Category Archives: Motivasi

motivasi

Melarikan Diri dengan Buku

Beberapa waktu lalu saya pergi ke sebuah toko buku di daerah Semanggi. Mungkin saya lagi drop, semangat saya lagi mlempem sehingga saya memilih melarikan diri ke sana dari pada berdiam diri di kosan. Rak-rak buku itu saya susuri satu demi satu. Sudah agag lama memang saya tidak melakukan aktifitas seperti ini. Menyendiri di kerumunan buku dan para penikmat buku lain dalam suasana relatif sepi khas toko buku. Saya cuma membaca-baca sepintas sampul buku, dan sedikit membaca buku yang kebetulan memang sudah terbuka sampul plastiknya.

Dalam salah satu rak buku bacaan novel dan motivasi saya menemukan buku yang cukup ringan dibaca dan menarik untuk saya ambil. Kebetulan ada yang sudah tidak bersampul plastik. Saya melihat sepintas nampaknya tidak ada salahnya saya membawanya pulang, karena memang saya lagi butuh nutrisi bacaan yang memotivasi namun ringan dibaca. Buku itu berjudul Catatan Pagi Hari ditulis oleh Fitri Sudjarwadi. Buku yang belakangan saya tahu itu merupakan sekumpulan catatan penulis yang di posting di blognya. Selain membawa pulang buku tadi saya juga membeli satu buku lain berjudul Kematian adalah Nikmat karya Quraish Shihab. Agag berat memang, namun saya rasa cukup menarik dan bermanfaat.

Buku pertama saya habiskan tidak lama, sepulang dari toko buku itupun saya mampir disebuah warung makan cepat saji yang kebetulan ada nonbar bola tim favorit. Sambil menunggu pertandingan, sudah habis sepertiga buku saja. Setelahnya saya selesaikan buku itu di kereta perjalanan Jakarta-Jogja weekend lalu. Isi bukunya cukup sederhana yang menceritakan pengalaman pribadi penulis dengan ada bumbu inspirasinya.

Berbeda dengan buku kedua, buku yang cukup berat ini perlu waktu khusus untuk mebaca dan mencernanya. Memang tipikal saya kalo membaca tidak bisa cepat, saya seringnya mengeja kata demi kata sambil berimajinasi arti kata dalam kalimat tersebut. Itu yang membuat bebeapa buku yang saya beli tidak katam saya baca. Meskipun saya belum selesai membaca buku kedua ini, saya sudah setuju dengan buku ini bahwa kita harus menikmati kematian, bukanya malah takut menghindar, karena kematian itu adalah sebuah keniscayaan. Selanjutnya kehidupan didunia ini kita harus menyiapkan bekal untuk menjalani fase setelah kematian. Dalam buku ini dijabarkan secara gamblang hakekat hidup, mati dan segala proses evolusi perjalanan panjang manusia. Dijelaskan pula mengenai pandangan” yang keliru mengenai hidup dan mati.

Memang saya belum selesai membacanya, namun ketika sampai disalah satu halamannya saya teringat postingan terbaru dari Topx tentang Through Struggle yang saya duga itu kisah dirinya. Berikut akan saya kutipkan dari beberapa paragraf dalam buku itu yang menurut saya menarik. Mengenai jawaban dari Abbas al-‘Aqqad seorang cendekiawan Mesir kenamaan  ketika ditanya oleh salah seorang mahasiswa yang baru saja diwisudanya mengenai langkah apa yang harus ditempuh setelah lulus itu.

Teruslah berjalan dan berjalan. Janganberhenti berjalan. Kalau perjalanan meletihkanmu, maka duduklah, dan bila engkau duduk lihatlah ke belakangmu, apa yang telah engkau lakukan dan apa pula yang telah engkau persembahkan. Kalau engkau tidak menemukan sesuatu yang telah engkau hasilkan, maka lanjutkan lagi perjalananmu dan bila engkau letih, duduk lagi untuk melakukan instrospeksi dan jangan pernah berhenti bertanya: Apakah engkau telah memilih jalan yang benar, apakah jalan yang kau pilih itu telah menjadikanmu sesuatu yang berarti? Apakah jalan yang engkau lalui datar ataukah penuh dengan rintangan?Apakah engkau menemukan dirimu melompat dari hambatan jalan?Apakah engkau memperhatikan kakimu ketika sedang berjalan?Apakah engkau menggambar pohon atau mengikut pandanganmu ke arah burung yang sedang terbang? Apakah engkau melihat langit dan bertanya: Apa yang berada di atas kita ini? apakah engkau punya peranan? apakah engkau dibutuhkan? kalau itu tidak engkau lakukan dalam hidupmu, maka tidak perlu lagi engkau melanjutkan langkah. (Kematian adalah nikmat, p.37)

Jaga kesehatan kenali pertanda

Dua hari lalu saya demam tinggi, mungkin ini pertama kalinya ketika saya berada di perantauan. Tidak enak memang kondisi badan sedang menurun harus tetap berangkat kerja. Pagi hari badan sudah memberi signal ada yang tidak beres dengan tubuh ini. Awak ini sudah sedikit memanas namun saya pikir ini cuma lapar belum sarapan. Lantas saya bersiap berangkat kerja seperti biasa

Memang  sehari sebelumnya tenggorokan juga sudah mengirim tanda, ketika itu sehabis jajan es buah, tenggorokan merasakan sedikit meradang dan batuk. Ada yang tidak beres dengan diri saya ini pikir saya.

