Category Archives: Uneg-uneg

Akad : Perjanjian Agung

Setiap kita punya cerita masing masing perjalanan dalam usaha pencarian. Ujung dari sebuah pencarian adalah menemukan. Begitupun dengan jodoh, meski sejatinya hal itu sudah di’tulis’kan, hanya saja tetap perlu diusahakan. Bagi saya, kalau boleh menoleh kebelakang perjalanan menemukan itu tidaklah semulus cerita-cerita picisan. Kadang yang begitu kita harapkan, tidak serta merta sejatinya baik bagi kita. Namun selama dalam perjalanan itu kita terus berproses membaik, dan tidak justru berhenti bahkan meratap pada akhirnya kita akan tetap menemukan juga.

Begitulah konsep jodoh bercerita sesuai alur Nya. Membuat setiap dari kita yang sedang berusaha membaik untuk menemukan, akan menjadi bak magnet yang dengan hukum gaya Nya saling tarik menarik dan bertemu. Dari sana saya belajar memahami suratan  karena pilihan Nya adalah yang terbaik.

Perjalanan pun terus dilalui dengan perlu terus belajar menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan, karena kitapun punya kelebihan dan kekurangan yang darinya pasangan kita juga berdamai dengannya. Terimakasih sudah mau menerima, semoga kita bisa bertumbuh bersama. Berproses bersama membangun rumah tangga bersama, mewujudkan tujuan perjalanan kita bersama surga dunia dan akhirat.

Saya merasakan kelegaan itu ketika selesai mengikrarkan sebuah perjanjian yang agung mitsaqon gholidzo. Suatu ikrar akad yang bisa menghalalkan yang sebelumnya haram. Ikrar yang membawa konsekuensi menjadikan kita berpindah peran dan bertambah tanggung jawab. Namun jika kita niatkan ikhlas karena mengharap ridho Nya dan menjalankan syariatNya, insyaAllah sejak detik itu setiap nafas dan langkah baru kita akan bernilai ibadah. Bukankah kita dicipta hanya untuk beribadah? lantas apa yang dirisau dan diragukan lagi? Continue reading Akad : Perjanjian Agung

Sebelum Melangkah Lebih Jauh

Beberapa waktu lalu gawai saya yang terpasang aplikasi daring telegram berbunyi. Terdapat notif dari salah satu channel yang dikelola oleh seorang ustadz yang saya ikuti. Seorang ustadz muda Hafidzohullah yang sempat beberapa kali saya ikuti kajian beliau ketika masih di Jakarta dulu. Gaya bahasa penyampaian beliau juga karena meskipun beliau masih muda namun  cukup mendalam ilmunya, serta beliau sering membagikan nasihat yang bagus dan tentunya sesuai pemahaman yang sahih dan benar.

Kali ini beliau membagikan sebuah tulisan yang cukup panjang, bahkan sampai terbagi dalam beberapa potongan. Nasihat ini begitu mengena bagi para bujang seperti saya sebelum memutuskan langkah untuk menikah. Olehkarenanya ingin saya memposting ulang nasihat tersebut dalam blog ini, atau silahkan di follow saja akun telegram beliau 

Berikut isi postingannya Continue reading Sebelum Melangkah Lebih Jauh

Langkah Pejalan

Adakalanya beginilah langkah cerita seorang pejalan. Upayanya mengetuk pintu sebuah singgahan, untuk sekedar berteduh atau bahkan menetap tak terbukakan. Dia harus segera menyadari bahwa siempunya memang tak punya tempat untuknya. Tak ada guna terus mengetuk bahkan menggedornya. Lebih baik lanjutkan saja langkah menuju pintu  pintu lain yang dengan senang hati mau menerima.

Tak Terjelaskan

Menjelaskan perkara ini selalu tidaklah mudah. Kadang belibet dan terbentur dengan kenyataan. Terkadang apa yang kita anggap baik untuk kita kadang justru malah menjauh. Terkadang pula apa yang tidak kita duga-duga sebelumnya datang dengan sendirinya. Kitapun dibuat bingung dengan konsep ini, bahwa diri tak selamanya bersama orang yang dipilih, dan hal yang dipilih juga tak begitu saja memilih kita. Allah membuat demikian bukan berarti tidak sayang dan tidak peduli, namun bahkan Dia lebih tau dan lebih peduli melebihi diri kita sendiri.

terispirasi dari postingan ustadz @act_elgharantaly

Pelajaran dari Sakit

Seminggu sebelum Ramadhan lalu qodarullah saya mendapatkan ujian berupa sakit.
Kali ini tidak cukup hanya minum obat warung seperti biasanya, namun harus
opname di Rumah Sakit. Seingat saya ini jadi opname saya pertamakalinya. Pernah
beberapa waktu lalu ketika masih merantau di Jakarta saya pernah ambruk juga,
namun hanya rawat jalan saja dan direkomendasikan bedrest di rumah yang
kemudian saya pun memutuskan pulang ke rumah Jogja, karena memang sakit
di perantaun sendirian itu tidak enak.

