Category Archives: Uneg-uneg

Pulang menjemput harap

Kata khotib jumat tadi, harapan harus selalu ada dalam setiap keadaan apapun, meskipun dalam keadaan yang hampir pasti kita mati.

Seorang penyair mengatakan ketika kita jatuh kedalam sungai berarus deras sekalipun yang di dalamnya terdapat buaya dan hewan buas lain disana, kita harus tetap punya harapan meskipun hanya dengan berpegangan dengan ekor ular berbisa sekalipun. Karena bisa jadi ular tersebut yang akan menyelamatkan kita.

Dalam setiap lipatan malam yang gelap jangan pernah berhenti berharap karena Allah akan menghadirkan fajar yang menyingsing yang membawa terang.

Deru mesin jahit mungkin disitu letak harapan para tukang jahit. Suara pintu rolling kios ketika dibuka, disitu mungkin letak harapan warung-warung.

Kurang lebih begitulah khotib jumat memberikan khotbahnya tadi.

Bagi saya bersama deru ular besi ini aku pulang untuk kembali mengisi harapan – harapan yang selalu terkikis dalam rutinitas.

(kerata bogowonto, jumat malam)

Tamu Istimewa yang kedua

Alhamdulillah sudah dua Ramadhan ini saya menjalaninya di tanah rantau. kali ini masih diberi kesempatan untuk menemuinya lagi. Layaknya tamu agung yang datang rutin tiap tahun, yang harus dipersiapkan dan disambut. Ada yang berbeda dengan Ramadhan kali ini karena keriuhannya bercampur dengan adanya Piala dunia dan Pilihan presiden. layaknya distraksi dari keduanya, ketika jenuh akan copras-capres, ada sedikit netralisir dari piala dunia. Setelah keduanya berakhir, kini menyisakan akhir Ramadhan yang khidmat. Namun sendu pun menggelayut di benak umat di seluruh dunia. Saudara kita di Gaza dibantai secara brutal oleh zionis. Anak-anak, wanita dan warga sipil menjadi korban.

Sang tamu agung itu kini sudah akan meninggalkan kita lagi, entah lain waktu apakah bisa bertemu lagi atau tidak, siapa yang tau?. Yang kita bisa adalah memeluk erat  tamu agung itu sebelum berpamitan dan berharap dipertemukan lagi dilain waktu.

Kita hanya perlu waktu lebih lama untuk terjaga diwaktu malam mengobrol dengan Nya, perlu lebih banyak berdiri untuk sholat malam, perlu lebih teliti dan giat dalam membaca kitabNya, perlu lebih banyak air mata untuk minta ampunanNya, perlu lebih banyak uang yang kita sedekahkan, perlu lebih banyak senyum untuk kita tebar ke sesama, perlu lebih banyak maaf yang kita berikan, perlu lebih banyak dzikir yang kita lantunkan, …

Semoga kita mendapatkan keberkahan dari tamu agung yang datang ini, dengan menjadikan kita kembali menjadi manusia yang fitrah manusiawinya.

Melarikan Diri dengan Buku

Beberapa waktu lalu saya pergi ke sebuah toko buku di daerah Semanggi. Mungkin saya lagi drop, semangat saya lagi mlempem sehingga saya memilih melarikan diri ke sana dari pada berdiam diri di kosan. Rak-rak buku itu saya susuri satu demi satu. Sudah agag lama memang saya tidak melakukan aktifitas seperti ini. Menyendiri di kerumunan buku dan para penikmat buku lain dalam suasana relatif sepi khas toko buku. Saya cuma membaca-baca sepintas sampul buku, dan sedikit membaca buku yang kebetulan memang sudah terbuka sampul plastiknya.

Dalam salah satu rak buku bacaan novel dan motivasi saya menemukan buku yang cukup ringan dibaca dan menarik untuk saya ambil. Kebetulan ada yang sudah tidak bersampul plastik. Saya melihat sepintas nampaknya tidak ada salahnya saya membawanya pulang, karena memang saya lagi butuh nutrisi bacaan yang memotivasi namun ringan dibaca. Buku itu berjudul Catatan Pagi Hari ditulis oleh Fitri Sudjarwadi. Buku yang belakangan saya tahu itu merupakan sekumpulan catatan penulis yang di posting di blognya. Selain membawa pulang buku tadi saya juga membeli satu buku lain berjudul Kematian adalah Nikmat karya Quraish Shihab. Agag berat memang, namun saya rasa cukup menarik dan bermanfaat.

