Category Archives: Uneg-uneg

Dikejar Waktu

Aku tak tahu harus mulai dari mana?
Aku tak tahu harus menulis apa?

Ditanganku duka
Ditanganku suka

Lagu cinta ingin kunyanyikan
Namun lidahku kaku hatiku beku

Aku rindu
Aku tak tahu
Lagu cinta dimana kamu?

Mencari apa yang dicari
Menunggu apa yang ditunggu
Aku merasa dikejar waktu

(Lagu Cinta | Iwan Fals)

Pada sebuah adegan, dalam film Sabtu Bersama Bapak yang beberapa waktu lalu saya tonton, tetiba  terdengar lagu latar yang cukup familiar ini.

Hari ini persis, saya berangkat kembali ke perantauan, setelah libur Lebaran yang cukup panjang (2 mingguan). Lidah kaku, dan hati beku nampak begitu nyata. Di stasiun Tugu ketika tahu orang yang ada dalam doa kita ternyata ada disana. Ah ini cuma kebaperan ala stasiun seperti biasanya pikir ku. Tapi benar aku tak tahu harus mulai dari mana? Aku tak tahu harus menulis apa? Akhirnya selepas Purwokerto, di gerbong restorasi ini saya menyudahi lamunan itu.

Mencari apa yang dicari, Menunggu apa yang ditunggu
Aku merasa dikejar waktu

Sesaat lagi memasuki Stasiun Cirebon.

 

Reborn duapuluh enam belas

Tidak terasa sudah berganti tahun lagi. Ya begitulah waktu, diam tapi pasti terus berputar tanpa kita sadar. Duapuluh lima belas lalu tidak banyak hal yang spesial terjadi. Mengalir begitu saja apa adanya. Pun dengan cerita di blog ini tidak banyak bertambah.

Berganti detik, jam, hari, bulan dan tahun adalah keniscayaan. Namun berubah menjadi lebih baik adalah keharusan, jika kita tidak ingin menjadi orang yang rugi kan?. Duapuluh enam belas ini ada satu harapan besar, yang mungkin menjadi titik balik atau justru awalan baik untuk menapaki hidup di waktu-waktu selanjutnya. Menggenapkan yang separuh, menemukan yang belum utuh. Semoga dimudahkan.

Awal tahun ini, blog ini sempat tidak dapat diakses. Ternyata penyedia hosting tidak dapat dihubungi guna perpanjangan sewanya. Mas Deptz sudah melakukan beberapa cara untuk menghubungi penyedia hosting tersebut, namun selalu tanpa respons. Pelajaran keempat puluh tujuh, jika kita mempunyai website ataupun blog yang menggunakan hosting berbayar, pastikan penyedia hosting, ataupun pengelola website anda bisa terus dihubungi.

Pada prosesnya akhirnya blog ini bisa mengudara lagi. Sudah sempat bingung karena tidak punya backupan postingan yang sudah saya tuliskan di blog ini. Pelajaran keempat puluh delapan, jangan lupa backup secara berkala website/ blog kita. Kalo di wordpress ada fungsi tools>export.

Selamat memulai hidup baru setiap harinya, bersamaan dengan bergantinya tahun ini, juga blog sudah bisa diakses kembali saya ingin berganti suasana dengan theme blog yang baru. Selamat kembali membaca, menulis dan berbagi, semoga lebih bermanfaat.

Teng GO dan Alternatif Ngopy

Sore selepas ngantor, kali ini pulang teng Go. Memang dalam tiga bulan terakhir siklus kerja saya sudah kembali normal 8-17. Sedikit banyak ada kaitannya dengan harga minyak dunia yang anjlok sehingga banyak perusahaan yang bermain di dunia migas mulai kelimpungan tak terkecuali tempat dimana saya bekerja saat ini. Project pending, hingga cost down dalam segala lini, masih untung tidak ada pengurangan karyawan dan hanya memperketat overtime saja.

Sore ini sesampai di kosan, mendapati pompa air kosan rusak, sehingga krisis air melanda. Selepas isya’ saya mencoba keluar kosan untuk mencari ‘air’. Beruntungnya tempat kosan saya dekat dengan tempat makan dan nongkrong afterwork. Tinggal milih dan jalan mau ke Plaza Festival Epicentrum, atau Setiabudi one.

Kali ini saya memilih Anomali Cafe Setiabudi One. Tempat ini cukup cozy untuk nongkrong afterwork, dengan pilihan kopi khas anomali. Tempat paling cozy adalah pojokan dekat jendela bisa buat mengamati susana luar. Apalagi kalau di luar hujan, sangat pas sekali bagi perenung seperti saya.