Kronologi sakitnya kali ini badan terasa meriang ketika saya sampai di rumah
selepas mengantar ibu kondangan. Malamnya panas tinggi dan susah tidur.
Akhirnya pagi hari periksa ke klinik dekat rumah dan diberi obat. Hari
berikutnya karena kondisi tidak lebih baik akhirnya kembali ke klinik namun
kemudian dirujuk ke rumah sakit. Pilihan Rumah Sakit yang cukup dekat dengan
rumah yaitu kalau tidak di RSUD Sleman ya di RS At Turrots, karena memang sudah
tidak ada asuransi dari perusahaan, pun dengan BPJS yang memang belum selesai
urusaanya semenjak ditolak saat bikin dikantor lama saya, karena ada data yang
nyangkut,atau entahlah, tapi Alhamdulillah tanpa asuransi pun Allah justru
mudahkan urusannya dan saya memilih opname di RS At Turrots.

Kondisi saya yang memang belum jelas diagnosanya mengharuskan saya opname
beberapa hari. Meskipun sepintas merasakan membaik akhirnya karena memang akan
masuk bulan puasa saya bertekad untuk sembuh dan minta pulang sebelum Ramadhan.
Sehari sebelum ramadhan saya diijinkan pulang dan diberi obat, meskipun belum
sembuh benar.

Marhaban ya Ramadhan, alhamdulillah masih dipertemukan dengan bulan Ramadhan
bulan yang penuh keagungan dan keberkahan. Kali ini dengan suasana dan kondisi
yang berbeda dari sebelum-sebelumnya yaitu bisa membersamai orangtua saya di
rumah tanpa harus begadang mencari tiket mudik.

Hari pertama saya ikut berpuasa, dan alhamdulillah full meskipun badan saya
masih lemes dan seharian dikasur. Selepas buka juga minum obat badan menggigil lagi,
makanan dan obat keluar semua. Akhirnya saya periksa menuju klinik dekat rumah, kali
ini kembali dirujuk ke RS lagi. Malam harinya langsung menuju RS, masuk IGD dan
menunggu beberapa waktu karena kamar pasien rawat inap penuh semua.
Akhirnya setelah menunggu, dapat juga kamar kelas 2 satu kamar berisi 3 pasien.
Berbeda dengan opname sebelumnya yang alhamdulillah dapet kelas VIP. Saat masuk
ruangan kamar kelas 2 ini rasa tegang saya sedikit membuncah. Saya masuk
diujung ruangan melewati dua pasien lainnya. Setelah membetulkan posisi
dipembaringan, ibu saya yang menemani saya langsung berkenalan kulonuwun ke
pasien-pasien sebelah, saya dengar dari percakapan, bapak disamping saya sakit
penyakit dalam, dan bapak satunya lagi sakit habis jatuh terpeleset.
Belum genap satu jam saya diruangan itu, tiba-tiba ibu yang jaga pasien persis
sebelah saya panik, minta tolong ibu saya “bu niki pripun bapake pun mboten
purun ngendiko nopo nopo” ibu saya coba menengok dan berusaha menenangkannya
sambil memanggil perawat jaga. Saya yang berbaring di sebelahnya hanya mampu
mendengarkan pasien sebelah nafasnya sudah tersenggal senggal. Dan dalam
proses yang cepat, dokter jaga mengecek kondisi pasien, namun
innalillahiwainnailaihi rajiun semua milik Allah dan pasti akan kembali pada
Nya, dokter mengabarkan bahwa pasien telah berpulang. Seketika itu pekik
histeris ibu yang menjanganya memenuhi ruangan.

Benar saja ajal tidak ada yang tahu kapan akan datang, tidak sampai satu jam di ruangan itu saya sudah menjumpai fenomena ragam orang sakit, sakaratul maut, dan kematian.
Kita seharusnya selagi bisa, harus menyipkan bekal yang baik untuk menghadapinya karena itu sebuah keniscayaan. Bekal ilmu ketika mendapat cobaan sakit, agar tidak hanya keluh yang keluar dari bibir kita namun keikhlasan yang bisa mendapatkan ridho, dan balasan gugurnya dosa kita. Bekal ilmu ketika menjumpai orang sakaratul mau, agar kita bisa membimbing dengan talqin orang yang sakaratul maut, karena rasul mengabarkan janji surga bagi orang yang dalam akhir kalimatnya lailahailallah. Dan yang lebih penting lagi bekal ilmu untuk kita beramal baik guna menghadapi kematian, yang setelahnya kita tidak mungkin bisa kembali menambah amalan.