Buku pertama saya habiskan tidak lama, sepulang dari toko buku itupun saya mampir disebuah warung makan cepat saji yang kebetulan ada nonbar bola tim favorit. Sambil menunggu pertandingan, sudah habis sepertiga buku saja. Setelahnya saya selesaikan buku itu di kereta perjalanan Jakarta-Jogja weekend lalu. Isi bukunya cukup sederhana yang menceritakan pengalaman pribadi penulis dengan ada bumbu inspirasinya.

Berbeda dengan buku kedua, buku yang cukup berat ini perlu waktu khusus untuk mebaca dan mencernanya. Memang tipikal saya kalo membaca tidak bisa cepat, saya seringnya mengeja kata demi kata sambil berimajinasi arti kata dalam kalimat tersebut. Itu yang membuat bebeapa buku yang saya beli tidak katam saya baca. Meskipun saya belum selesai membaca buku kedua ini, saya sudah setuju dengan buku ini bahwa kita harus menikmati kematian, bukanya malah takut menghindar, karena kematian itu adalah sebuah keniscayaan. Selanjutnya kehidupan didunia ini kita harus menyiapkan bekal untuk menjalani fase setelah kematian. Dalam buku ini dijabarkan secara gamblang hakekat hidup, mati dan segala proses evolusi perjalanan panjang manusia. Dijelaskan pula mengenai pandangan” yang keliru mengenai hidup dan mati.

Memang saya belum selesai membacanya, namun ketika sampai disalah satu halamannya saya teringat postingan terbaru dari Topx tentang Through Struggle yang saya duga itu kisah dirinya. Berikut akan saya kutipkan dari beberapa paragraf dalam buku itu yang menurut saya menarik. Mengenai jawaban dari Abbas al-‘Aqqad seorang cendekiawan Mesir kenamaan  ketika ditanya oleh salah seorang mahasiswa yang baru saja diwisudanya mengenai langkah apa yang harus ditempuh setelah lulus itu.

Teruslah berjalan dan berjalan. Janganberhenti berjalan. Kalau perjalanan meletihkanmu, maka duduklah, dan bila engkau duduk lihatlah ke belakangmu, apa yang telah engkau lakukan dan apa pula yang telah engkau persembahkan. Kalau engkau tidak menemukan sesuatu yang telah engkau hasilkan, maka lanjutkan lagi perjalananmu dan bila engkau letih, duduk lagi untuk melakukan instrospeksi dan jangan pernah berhenti bertanya: Apakah engkau telah memilih jalan yang benar, apakah jalan yang kau pilih itu telah menjadikanmu sesuatu yang berarti? Apakah jalan yang engkau lalui datar ataukah penuh dengan rintangan?Apakah engkau menemukan dirimu melompat dari hambatan jalan?Apakah engkau memperhatikan kakimu ketika sedang berjalan?Apakah engkau menggambar pohon atau mengikut pandanganmu ke arah burung yang sedang terbang? Apakah engkau melihat langit dan bertanya: Apa yang berada di atas kita ini? apakah engkau punya peranan? apakah engkau dibutuhkan? kalau itu tidak engkau lakukan dalam hidupmu, maka tidak perlu lagi engkau melanjutkan langkah. (Kematian adalah nikmat, p.37)

Weekend yang tak biasa

Sebagai pekerja, kegiatan saya begitu template yaitu kerja dari Senin sampai Jumat, dan weekend adalah pengecualiannya. Sehingga weekend menjadi waktu yang paling pas untuk memanjakan diri. Kadang saya manja untuk berdiam diri di kamar kosan, kadang juga saya manja untuk bermain futsal bareng teman kantor, dan kadang lain saya memanjakan rindu saya untuk pulang ke rumah, tilik orang tua. Sehingga weekend itupun sudah menjadi variasi template kegiatan tersendiri.

Setelah berbulan-bulan template itu menjadi pola tersendiri  sehingga saya mulai merasakan kerinduan yang lain, mungkin aku butuh piknik. Aku perlu menganti template itu, aku perlu menjalani weekend yang tak biasa.

