Category Archives: Uncategorized

Dikejar Waktu

Aku tak tahu harus mulai dari mana?
Aku tak tahu harus menulis apa?

Ditanganku duka
Ditanganku suka

Lagu cinta ingin kunyanyikan
Namun lidahku kaku hatiku beku

Aku rindu
Aku tak tahu
Lagu cinta dimana kamu?

Mencari apa yang dicari
Menunggu apa yang ditunggu
Aku merasa dikejar waktu

(Lagu Cinta | Iwan Fals)

Pada sebuah adegan, dalam film Sabtu Bersama Bapak yang beberapa waktu lalu saya tonton, tetiba  terdengar lagu latar yang cukup familiar ini.

Hari ini persis, saya berangkat kembali ke perantauan, setelah libur Lebaran yang cukup panjang (2 mingguan). Lidah kaku, dan hati beku nampak begitu nyata. Di stasiun Tugu ketika tahu orang yang ada dalam doa kita ternyata ada disana. Ah ini cuma kebaperan ala stasiun seperti biasanya pikir ku. Tapi benar aku tak tahu harus mulai dari mana? Aku tak tahu harus menulis apa? Akhirnya selepas Purwokerto, di gerbong restorasi ini saya menyudahi lamunan itu.

Mencari apa yang dicari, Menunggu apa yang ditunggu
Aku merasa dikejar waktu

Sesaat lagi memasuki Stasiun Cirebon.

 

Semur Lele

Beberapa waktu lalu selepas pulang kantor, ada pesan singkat ibu saya yang baru belajar menggunakan WhatsApp.

‘Dik, besok libur panjang pulang gag?’. – ibu saya masih tetap memanggil saya dengan Dik, tidak berubah kasih sayang ibu sejak saya kecil dulu.

‘Inggih buk, besok kulo mantuk’- balesku.

‘Mau dimasakkan apa?’ -jarang memang ibu bertanya begini, meskipun sebernya ibu tahu masakan yang pas buat anak-anaknya.

‘Semur lele buk’ – jawabku

‘OK siap’- ibu membalas pungkasan

Dan benar, liburan pun tiba, saya pun pulang ke rumah. Pulang memang membuat kita kembali membumi setelah kita terbang tinggi di perantauan.

Kali ini ada yang istimewa di rumah, ibu sudah menyiapkan ‘semur lele’ khas ibu, dengan bumbu terbaiknya. Tidak perlu kulineran kemana-mana karena di rumah ada masakan khas ibu kita. Ibu kita yang selalu memanggil kita Dik, ibu kita yang takaran sayangnya selalu sama, ibu kita yang bumbu masakannya selalu pas di lidah kita.

Kita hanya perlu mengucapkan terima kasih, dan merundukkan kepala kita di hadapnya, yang beliau selalu pingin memanjakan ataupun dimanjakan oleh kita. Apalagi kini, setelah kita dewasa, saatnya kita membalas segala kebaikannya dengan tidak melupakannya dalam setiap doa kita, dalam setiap interaksi yang baik dengannya, dengan tidak menyakiti perasaannya.

“Ya Rabbi, ampunilah aku, ampunilah kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil”

Semur Lele

“Niki maknyus buk!”- pesan ini aku kirim ke WhatsApp ibu.

Teng GO dan Alternatif Ngopy

Sore selepas ngantor, kali ini pulang teng Go. Memang dalam tiga bulan terakhir siklus kerja saya sudah kembali normal 8-17. Sedikit banyak ada kaitannya dengan harga minyak dunia yang anjlok sehingga banyak perusahaan yang bermain di dunia migas mulai kelimpungan tak terkecuali tempat dimana saya bekerja saat ini. Project pending, hingga cost down dalam segala lini, masih untung tidak ada pengurangan karyawan dan hanya memperketat overtime saja.

Sore ini sesampai di kosan, mendapati pompa air kosan rusak, sehingga krisis air melanda. Selepas isya’ saya mencoba keluar kosan untuk mencari ‘air’. Beruntungnya tempat kosan saya dekat dengan tempat makan dan nongkrong afterwork. Tinggal milih dan jalan mau ke Plaza Festival Epicentrum, atau Setiabudi one.

Kali ini saya memilih Anomali Cafe Setiabudi One. Tempat ini cukup cozy untuk nongkrong afterwork, dengan pilihan kopi khas anomali. Tempat paling cozy adalah pojokan dekat jendela bisa buat mengamati susana luar. Apalagi kalau di luar hujan, sangat pas sekali bagi perenung seperti saya.