Setelah satu jam pertama yang cukup mencekam itu selanjutnya hari-hari dirumah
sakit makin terasa pilu. Saya tambah mengerti arti kebersamaan dengan orang-
orang yang kita sayangi. Ibu saya yang selalu menemani saya, dan tinggalah
bapak di rumah tidak ada yang memasak untuk sekedar makan sahurpun. Air mata
saya menetes ketika terbangun di malam hari karena malam itu hujan deras,
mendapati Ibu saya kelelahan tertidur sambil duduk di samping saya. Suasana
hujan, ruang rumah sakit kelas 2 yang antar pasien dibatasi korden, dan aroma
khas rumah sakit membuat saya semakin terharu. Ya Allah jagalah orang-orang
yang saya sayangi, Ibu dan Bapak saya agar selalu diberi kesehatan, keselamatan
dunia dan akherat.

Setelah 4 hari opname yang kedua ini keadaan saya berangsur membaik. Diagnosis
dokter sakit, saya mungkin DB dilihat dari gejala dan siklus sakitnya. Akhirnya
diperbolehkan pulang setelah trombosit saya sudah mulai naik kembali. Akhirnya
pulang dan meskipun badan masih lemes dan tulang masih terasa ngilu,
alhamdulillah sudah bisa kembali menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Semoga
dengan sakit ini bisa membersihkan dosa-dosa saya dan banyak pelajaran yang
bisa saya ambil dan renungkan. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Melupakan Jakarta

Jakarta dengan banyak anggapan dan mimpinya menjadikan magnet tersendiri bagi orang-orang untuk mendatanginya. Tidak sedikit yang memimpikan jakarta, atau biasa dibilang Jakarta Dream. dijadikan  menggantungkan mimpi, untuk bekerja, mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Begitupun dengan saya yang sah menjadi salah satu kaum pengurban sekitar 4 tahun lalu. Namun sudah satu semester ini atas taqdir Nya saya meninggalkan kota yang yang saya rasa mempunyai ritme lebih cepat ini.

Dalam kurun satu semester kemaren juga jakarta memang begitu riuh dengan pilkadanya, dan seakan Allah tidak mengizinkan saya untuk ikut pusing di riuhnya pilkada tersebut, Allah menyuruh saya untuk pulang kampung. Sekarang Jakarta sudah menemukan pemimpin pilihannya, semoga itu yang terbaik dari kemungkinan terburuk. Kita titipkan Jakarta kepada mas Anis dan bang Sandi semoga amanah dan menjadikan Jakarta lebih baik.

Lepas dari Jakarta dan mencoba melupakannya, saya menjalani fase yang cukup berat juga dalam menapak. Segala ikhtiar telah diupayakan sambil terus belajar memperbaiki diri. Hal positifnya adalah saya lebih punya waktu untuk membersamai kedua orang tua saya dimana disana terdapat pintu surga saya, simak video kajian berikut mengenai berbakti kepada orang tua , selain itu saya juga punya waktu agag longgar untuk kembali belajar. Pada awal prosesnya saya menjadi pekerja lepas, yang entah saya cukup kerepotan juga ketika orangtua dan tetangga  menanyakan sekarang kerja dimana. Sembari mencari lagi pekerjaan terbaik yang terus diusahakan, Alhamdulillah dua bulan lalu saya mendapatkan pekerjaan yang Allah tunjukkan untuk saya usahakan dan jalani saat ini, berlokasi di Jogja sehingga saya masih bisa terus membersamai orang tua saya dimasa-masa pensiun mereka. Namun jika di tanya kerja dimana, masih kesulitan juga untuk menjelaskan yang kalau saya sebut sebuah perusahaan konsultan teknik terlalu high expectation, akhirnya saya menyederhanakan istilah ketika ditanya kerja yaitu di tempat jasa ketik, print dan fotocopy karena memang kegiatan kerja saya banyak saya habiskan untuk mengetik dan print hehe.

Memang tidak sewah kerja di Jakarta, tapi alhamdulillah semoga dengan kerja di Jogja saya bisa mendapatkan kebaikan yang lebih, bisa membersamai orang tua, bisa lebih didekatkan dengan belajar agama, bisa bersosialisasi dengan tetangga dan menebarkan kebaikan lebih bayak kepada masyarakat, dan bisa membina keluarga dengan lingkungan yang baik nantinya. Akhirnya kata melupakan jakarta pun agagnya memang harus saya ucapkan dengan ikhlas dan mantab.