Sudah seminggu ini Jakarta mulai diguyur hujan setelah kemarau yang cukup panjang. Hujan memang berkah bagi makhluk bumi, terlihat ranting-ranting mulai kembali menghijau, dan air bisa kembali menghidupi. Namun bisa saja hujan menjadi bencana karena ulah manusia sendiri, membuat tanah-tanah penyerapan menghilang dan diperparah saluran air sungai yang tersumbat. Semoga hujan hujan ini turun dengan berkah-Mu.

Selain Anomali, di Setiabudi One juga ada tempat ngopi lain semisal Starbuck, World Coffe. Untuk Starbuck tidak usah dibahas karena tempat ini jamak dimana-mana. Karena tempat ini selalu rame, saya malas untuk kesini, lagi pula di gedung kantor tempat saya kerja juga ada. Untuk World Coffe baru seminggu lalu saya bersama beberapa teman saya mencobanya. Nampaknya tempat ngopi ini baru dibuka disini. Coffe yang lumayan keras dan harga yang standard, cukup jadi alternatif untuk bisa melek. Susananya juga enak dan gag begitu rame, disediakan juga buku-buka bacaan yang gag biasa.

Kalau lagi tidak ke Setiabudi One, saya memilih Plaza Festival, McD jadi alternatif paling sering saya kunjungi. Selain buka 24 jam, juga tersedia layar lebar untuk menonton pertandingan bola. Namun semenjak berlangganan TV berbayar sendiri saya lebih memilih menonton bola di kosan.

Setidaknya tempat-tempat tadi bisa membuat gairah menulis saya kembali, yang selama ini terkalahkan oleh kasur kosan, setidaknya satu postingan ini 🙂

Ubah dengan bicara

Diskusi sederhana dengan bapak dan ibu sore ini. Ah saya benar benar merindukan momen ini. Ibu seperti biasa menyiapkan bekal sederhana untuk bisa saya bawa. Bapak seperti biasa duduk santai setelah seharian mengurus ternak dan kebun. Mereka nampak bersiap dibanding hari-hari biasanya . Setidaknya sebulan sekali tiap bulannya ketika saya pulang. Mereka bersiap mengantarkan ke depan pintu rumah ketika saya berpamitan untuk kembali merantau ke ibukota. 

Sedikit berbeda sore ini, ibu tampak sedikit gelisah, menunggu jemputan rombongan bus pengajian. Ibu sore ini memang mau mengaji di kota sebelah. Ibu nampak sudah lebih awal menyiapkan bekal. Ketika sore ini saya sudah bersiap untuk pamitan, ada sedikit diskusi sederhana antara Saya, Ibu dan Bapak untuk hari raya kurban yang akan datang. Pembicaraannya pun begitu sederhana, santai hanya membahas bagaimana rencana kurban mendatang, namun saya menemukan momen yang langka ini, momen yang sudah jarang kami lakukan, karena memang jaraklah yang jadi penghalang. 

Saya akhir-akhir ini terngiang-ngiang dengan iklan sebuah provider telekomunikasi, yang mengiklankan pentingnya bicara atau ngobrol, disitu jelas banget situasinya persis yang saya alami pun juga jamak dialami oleh para perantau yang meninggalkan keluarga. Sebuah pesan pentingnya bicara atau ngobrol apalagi dengan ibu. 

Semoga kita masih bisa banyak ngobrol lagi, Ibu. Saya merindukan momen momen itu.

Pergi Untuk Kembali

 

Sejenak mengurai penat di weekend yang biasa. Sudah lama memang tidak bercerita di blog ini.  Mungkin istilahnya para penulis writer’s block.  Tapi entahlah dengan apa yang terjadi pada diri saya yang bukan ‘penulis’ ini, namun jika harus jujur itu memang benar. Saya lihat postingan  terakhir pada awal tahun lalu. Kehilangan sense untuk cerita dan menulis. Memang tidak ada yang bisa begitu untuk di bagi selama ini, saya tidak bervakansi, tidak jalan-jalan, tidak ada hal ‘wah’ yang terjadi. Kebanyakan justru berjalan-jalan untuk mengusir kejenuhan, saya justru jenuh dengan jalan-jalan itu sendiri. Saya kehilangan esensi dari bervakansi, saya sadar diri selama ini saya hanya terobsesi untuk mencari bukan untuk merefleksi.