Sudah seminggu ini Jakarta mulai diguyur hujan setelah kemarau yang cukup panjang. Hujan memang berkah bagi makhluk bumi, terlihat ranting-ranting mulai kembali menghijau, dan air bisa kembali menghidupi. Namun bisa saja hujan menjadi bencana karena ulah manusia sendiri, membuat tanah-tanah penyerapan menghilang dan diperparah saluran air sungai yang tersumbat. Semoga hujan hujan ini turun dengan berkah-Mu.

Selain Anomali, di Setiabudi One juga ada tempat ngopi lain semisal Starbuck, World Coffe. Untuk Starbuck tidak usah dibahas karena tempat ini jamak dimana-mana. Karena tempat ini selalu rame, saya malas untuk kesini, lagi pula di gedung kantor tempat saya kerja juga ada. Untuk World Coffe baru seminggu lalu saya bersama beberapa teman saya mencobanya. Nampaknya tempat ngopi ini baru dibuka disini. Coffe yang lumayan keras dan harga yang standard, cukup jadi alternatif untuk bisa melek. Susananya juga enak dan gag begitu rame, disediakan juga buku-buka bacaan yang gag biasa.

Kalau lagi tidak ke Setiabudi One, saya memilih Plaza Festival, McD jadi alternatif paling sering saya kunjungi. Selain buka 24 jam, juga tersedia layar lebar untuk menonton pertandingan bola. Namun semenjak berlangganan TV berbayar sendiri saya lebih memilih menonton bola di kosan.

Setidaknya tempat-tempat tadi bisa membuat gairah menulis saya kembali, yang selama ini terkalahkan oleh kasur kosan, setidaknya satu postingan ini 🙂

Ubah dengan bicara

Diskusi sederhana dengan bapak dan ibu sore ini. Ah saya benar benar merindukan momen ini. Ibu seperti biasa menyiapkan bekal sederhana untuk bisa saya bawa. Bapak seperti biasa duduk santai setelah seharian mengurus ternak dan kebun. Mereka nampak bersiap dibanding hari-hari biasanya . Setidaknya sebulan sekali tiap bulannya ketika saya pulang. Mereka bersiap mengantarkan ke depan pintu rumah ketika saya berpamitan untuk kembali merantau ke ibukota. 

Sedikit berbeda sore ini, ibu tampak sedikit gelisah, menunggu jemputan rombongan bus pengajian. Ibu sore ini memang mau mengaji di kota sebelah. Ibu nampak sudah lebih awal menyiapkan bekal. Ketika sore ini saya sudah bersiap untuk pamitan, ada sedikit diskusi sederhana antara Saya, Ibu dan Bapak untuk hari raya kurban yang akan datang. Pembicaraannya pun begitu sederhana, santai hanya membahas bagaimana rencana kurban mendatang, namun saya menemukan momen yang langka ini, momen yang sudah jarang kami lakukan, karena memang jaraklah yang jadi penghalang. 

Saya akhir-akhir ini terngiang-ngiang dengan iklan sebuah provider telekomunikasi, yang mengiklankan pentingnya bicara atau ngobrol, disitu jelas banget situasinya persis yang saya alami pun juga jamak dialami oleh para perantau yang meninggalkan keluarga. Sebuah pesan pentingnya bicara atau ngobrol apalagi dengan ibu. 

Semoga kita masih bisa banyak ngobrol lagi, Ibu. Saya merindukan momen momen itu.

Pergi Untuk Kembali

 

Sejenak mengurai penat di weekend yang biasa. Sudah lama memang tidak bercerita di blog ini.  Mungkin istilahnya para penulis writer’s block.  Tapi entahlah dengan apa yang terjadi pada diri saya yang bukan ‘penulis’ ini, namun jika harus jujur itu memang benar. Saya lihat postingan  terakhir pada awal tahun lalu. Kehilangan sense untuk cerita dan menulis. Memang tidak ada yang bisa begitu untuk di bagi selama ini, saya tidak bervakansi, tidak jalan-jalan, tidak ada hal ‘wah’ yang terjadi. Kebanyakan justru berjalan-jalan untuk mengusir kejenuhan, saya justru jenuh dengan jalan-jalan itu sendiri. Saya kehilangan esensi dari bervakansi, saya sadar diri selama ini saya hanya terobsesi untuk mencari bukan untuk merefleksi.

Seperti lansekap panorama di atas, mungkin itu gambar biasa dan dari tempat yang jamak dikunjungi. Namun dari situ saya justru mau berefleksi untuk apa kita bervakansi. Saya memilih Parangtritis sebagai tempat sejenak me-refresh itu semua. Selain memang sudah lama tidak ke sana juga yang paling terjangkau dari sisi jarak, waktu dan biaya untuk dikunjungi di weekend yang biasa ini. Dari tulisan sederhana dan weekend yang biasa ini semoga saya bisa kembali bisa menulis setelah ini. Selamat berakhir pekan.

