Kos 392, “Laboratorium” sederhana kami

Kita akan selalu rindu dengan rumah. Sebuah hunian yang secara natural kita tetapkan sebagai destinasi kembali, entah dari berpergian atau perkelanaan. Tempat yang tidak hanya memberikan keteduhan ketika teriknya siang, kehangatan ketika dinginnya malam. Rumah menjadi bagian penting dalam pertumbuhan kita berserta orang-orang di dalamnya. Entah kenapa selalu ada kekuatan magis bag magnet yang selalu menarik untuk kembali kerumah.

Lain hal bagi para perantau, baik perantau kerja maupun pendulang ilmu di suatu kota. Mereka biasanya menetapkan Kosan sebagai ‘rumah’ sementara mereka. Meskipun tak seluas dan seempuk kasur di rumah sebenarnya, namun kosan bisa menjadikan hunian yang cukup memberikan ruangnya untuk kita singgah, ya setidaknya merebahkan punggung selepas kerja, maupun setelah melahap ilmu di kampus.

Bagi saya, yang notabene anak rumahan, yang kebetulan juga saya berkuliah di kota saya tinggal, saya lebih memilih untuk menempuh pulang pergi setiap hari dari pada harus ngekos. Ya meskipun dengan konsekuensi waktu saya minimal  1 jam/sehari habis dijalan, ditambah uang bensin dan capeknya badan. Ya maklumlah rumah saya bukanlah rumah kota yang deket tempat saya kuliah, melainkan di ujung perbatasan Yogyakarta.

Memasuki pertengahan kuliah, saya berkepikiran untuk ngekos. Pada semester ke 6 saya bersama teman saya Fajar yang juga orang Jogja, rumahnya di kaki Merapi sana, patungan untuk menyewa kosan. Ya setidaknya bisa buat merebahkan badan ketika capek harus pulang dan menyimpan sedikit barang-barang kami yang capek kalau tiap hari harus dibawa bolak balik pulang dan pergi. Namun hanya berlangsung sekitr 4 bulan, kami harus angkat kaki dari kos tersebut, karena kita harus pergi untuk KKN dan sayang kalo bayar cuma akan ditinggal selama 2 bulan. Fajar ke Bangka dan saya ke Malang.

Memasuki masa akhir studi saya, kembali terlintas untuk kembali untuk ngekos. Kali ini alasannya adalah dalam masa-masa akhir begini akan banyak kegiatan penelitain yang sampai malam, dan juga membawa alat-alat yang di bikin akan sangat repot kalo harus dibawa bolak-balik setiap hari. Akhirnya saya dan teman-teman para pejuang skripsi lainya memutuskan untuk menyewa sebuah kamar yang kita sepakat untuk kita jadikan “rumah” kedua kami selama proses skirpsi. Setelah mencari” kos yang murah, parkiran luas dan deket masjid akhirnya dapat deh di lokasi itu yaitu Kos 392 Ibu Aminah. Lokasinya selatan masjid al ashri pogung rejo. Dengan bangganya teman-teman menamainya Pogung Mension 🙂 Sangat sederhana, namun bagi kami ini cukup bisa memberikan ruang untuk kami menjadikan “laboratorium” sederhana yang sangat berjasa bagi perkembangan skripsi kami.

Bukan masalah mewah atau tidaknya menurut kami, di kos tersebut bisa tercipta ruang tanpa batas, kreasi, imajinasi, cerita kesana kemari memberikan kebetahan tersendiri bagi para penghuninya. Dan satu hal yang pasti kos 392 “Pogung Mension” ini telah mengantarkan kami menyelesaikan skripsi kami dan alhamdulillah bisa lulus dengan baik. Terimakasih telah menjadi “laboratorium” sederhana kami dalam mengerjakan skripsi-skripsi kami.

toolbox dan peralatan lain
kasur penuh naskah
kata penyemangat
halaman depan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.