Seperti lansekap panorama di atas, mungkin itu gambar biasa dan dari tempat yang jamak dikunjungi. Namun dari situ saya justru mau berefleksi untuk apa kita bervakansi. Saya memilih Parangtritis sebagai tempat sejenak me-refresh itu semua. Selain memang sudah lama tidak ke sana juga yang paling terjangkau dari sisi jarak, waktu dan biaya untuk dikunjungi di weekend yang biasa ini. Dari tulisan sederhana dan weekend yang biasa ini semoga saya bisa kembali bisa menulis setelah ini. Selamat berakhir pekan.

Prolog 2015

Hallo 2015

Tahun sudah berganti ke 2015 saja, lalu sudah sampai mana kita melangkah? Mungkin itu sebuah frase yang sering kita dengar ketika pergantian tahun. Dengan waktu yang terus bergulir dan tahun yang terus berganti, memang seharusnya kita harus berfikir sampai mana kita melangkah (dalam hal apapun).

Untuk kasus saya, sampai detik ini saya masih disini, disepetak kubikel yang menjadi keseharian saya. Belum kemana-mana, bahkan sedikit pergerakan pun tidak. Entahlah, mungkin saya hilang arah, hingga tak bisa kemana mana. Seperti seorang pejalan buta yang kehilangan tongkat dan takut meraba.

Kalo boleh bilang setahun kemaren adalah tahun yang berat buat saya. Dalam pekerjaan iya, energi saya terkuras dalam pusaran pekerjaan yang monoton. Saya harus berjibaku untuk bisa survive dalam pekerjaan yang entah ini saya sukai atau tidak. Apakah umur saya hanya akan termakan di sini? Kebingungan itulah yang menghabiskan energi saya. Sampai suatu waktu saya bahkan sampai pada titik untuk menyerah, lalu kalah.

Tapi tidak, hingga saat ini pun saya masih bertahan dan seperti biasa masih dengan rutinitas yang monoton. Hal-hal yang sering bisa menguatkan saya adalah dengan pulang ke rumah, bertemu orang tua dan keluarga. Mungkin doa orang tua saya yang selalu bisa menyuntikkan tambahan energi lagi ketika saya harus kembali bekerja.

Jangan tanya masalah hati , hal itupun tanpa pergerakan berarti. Masih sendiri, bahkan malah semakin terbiasa. Dingin, seperti halnya pekerjaan saya yang monoton. Tapi energi saya justru tidak cukup habis disini, tapi kadang disitu saya merasa sedih.

Rutinitas itu terus bejalan hingga tidak terasa setahun berlalu begitu hampa, tanpa pergerakan, tanpa pencapaian yang cukup berarti.

Ditahun 2015 saya harap ada perubahan besar dalam hidup saya. Pekerjaan yang lebih baik, menemukan tulang rusuk lalu menyempurnakan setengah agama, mengunjungi dua masjid alharam, adalah beberapa agenda besar yang selalu ada dalam list doa saya untuk bisa terwujud ditahun ini. Dan juga harapan-harapan lain yang selalu saya  lantunkan dalam setiap doa. Salah satunya adalah hidup saya semoga bisa lebih bermanfaat lagi bagi sesama. Semoga saya mempunyai cukup banyak energi untuk bisa melakukan perubahan besar ini. Amin, Semoga.

Pulang menjemput harap

Kata khotib jumat tadi, harapan harus selalu ada dalam setiap keadaan apapun, meskipun dalam keadaan yang hampir pasti kita mati.

Seorang penyair mengatakan ketika kita jatuh kedalam sungai berarus deras sekalipun yang di dalamnya terdapat buaya dan hewan buas lain disana, kita harus tetap punya harapan meskipun hanya dengan berpegangan dengan ekor ular berbisa sekalipun. Karena bisa jadi ular tersebut yang akan menyelamatkan kita.

Dalam setiap lipatan malam yang gelap jangan pernah berhenti berharap karena Allah akan menghadirkan fajar yang menyingsing yang membawa terang.

Deru mesin jahit mungkin disitu letak harapan para tukang jahit. Suara pintu rolling kios ketika dibuka, disitu mungkin letak harapan warung-warung.

Kurang lebih begitulah khotib jumat memberikan khotbahnya tadi.

Bagi saya bersama deru ular besi ini aku pulang untuk kembali mengisi harapan – harapan yang selalu terkikis dalam rutinitas.

