Estafet Pengabdian

Ibu saya (semoga Allah selalu menjaga beliau), Juli lalu memasuki masa pensiun. Beliau adalah seorang guru, abdi negara tanpa tanda jasa. Sebagai seorang pendidik sekaligus pegawai pemerintah, beliau harus pensiun ketika sudah memasuki usia 60. Pengabdian ibu saya diajarkan dari mendiang simbah kakung saya (rahimahullah) yang juga seorang guru sekaligus abdi negara. Bapak saya (semoga Allah selalu menjaga beliau) juga seorang abdi negara, meskipun bukan seorang pendidik. Beliau sudah harus lebih dahulu pensiun 7 tahun yang lalu, diusia beliau 57. Kini status pengbadian kepada negara itu diestafetkan kepada saya, meskipun sebenarnya ini jalan yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Mungkin berkat doa dan harapan kedua orang tua akhirnya saya bisa tembus menjadi seorang abdi negara.

Bukan guru ataupun pegawai administrasi pemerintah daerah seperti kedua orangtua saya, namun saya masuk kedalam sebuah instansi pemerintah nonkementrian yang mempunyai tugas dan fungsi pengkaji terap teknologi. Dari sini, lembaran cerita baru akan dimulai kembali. Tongkat estafet pengabdian itu saya bawa, dan saya harus meninggalkan kampung halaman lagi, sementara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.