Akhir January lalu saya gabung dengan segerombolan orang-orang yang mungkin juga sama seperti saya, butuh piknik. Saya bergabung dalam open trip ke suku Baduy Dalam di Lebak Banten. Sengaja saya sendirian bergabung dengan orang-orang yang belum kukenal sebelumnya. Tujuannya memang saya ingin suasana baru. Terangkum cerita dari sana, saya dapat kenalan baru, teman baru. Dari perjalana akhir pekan yang cukup singkat itupun saya kemudian tahu ternyata masih ada sekelompok orang yang lokasinya relatif dekat dengan kemewahan ibukota, mereka memilih untuk mempertahankan kearifan lokal mereka. Hidup dengan tidak mengadopsi budaya luar mentah-mentah, bahkan listrik pun tidak ada. Disana saya ikut merasakan salah satu kehidupan etnic keseharian mereka, mandi di kali dengan air yang masih jernih. It was fun.

Perjalanan weekend yang tak biasa yang lain, awal bulan Maret lalu saya ikut dalam sebuah trip yang diadakan oleh teman-teman kantor lama saya. Kali ini motivasi pertama saya adalah bisa menjaga silaturahmi dengan teman kerja lama saya. Pulau Pari adalah tujuannya, di sini saya bisa melepaskan diri dari kebisingan ibukota. Jalan-jalan keliling pulau pake sepeda, bersantai dibawah pohon dipinggir pantai sambil hammock-an. Main sepak bola pantai sama anak-anak setempat. Hemt cukup menyenangkan.

Dua Minggu lalu ada acara semacam outdoor activity sama teman-teman kantor. Tempatnya di Taman buah Mekarsari. Berkebun yang sebenarnya itu hal biasa di rumah saya, namun karena mungkin di Jakarta ini memang udah jarang ada kebun, aktivitas itu pun menjadi hal yang cukup menarik. Saya mengikuti serangkaian acara bareng teman kantor yang isinya cuma seru-seruan sekejap melupakan pekerjaan. Rumah pohon dan kawasan yang memang berkonsep kebun ini cukup pas untuk sekedar melarikan diri dari hiruk pikuk Jakarta.

Bagaiamana dengan akhir pekan kalian?

Jaga kesehatan kenali pertanda

Dua hari lalu saya demam tinggi, mungkin ini pertama kalinya ketika saya berada di perantauan. Tidak enak memang kondisi badan sedang menurun harus tetap berangkat kerja. Pagi hari badan sudah memberi signal ada yang tidak beres dengan tubuh ini. Awak ini sudah sedikit memanas namun saya pikir ini cuma lapar belum sarapan. Lantas saya bersiap berangkat kerja seperti biasa

Memang  sehari sebelumnya tenggorokan juga sudah mengirim tanda, ketika itu sehabis jajan es buah, tenggorokan merasakan sedikit meradang dan batuk. Ada yang tidak beres dengan diri saya ini pikir saya.

Setiba di tempat kerja tubuh langsung dihajar dengan AC sesiangan, badan semakin menggigil. Lesu dan pening di kepala. Pikiran sudah tidak bisa fokus di tempat kerja, bawaannya pengen pulang. Namun tidak, teman saya menyarankan untuk periksa ke dokter.

Selepas jam kantor buru-buru saya menuju sebuah rumah sakit di daerah Manggarai. Tibalah saya disana, langsung daftar dan antri. Tidak begitu lama, dapat giliran, dan diagnosis awal dokter adalah saya demam tinggi, mungkin gejala typus. Untuk kali ini diberi resep obat dulu dan direkomendasi untuk istirahat sehari esok. Bila dalam dua hari kedepan demam tidak turun di saranin untuk cek darah.

Saya nanya ke dokter sebenernya gejala typus itu bagaimana? memang hampir mirip dengan yang saya rasakan  yaitu demam tinggi semakin tinggi terutama pada sore dan malam hari terjadi 7-10 hari, umumnya pagi hari nya sudah merasa sehat kembali namun ketika menjelang malam kondisi menurun lagi, badan lemas, mual, infeksi tenggorakan, dan sembelit.

Alhamdulillah setelah istirahat seharian dan minum obat sesuai resep dokter badan saya kini sudah membaik, saya harap ini bukan typus namun hanya lelah biasa. Obat yang diberikan diataranya antibiotik (lapiflox), paracetamol (meredakan rasa sakit kepala dan demam) ,cetirizine (anthytasmin/obat demam).

Hikmahnya, kenali kondisi diri karena yang tau keadaan kita adalah diri kita sendiri, ketika merasa sesuatu ada yang tidak beres segera periksakan ke dokter dan istirahat yang cukup, jaga pola makan juga banyak minum air putih.

