMER SUSU (Padat Merayap, Susul Menyusul).

Berbekal alamat daerah yang sama sekali belum pernah dikunjungi, dan insting, serta guide terbaik (bertanya penduduk setempat) kami akhirnya sampai pas pukul 10 dirumah Jisung (nama samarannya). Lumayan pegel pantat saya hampir 4 jam duduk di jok motor. Ketika itu jenazah sudah diantarkan kemakam, dan kamipun langsung menuju makam menemui Kurnia, memberi bahu untuknya, memberi semangat, meyakinkan bahwa ayahanda akan baik-baik saja di sisiNya, menyemangati segera memberi yang terbaik buat keluarga terutama ibunya bahwa kita bisa lulus bareng besok November.

Kemudian kamipun pamit, dan dikasih tau agar lewat jalur pantai selatan saja karena lebih cepat ya meskipun jalannya tambal sulam. Selepas dzuhur kami pun kembali lewat jalur pinggir pantai selatan dan benar saja jalanan relatif sepi tapi bergelombang penuh tambal sulam. Setelah berjalan hampir 2 jam kita sampai kembali di Jogja.

Pulang dan Pergi
Pergi dan Pulang merupakan siklus kehidupan, dan setiap yang pergi pasti akan kembali

 

Begitulah hidup, silih berganti pagi dan siang, sore dan malam, hidup dan mati sudah ada yang mengatur. Kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepadaNya. Kita hanyalah seorang pengembara kehidupan mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya, dalam perjalanan pun ada lubang dan rintangan yang harus dihadapi, kemudian kita akan berpulang.

Semoga ayahanda Kurnia diterima disisi Nya, diampuni dosanya, dan dilapangkan kuburnya, juga Kunia dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

 

7 thoughts on “Pulang dan Pergi

  1. my deepest condolences :'(

    terus semangat sahabatku
    buat mereka (orang-orang yang menyayangi kita, baik di bumi maupun di langit) bangga
    suatu saat kita juga akan menyusul mereka (orang-orang yang telah mendahului kita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.