(kerata bogowonto, jumat malam)

Tamu Istimewa yang kedua

Alhamdulillah sudah dua Ramadhan ini saya menjalaninya di tanah rantau. kali ini masih diberi kesempatan untuk menemuinya lagi. Layaknya tamu agung yang datang rutin tiap tahun, yang harus dipersiapkan dan disambut. Ada yang berbeda dengan Ramadhan kali ini karena keriuhannya bercampur dengan adanya Piala dunia dan Pilihan presiden. layaknya distraksi dari keduanya, ketika jenuh akan copras-capres, ada sedikit netralisir dari piala dunia. Setelah keduanya berakhir, kini menyisakan akhir Ramadhan yang khidmat. Namun sendu pun menggelayut di benak umat di seluruh dunia. Saudara kita di Gaza dibantai secara brutal oleh zionis. Anak-anak, wanita dan warga sipil menjadi korban.

Sang tamu agung itu kini sudah akan meninggalkan kita lagi, entah lain waktu apakah bisa bertemu lagi atau tidak, siapa yang tau?. Yang kita bisa adalah memeluk erat  tamu agung itu sebelum berpamitan dan berharap dipertemukan lagi dilain waktu.

Kita hanya perlu waktu lebih lama untuk terjaga diwaktu malam mengobrol dengan Nya, perlu lebih banyak berdiri untuk sholat malam, perlu lebih teliti dan giat dalam membaca kitabNya, perlu lebih banyak air mata untuk minta ampunanNya, perlu lebih banyak uang yang kita sedekahkan, perlu lebih banyak senyum untuk kita tebar ke sesama, perlu lebih banyak maaf yang kita berikan, perlu lebih banyak dzikir yang kita lantunkan, …

Semoga kita mendapatkan keberkahan dari tamu agung yang datang ini, dengan menjadikan kita kembali menjadi manusia yang fitrah manusiawinya.

Melarikan Diri dengan Buku

Beberapa waktu lalu saya pergi ke sebuah toko buku di daerah Semanggi. Mungkin saya lagi drop, semangat saya lagi mlempem sehingga saya memilih melarikan diri ke sana dari pada berdiam diri di kosan. Rak-rak buku itu saya susuri satu demi satu. Sudah agag lama memang saya tidak melakukan aktifitas seperti ini. Menyendiri di kerumunan buku dan para penikmat buku lain dalam suasana relatif sepi khas toko buku. Saya cuma membaca-baca sepintas sampul buku, dan sedikit membaca buku yang kebetulan memang sudah terbuka sampul plastiknya.

Dalam salah satu rak buku bacaan novel dan motivasi saya menemukan buku yang cukup ringan dibaca dan menarik untuk saya ambil. Kebetulan ada yang sudah tidak bersampul plastik. Saya melihat sepintas nampaknya tidak ada salahnya saya membawanya pulang, karena memang saya lagi butuh nutrisi bacaan yang memotivasi namun ringan dibaca. Buku itu berjudul Catatan Pagi Hari ditulis oleh Fitri Sudjarwadi. Buku yang belakangan saya tahu itu merupakan sekumpulan catatan penulis yang di posting di blognya. Selain membawa pulang buku tadi saya juga membeli satu buku lain berjudul Kematian adalah Nikmat karya Quraish Shihab. Agag berat memang, namun saya rasa cukup menarik dan bermanfaat.

Buku pertama saya habiskan tidak lama, sepulang dari toko buku itupun saya mampir disebuah warung makan cepat saji yang kebetulan ada nonbar bola tim favorit. Sambil menunggu pertandingan, sudah habis sepertiga buku saja. Setelahnya saya selesaikan buku itu di kereta perjalanan Jakarta-Jogja weekend lalu. Isi bukunya cukup sederhana yang menceritakan pengalaman pribadi penulis dengan ada bumbu inspirasinya.

Berbeda dengan buku kedua, buku yang cukup berat ini perlu waktu khusus untuk mebaca dan mencernanya. Memang tipikal saya kalo membaca tidak bisa cepat, saya seringnya mengeja kata demi kata sambil berimajinasi arti kata dalam kalimat tersebut. Itu yang membuat bebeapa buku yang saya beli tidak katam saya baca. Meskipun saya belum selesai membaca buku kedua ini, saya sudah setuju dengan buku ini bahwa kita harus menikmati kematian, bukanya malah takut menghindar, karena kematian itu adalah sebuah keniscayaan. Selanjutnya kehidupan didunia ini kita harus menyiapkan bekal untuk menjalani fase setelah kematian. Dalam buku ini dijabarkan secara gamblang hakekat hidup, mati dan segala proses evolusi perjalanan panjang manusia. Dijelaskan pula mengenai pandangan” yang keliru mengenai hidup dan mati.