Pelarian Setelah Jam Kerja

Sudah lebih dari satu semester ini saya menjalani aktivitas di perusahaan baru. Di tempat saya bekerja yang sekarang aktivitas hampir seluruhnya dihabiskan di depan komputer di dalam kotak kubikel. Bisa dibayangkan jam 8-18 setiap harinya rutinitas itu yang selalu dijalani. Saya teringat sebuah perkataan seorang teman saya akan pentingnya ‘manajemen pantat’. Entah apa sebenarnya maksutnya namun saya mengartikannya kita harus pintar pintar menjaga mood kita agar pantat kita nyaman duduk berlama-lama. Kalau teman saya memakainya dalam sebuah aktivitasnya di pondok dengan duduk mendengarkan kyainya, saya memakainya dalam pekerjaan sehari-hari saya di kantor.

Saya sedikit diuntungkan karena letak kantor saya berada di tengah ibukota, yang artinya ketika mencari sesuatu kemungkinan akan mudah ditemukan disini. Saya memanfaatkannya untuk mengisi aktivitas selepas kerja saya, ya itung-itung untuk melepas penat seharian. Suatu waktu saya bisa berjalan ke Goethe Institut sebuah pusat kebudayaan Jerman yang sering mengadakan acara yang anti mainstream. Kadang mendatangkan musisi kolaborasi Jerman-Indonesia dalam Serambi Jazz nya, atau memutar film yang blogbuster dalam ArtCinemanya.

Diwaktu yang lain saya bisa melarikan diri ke @america sebuah semacam galery kebudayaan milik America. Disini saya sering menikmati acara yang disuguhkannya yang gag kalah keren. Saya biasa duduk di depan sendiri ketika Float atau Aditia Sofyan mengisi acara bergantian, atau ketika Payung Teduh membanjiri lagu-lagu sendunya. Bahkan ketika Dik Doank bersama Kandank Jurank DoanK nya tampil penuh semangat saya antusias disana. Tidak hanya musik, film dan talkshow juga ada. Saya masih begitu ingat ketika Rene Suhardono bicara tentang apa itu passion.

Dikesempatan yang lain juga saya memilih berjalan ke Erasmus Huis, Kedutaan Belanda yang letaknya persis di depan kantor saya. Ketika ada acara open dinner lumayan bisa makan gratis di sana. Atau ketika ada Festival Film Dokumenter saya begitu menikmati sajian film-film dokumenter dari penjuru dunia. Ketika kita menggali sejarah Indonesia, pastinya tidak lepas dengan negeri Belanda. Pamparan foto sejarah Kereta Api Indonesia pernah dipajang di sana.

Jika tidak itu semua, saya memilih untuk duduk menikmati kopi. Kadang sendiri itu bisa lebih membuat hati kita menjadi lebih perasa. Luwes menikmati suasana dan mengamati sekitar. Berpikir kedalam diri sedang apa saya di sini, mengapa saya di sini dan kemana setelah ini itu kadang juga perlu. Jika kita berkaca pada cermin yang besarpun mungkin kita tidak bisa melihat diri kita, mungkin dengan melihat sekitar kita bisa tau diri kita.

Antitesis: Mendapat dan Kehilangan

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri sebuah acara temu almuni Kagama di ecopark ancol. Sudah lama memang saya mengetahui acara ini, dari sebuah flayer yang di broadcast lewat grub di WA. Sebelumnya pernah saya menghadiri acara Kagama serupa yaitu ketika acara buka bersama lalu di hotel Sahid. Waktu itu bareng teman-teman sekantor yang juga alumni UGM. Puas dengan acara (makan-makan) sebelumnya itu membuat saya tidak kapok untuk hadir lagi. hehehe masih jiwa mahasiswa. Bersama teman-teman satu angkatan yang sekarang sudah hijarah di ibukota dan sekitarnya, kami janjian untuk hadir.

Seperti khasnya acara temu alumni, isinya ya kebanyakan ngobrol, makan, dan memutar kembali memori masa kuliah. Kami tergolong alumni termuda dari para alumni yang ada. Setelah beberapa sambutan dari beberapa alumni yang sudah sukses dan jadi pejabat, kita-kita tetap makan yang memang di sediakan khas makanan Jogja.