Untuk Sahabat Rahimahallah

Tangan saya terus gemetar memegang gawai sambil membaca pesan di grub mengabarkan bahwa kamu telah berpulang kembali kepada pemilik mu yang sesungguhnya. Kamu akhirnya mengalah atas sakitmu demi tidak merasakan sakit lagi, memilih untuk istirahat yang lebih panjang di tempat lain. Seketika itu pula, bayangan saya menerawang memanggil memori saya yang berserakan. Meskipun tidak intens sebelumnya namun membekas dalam, aku yakin banyak juga yang merasakan hal yang sama, buah dari ketulusanmu.

Pertemanan kita diawali dari sebuah tim pengabdian masyarakat ketika di bangku kuliah. Berkat dirimu dan juga keluargamu yang membantu banyak, tim pengabdian itu bisa dikatakan berjalan lancar dan sukses, bahkan hingga hari terakhir pun dirimu dan keluargamu masih direpotkan dengan tetek mbengeknya.

Dari sana, pertemanan itu terus berlanjut. Beberapa kali komunikasi masih tetap terjalin lewat jaringan komunikasi online yang semakin canggih. WhatsApp misalnya, atau ketika mulai booming telegram pun kamu masih bertanya apa bedanya dengan platform lain dan bercerita dipaksa mengunduh oleh temen kantor mu.

Teringat cerita meetup ala ala reunian kecil kecilkan misalnya, saat awal awal dulu merantau di Jakarta. Atau saat aktivitas Ahad pagi tanpa kendaraan bermotor di sekitaran Sudirman-Thamrin kita bersepeda santai dan terhenti di nasi uduk di Jalan Sabang. Luwes tanpa canggung, akrab bergaul dengan siapapun tanpa membeda-bedakan teman.

Suatu hari dulu ketika, saat awal dirawat, saya bersama seorang teman sempat menjenguk di rumah sakit, namun kamu masih bercerita bahwa belum tau sakit apa, baru belakangan saya tau bahwa ternyata sakitmu cukup parah, kangker paru paru. Pernah saling berbalas pesan singkat bertanya kabar, namun kamu menampakkan masih kuat, bahkan masih bercanda aktivitas di kantor semenjak sakit.

Akhir pekan lalu, ada kabar di grub kamu dirawat di rumah sakit yang sama ketika waktu saya sempat menjenguk dulu, awal pekan ini ada update kabar kamu dalam kondisi koma, hingga tadi pagi terdengar kabar yang cukup mengagetkan dan meyesakkan kamu telah berpulang, dikalahkan oleh sakitmu yang selama ini telah kamu perjuangkan kesembuhannya. Engkau telah memberikan pelajaran untuk tidak menyerah pada sakit, meskipun akhirnya harus mengalah. Hari ini hari Jumat semoga engkau khusnul khotimah Icha, allahummafirlaha warhamha wa’afihiwa’fuanha .

Genap Satu Semester

Genap sudah satu semester semenjak terjatuh, Banyu perlahan mulai kembali menapakan kakinya untuk berdiri. Meskipun belum tegap benar untuk berdiri, biarpun pelan namun pasti mulai menemukan cara berjalan yang kemarin sempat berserakan. Dia selalu yakin, Allah tidak akan membiarkannya terlantar begitu saja. Keyakinan itu yang menguatkan tekadnya untuk bisa berjalan lagi, yang diusahakanny dengan usaha sungguh-sungguh semampunya diiringi doa.

Di tengah sedikit letihnya,  minggu lalu tepat satu semester semenjak dia terjatuh, Allah menakdirkan dia bertemu orang  yang insyaAllah baik yang mau menatihnya berjalan. Kini Banyu mulai bisa sekedar berdiri sendiri. Selanjutnya dia akan belajar berjalan dan berlari menuju tujuan bersama entah dengan siapa, namun dia yakin akan menuju tujuan yang sama bersamanya.

Makhluk lemah

Dalam sebuah bincang sore engkau bertanya yang juga seakan pertanyaan itu sekaligus meluapkan rasamu, “pernahkah merasakan pikiran terbang kemana mana?, loncat sini, menerawang kesana, ingin ini, menghayal itu, acak, tak berpola, sesukanya, dan disaat bersamaan tubuh lemas tak berdaya, terkulai di pembaringan, mata menatap langit-langit berkedip tak teratur?”

tanpa bertanya lebih lanjut seketika itu aku iyakan tanyamu itu. Kau teruskan bercerita, Kita ini makhluk lemah ya, untuk sekedar beranjak dari pembaringan saja kita tak sanggup sendiri, tidak ada daya dan upaya kecuali milik Allah, pungkasmu.