Memang saya belum selesai membacanya, namun ketika sampai disalah satu halamannya saya teringat postingan terbaru dari Topx tentang Through Struggle yang saya duga itu kisah dirinya. Berikut akan saya kutipkan dari beberapa paragraf dalam buku itu yang menurut saya menarik. Mengenai jawaban dari Abbas al-‘Aqqad seorang cendekiawan Mesir kenamaan  ketika ditanya oleh salah seorang mahasiswa yang baru saja diwisudanya mengenai langkah apa yang harus ditempuh setelah lulus itu.

Teruslah berjalan dan berjalan. Janganberhenti berjalan. Kalau perjalanan meletihkanmu, maka duduklah, dan bila engkau duduk lihatlah ke belakangmu, apa yang telah engkau lakukan dan apa pula yang telah engkau persembahkan. Kalau engkau tidak menemukan sesuatu yang telah engkau hasilkan, maka lanjutkan lagi perjalananmu dan bila engkau letih, duduk lagi untuk melakukan instrospeksi dan jangan pernah berhenti bertanya: Apakah engkau telah memilih jalan yang benar, apakah jalan yang kau pilih itu telah menjadikanmu sesuatu yang berarti? Apakah jalan yang engkau lalui datar ataukah penuh dengan rintangan?Apakah engkau menemukan dirimu melompat dari hambatan jalan?Apakah engkau memperhatikan kakimu ketika sedang berjalan?Apakah engkau menggambar pohon atau mengikut pandanganmu ke arah burung yang sedang terbang? Apakah engkau melihat langit dan bertanya: Apa yang berada di atas kita ini? apakah engkau punya peranan? apakah engkau dibutuhkan? kalau itu tidak engkau lakukan dalam hidupmu, maka tidak perlu lagi engkau melanjutkan langkah. (Kematian adalah nikmat, p.37)

Weekend yang tak biasa

Sebagai pekerja, kegiatan saya begitu template yaitu kerja dari Senin sampai Jumat, dan weekend adalah pengecualiannya. Sehingga weekend menjadi waktu yang paling pas untuk memanjakan diri. Kadang saya manja untuk berdiam diri di kamar kosan, kadang juga saya manja untuk bermain futsal bareng teman kantor, dan kadang lain saya memanjakan rindu saya untuk pulang ke rumah, tilik orang tua. Sehingga weekend itupun sudah menjadi variasi template kegiatan tersendiri.

Setelah berbulan-bulan template itu menjadi pola tersendiri  sehingga saya mulai merasakan kerinduan yang lain, mungkin aku butuh piknik. Aku perlu menganti template itu, aku perlu menjalani weekend yang tak biasa.

Akhir January lalu saya gabung dengan segerombolan orang-orang yang mungkin juga sama seperti saya, butuh piknik. Saya bergabung dalam open trip ke suku Baduy Dalam di Lebak Banten. Sengaja saya sendirian bergabung dengan orang-orang yang belum kukenal sebelumnya. Tujuannya memang saya ingin suasana baru. Terangkum cerita dari sana, saya dapat kenalan baru, teman baru. Dari perjalana akhir pekan yang cukup singkat itupun saya kemudian tahu ternyata masih ada sekelompok orang yang lokasinya relatif dekat dengan kemewahan ibukota, mereka memilih untuk mempertahankan kearifan lokal mereka. Hidup dengan tidak mengadopsi budaya luar mentah-mentah, bahkan listrik pun tidak ada. Disana saya ikut merasakan salah satu kehidupan etnic keseharian mereka, mandi di kali dengan air yang masih jernih. It was fun.

Perjalanan weekend yang tak biasa yang lain, awal bulan Maret lalu saya ikut dalam sebuah trip yang diadakan oleh teman-teman kantor lama saya. Kali ini motivasi pertama saya adalah bisa menjaga silaturahmi dengan teman kerja lama saya. Pulau Pari adalah tujuannya, di sini saya bisa melepaskan diri dari kebisingan ibukota. Jalan-jalan keliling pulau pake sepeda, bersantai dibawah pohon dipinggir pantai sambil hammock-an. Main sepak bola pantai sama anak-anak setempat. Hemt cukup menyenangkan.

Dua Minggu lalu ada acara semacam outdoor activity sama teman-teman kantor. Tempatnya di Taman buah Mekarsari. Berkebun yang sebenarnya itu hal biasa di rumah saya, namun karena mungkin di Jakarta ini memang udah jarang ada kebun, aktivitas itu pun menjadi hal yang cukup menarik. Saya mengikuti serangkaian acara bareng teman kantor yang isinya cuma seru-seruan sekejap melupakan pekerjaan. Rumah pohon dan kawasan yang memang berkonsep kebun ini cukup pas untuk sekedar melarikan diri dari hiruk pikuk Jakarta.

Bagaiamana dengan akhir pekan kalian?