Acara diakhiri dengan beberapa game dan doorprize. Secara sepontan saya maju kedepan untuk ikut game seru-seruan. Sebuah game menyusun puzzle dari mosaik foto sebuah tempat di Jogja yang dilakukan beregu sebanyak 12 orang. Mosaik foto yang regu kami dapat adalah sebuah Foto Stasiun Tugu. Aturan mainnyapun cukup mudah yaitu hanya cepat-cepatan melawan regu lain menyusun puzzle tersebut. Setelah waktu dimulai, dengan cepatnya mosaik foto itu tersusun, dan ternyata regu kamilah yang menyusunnya dengan waktu tercepat. Saat pembagian hadiah, ternyata hadiah untuk juara pertama adalah sebuah sepeda motor. Alhamdulillah.

Satu persoalan lagi ketika acara selesai, karena satu regu ada 12 orang, kita pun bingung bagaimana membagi hadiah tersebut. Akhirnya saya berinisiatif untuk menjualnya, akhirnya motor itu terjual dan hadiah itu bisa dibagikan ke anggota yang lain.

Lain hari jauh setelah hari itu, ketika saya berangkat kantor. Seperti biasa saya menggunakan jasa angkutan kota Kopaja. Saya yang biasanya bisa berdamai dengan Kopaja, namun tidak untuk pagi ini. Kopaja pagi ini penuh sesak, ditambah lagi ada sindikat penumpang gelap. Agag aneh memang, ketika kernetnya hanya ada di pintu depan saja, dan ada orang yang meminta uangnya di pintu belakang, yang kemudian saya tahu itu bukan kernet nya.

Satu kursi didepan ku kosong karena orang yang duduk di sana barusan turun, saya yakin bisa mendapatkan kursi itu. Tiba-tiba saya di dorong dan tempat duduk tu diserobot oreh seorang yang berbadan cukup lebar. Saya terhimpit antara tubuhnya dan penumpang yang lain. Setelah saya membenarkan posisi berdiri saya, tersadar telepon genggam saya sudah tidak ada di saku celana. Seketika itu saya langsung menanya penumpang gendut yang menyerobot tempat duduk saya tadi. “Mana HP saya?” | dia hanya memberikan sebuah HP kecil yang bukan HP saya, kemudian beberapa saat bersitegang dengan orang itu, dia menjawab “Mas HP mu diambil sama orang yang barusan turun” yang ternyata kernet gelap yang meminta uang di pintu belakang. Setelah itu orang gendut itu turun.

Setelah beberapa lama, ternyata ada juga bapak-bapak yang juga kehilangan telepon genggamnya, ternyata HP bapak itu adalah yang HP kecil dilihatkan orang gendut tadi kepadaku. Ternyata sindikat pencopet HP ini bergerombol dalam satu Kopaja. Belakangan saya ketahui ternyata memang untuk Kopaja trayek ini p.20 jurusan Senen-Lebakbulus terkenal dengan banyak copetnya.

Kejadian ini membuat saya harus lebih waspada ketika berada di angkutan umum, bisa dengan naik lewat pintu depan, menaruh Hp dan dompet di saku depan, atau naik angkutan lain yang lebih ramah karena saya tetap harus bisa berdamai dengan angkutan umum.

Dari dua kejadian antitesis itu saya belajar. Apa yang kita miliki itu sebenarnya bukanlah milik kita yang sebenarnya. Itu hanya titipanNya yang diamanahkan kepada kita, kadang kita diberi tiba-tiba, kadang juga diambil tiba-tiba. Yang kita bisa hanya menjaga amanah itu. Tidak berlebihan menggunakan karena ada hak orang lain juga disana. Belajar ikhlas dan legowo ketika amanah itu diambil, maka kita akan mendapat ganti yang lebih baik.

 

Mandilah nak!

Kukabarkan pada kalian, sebuah nasehat orangtua saya ketika capek. Orang tua saya selalu menyuruh saya mandi. Iya mandi, mengguyur seluruh badan menggunakan air. Katanya capeknya bakalan ilang, dan badan akan segar kembali.

Nasihat ini hampir terlupakan olehku, karena memang sekarang  sudah tidak tinggal lagi dengan mereka. Tidak ada lagi yang mengingatkan untuk selalu mandi. Masih membekas diingatan saya, ketika pulang sekolah sewaktu SD dulu, badan saya basah kuyup karena kehujanan, ibu saya memanasin air untuk mandi, katanya ” Mandilah nak, biar gag sakit“. Atau lagi ketika sesorean saya main sepak bola pulang-pulang menjelang maghrib dengan belepotan, bapak saya menyambut “Wes langsung adus wae ben kesele ilang“.

Ketika sudah masuk sekolah atas pun nasehat itu tetep sama, ketika saya pulang sore sehabis les, sambutan mereka tetap sama, “Mandi sana, guyur badanmu, biar seger“.