Prolog 2015

Hallo 2015

Tahun sudah berganti ke 2015 saja, lalu sudah sampai mana kita melangkah? Mungkin itu sebuah frase yang sering kita dengar ketika pergantian tahun. Dengan waktu yang terus bergulir dan tahun yang terus berganti, memang seharusnya kita harus berfikir sampai mana kita melangkah (dalam hal apapun).

Untuk kasus saya, sampai detik ini saya masih disini, disepetak kubikel yang menjadi keseharian saya. Belum kemana-mana, bahkan sedikit pergerakan pun tidak. Entahlah, mungkin saya hilang arah, hingga tak bisa kemana mana. Seperti seorang pejalan buta yang kehilangan tongkat dan takut meraba.

Kalo boleh bilang setahun kemaren adalah tahun yang berat buat saya. Dalam pekerjaan iya, energi saya terkuras dalam pusaran pekerjaan yang monoton. Saya harus berjibaku untuk bisa survive dalam pekerjaan yang entah ini saya sukai atau tidak. Apakah umur saya hanya akan termakan di sini? Kebingungan itulah yang menghabiskan energi saya. Sampai suatu waktu saya bahkan sampai pada titik untuk menyerah, lalu kalah.

Tapi tidak, hingga saat ini pun saya masih bertahan dan seperti biasa masih dengan rutinitas yang monoton. Hal-hal yang sering bisa menguatkan saya adalah dengan pulang ke rumah, bertemu orang tua dan keluarga. Mungkin doa orang tua saya yang selalu bisa menyuntikkan tambahan energi lagi ketika saya harus kembali bekerja.

Jangan tanya masalah hati , hal itupun tanpa pergerakan berarti. Masih sendiri, bahkan malah semakin terbiasa. Dingin, seperti halnya pekerjaan saya yang monoton. Tapi energi saya justru tidak cukup habis disini, tapi kadang disitu saya merasa sedih.

Rutinitas itu terus bejalan hingga tidak terasa setahun berlalu begitu hampa, tanpa pergerakan, tanpa pencapaian yang cukup berarti.

Ditahun 2015 saya harap ada perubahan besar dalam hidup saya. Pekerjaan yang lebih baik, menemukan tulang rusuk lalu menyempurnakan setengah agama, mengunjungi dua masjid alharam, adalah beberapa agenda besar yang selalu ada dalam list doa saya untuk bisa terwujud ditahun ini. Dan juga harapan-harapan lain yang selalu saya  lantunkan dalam setiap doa. Salah satunya adalah hidup saya semoga bisa lebih bermanfaat lagi bagi sesama. Semoga saya mempunyai cukup banyak energi untuk bisa melakukan perubahan besar ini. Amin, Semoga.

Dibalik Make Up Njagong

Ceritanya lagi mau kondangan ke nikahan Nia dan Fendi di Solo, gag nemu tempat buat dandan, alhasil nunut dandan di SPBU Manahan yang ternyata cukup cozy juga. Tempatnya luas dan ada Cafe di sampingnya.

Dari pada bosen nunggu cewek-cewek dandan iseng-iseng njajal aplikasi Magisto. Menurut saya aplikasi ini cukup simpel dengan menyediakan fitur magis nya tinggal memasukkan footage video maupun foto kemudian akan diolah oleh aplikasi ini, maka jadilah video yang ciamik sesuai yang kita mau. Selain gratis terdapat juga banyak template video maupun backsound nya dan setelah jadi tinggal share ke channel sosial media yang kita mau.

Berikut salah satu hasil dari olahan aplikasi Magisto, yang aplikasinya dapat ditemukan di Google play.

 

Pulang menjemput harap

Kata khotib jumat tadi, harapan harus selalu ada dalam setiap keadaan apapun, meskipun dalam keadaan yang hampir pasti kita mati.

Seorang penyair mengatakan ketika kita jatuh kedalam sungai berarus deras sekalipun yang di dalamnya terdapat buaya dan hewan buas lain disana, kita harus tetap punya harapan meskipun hanya dengan berpegangan dengan ekor ular berbisa sekalipun. Karena bisa jadi ular tersebut yang akan menyelamatkan kita.

Dalam setiap lipatan malam yang gelap jangan pernah berhenti berharap karena Allah akan menghadirkan fajar yang menyingsing yang membawa terang.

Deru mesin jahit mungkin disitu letak harapan para tukang jahit. Suara pintu rolling kios ketika dibuka, disitu mungkin letak harapan warung-warung.

Kurang lebih begitulah khotib jumat memberikan khotbahnya tadi.

Bagi saya bersama deru ular besi ini aku pulang untuk kembali mengisi harapan – harapan yang selalu terkikis dalam rutinitas.

(kerata bogowonto, jumat malam)