Kini, nasehat yang simple yang kadang saya males malesan melakukannya ini tiba-tiba saya rindukan kembali. Saat saya harus merantau dan tidak tinggal bersama mereka. Setiap pulang kerja dengan tubuh letih, tergeletak dikasur kamar kosan, tidak ada sambutan lagi, “Mandi dulu nak, biar badanmu segar“.

Sekarang saya merasakan nasehat sederhana yang kadang malas menjalani nya ini. Mandi, iya mandi. Mandi memang menyegarkan dengan sembari mengingat mereka dan nasehat mereka badan ini kembali berenergi lagi. Ingin rasanya mengabarkan pada mereka “Pak, bu, saya sudah bisa ‘mandi’ sendiri

Lembar baru 1435 H

Dalam kalender Islam, hari ini adalah tahun baru 1435H

Bukan goresan tinta hitam, namun kertas putih kosong yang saya harap saat ini

Lembaran baru, untuk siap mencatatkan tinta emas di hari-hari baru

Tafakur, intropeksi, dan perbaikan

Menata kembali diri yang terserak, terabaikan waktu

Semoga selalu menjadi lebih baik

Lebaran yang tak selalu sama

“Semoga diterima ibadahku dan ibadahkalian” –Taqobalallahuminawamingkum

Idul Fitri 1434H

Selalu ada cerita disetiap lebaran, entah lebaran itu sendiri atau moment turunanya yang setiap taun mengekor bahkan menjadi tradisi tersendiri yang membarenginya. Mudik salah satunya, bisa diartikan menuju ke udik, dengan kata lain berarti Pulang Ke Kampung.  Bak laron dimusim hujan, ketika hujan reda laron- laron bertebaran keluar sarang. Musim mudik tiba, para kaum urban maupun transmigran berduyung duyung pulang ke kampung halaman.

Pulang, menjadi salah satu bagian dari sebuah perjalanan. Karena berpergian akan menjadi berarti ketika kita pulang. Mudik merupakan salah satu tahapan dari sebuah perjalanan itu sendiri, yaitu pulang ke kampug halaman setelah sekian lama melakukan perjalanan kehidupan peraduan nasib di tempat yang dipandangnya bisa memberikan penghidupan. Baru kali ini saya merasakan mudik, karena baru pada tahun ini saya keluar dari kota saya, bermigrasi kekota lain menjadi kaum urban menjemput rizkiNya.

Ada kekhasan disetiap Hari raya idul fitri, perayaan sederhana ala keluarga kami. Setahun memang panjang, banyak kejadian yang sudah terjadi dalam setahun tersebut. Suasana lebaran pun akan berbeda tiap tahunnya, anggota keluarga ada yang bertambah maupun berkurang. Hal ini yang membuat sedikit sendu lebaran kami tahun ini. Kekuarga besar kami sudah tidak lengkap lagi. Tidak seperti biasanya, meskipun juga ada penambahan anggota keluarga. Yah begitulah takdir Tuhan, Allah azzawajala mempergilirkan waktu siang dan malam, hidup dan mati agar manusia bisa mengambil pelajaran. Setidaknya kita masih bisa ketemu bulan Ramadhan dan juga merayakan hari raya idul fitri tahun ini. Sangat wajib disyukuri. Tahun depan? Entahlah wallahualam, semoga dipertemukan lagi.

Sebuah tradisi ketika lebaran tiba, kita berkunjung kesanak famili kita, bersilaturahmi menjalin kembali persaudaraan yang hari hari biasa tidak sempat bahkan sekedar saling sapa karena berbagaia alasan sok sibuk kita. Sebuah kearifan lokal kita, yang sudah membumi. Meskipun sebaiknya kearifan ini tidak hanya dirayakan setahun sekali ketika lebaran saja, sebaiknya kita membawanya didalam berbagai kesempatan, kekehidupan sehari hari. Alangkah menyenangkan ketika lebaran tiba, semua berubah menjadi pemaaf, dan ikatan kembali terekat.

Tetapi mau gag mau saya harus segera beranjak dari keasrian rumah, dari kehangatan keluarga. Waktu libur saya telah habis, saya harus kembali lagi menjadi kaum-kaum urban melanjutkan peraduan nasib di kota lain. Ya beginilah cerita lebaran tahun ini, selalu ada cerita tersendiri disetiap lebaran, semoga masih ada cerita lebaran di tahun depan 🙂