Setiba di tempat kerja tubuh langsung dihajar dengan AC sesiangan, badan semakin menggigil. Lesu dan pening di kepala. Pikiran sudah tidak bisa fokus di tempat kerja, bawaannya pengen pulang. Namun tidak, teman saya menyarankan untuk periksa ke dokter.

Selepas jam kantor buru-buru saya menuju sebuah rumah sakit di daerah Manggarai. Tibalah saya disana, langsung daftar dan antri. Tidak begitu lama, dapat giliran, dan diagnosis awal dokter adalah saya demam tinggi, mungkin gejala typus. Untuk kali ini diberi resep obat dulu dan direkomendasi untuk istirahat sehari esok. Bila dalam dua hari kedepan demam tidak turun di saranin untuk cek darah.

Saya nanya ke dokter sebenernya gejala typus itu bagaimana? memang hampir mirip dengan yang saya rasakan  yaitu demam tinggi semakin tinggi terutama pada sore dan malam hari terjadi 7-10 hari, umumnya pagi hari nya sudah merasa sehat kembali namun ketika menjelang malam kondisi menurun lagi, badan lemas, mual, infeksi tenggorakan, dan sembelit.

Alhamdulillah setelah istirahat seharian dan minum obat sesuai resep dokter badan saya kini sudah membaik, saya harap ini bukan typus namun hanya lelah biasa. Obat yang diberikan diataranya antibiotik (lapiflox), paracetamol (meredakan rasa sakit kepala dan demam) ,cetirizine (anthytasmin/obat demam).

Hikmahnya, kenali kondisi diri karena yang tau keadaan kita adalah diri kita sendiri, ketika merasa sesuatu ada yang tidak beres segera periksakan ke dokter dan istirahat yang cukup, jaga pola makan juga banyak minum air putih.

Mandilah nak!

Kukabarkan pada kalian, sebuah nasehat orangtua saya ketika capek. Orang tua saya selalu menyuruh saya mandi. Iya mandi, mengguyur seluruh badan menggunakan air. Katanya capeknya bakalan ilang, dan badan akan segar kembali.

Nasihat ini hampir terlupakan olehku, karena memang sekarang  sudah tidak tinggal lagi dengan mereka. Tidak ada lagi yang mengingatkan untuk selalu mandi. Masih membekas diingatan saya, ketika pulang sekolah sewaktu SD dulu, badan saya basah kuyup karena kehujanan, ibu saya memanasin air untuk mandi, katanya ” Mandilah nak, biar gag sakit“. Atau lagi ketika sesorean saya main sepak bola pulang-pulang menjelang maghrib dengan belepotan, bapak saya menyambut “Wes langsung adus wae ben kesele ilang“.

Ketika sudah masuk sekolah atas pun nasehat itu tetep sama, ketika saya pulang sore sehabis les, sambutan mereka tetap sama, “Mandi sana, guyur badanmu, biar seger“.

Kini, nasehat yang simple yang kadang saya males malesan melakukannya ini tiba-tiba saya rindukan kembali. Saat saya harus merantau dan tidak tinggal bersama mereka. Setiap pulang kerja dengan tubuh letih, tergeletak dikasur kamar kosan, tidak ada sambutan lagi, “Mandi dulu nak, biar badanmu segar“.

Sekarang saya merasakan nasehat sederhana yang kadang malas menjalani nya ini. Mandi, iya mandi. Mandi memang menyegarkan dengan sembari mengingat mereka dan nasehat mereka badan ini kembali berenergi lagi. Ingin rasanya mengabarkan pada mereka “Pak, bu, saya sudah bisa ‘mandi’ sendiri

Sebuah obrolan dalam kereta

Notifikasi chat wa muncul di layar handphone, rupanya dari sahabat saya. Tidak biasa memang, namun kali ini dia mengabarkan sedang dalam perjalanan, berada dalam sebuah kereta Bandung-Jogja. Dia membenarkan apa yang aku ceritakan dulu bahwa akan selalu ada pelajaran dari setiap perjalanan, muncul hal-hal baru yang mengejutkan. Lalu sahabat saya ini menceritakan pengalamannya mendapat sebuah pelajaran dari sebuah obrolan di dalam kereta.

Seorang bapak tertaksir sudah berumur separo abad, dari penampilan dzohirnya terlihat orang yang mengerti agama, bawaannya tenang, berjenggot tipis yang mulai memutih cukup menandakan  kelakilakiannya. Kata sahabat saya, bapak tersebut mulai bercerita mengenai kisah hidupnya, sedangkan sahabat saya diam khidmat mendengar dengan bersandar di kursi kereta ekonomi yang tegak. Cerita ini cukup menarik buat sahabat saya karena mengisahkan bagaimana bapak tadi mendapatkan jodoh. Bapak tersebut bercerita bahwa dulu ketika ingin menikah, dia melakukan sholat tahajud 30 hari full untuk dikasih istri yang sholihah. Keadaan dari bapak tersebut pada waktu itu belum mempunyai penghasilan tetap, pekerjaan gag menentu, rumah belum ada, namun dia pengen menikah. Setelah melakukan beberapa usahanya tadi, ada seorang yang tiba-tiba menawari untuk menikahi seorang anak gadisnya. Bapak itu menjawab dengan membalik bertanya, apakah anak gadis itu mau menikah dengannya atau tidak, dengan kondisi bapak seperti itu.

si gadis itu menjawab, dia mau dinikahi asalkan dibawa untuk keluar dari kota bandung, meskipun kondisi bapak itu belum punya apa-apa. Singkat ceritanya hari Kamis diajukan tawaran tadi, dan hari Ahadnya dilangsungkan akad nikahnya.

Doa istrinya “Ya Allah, jika suamiku ini memang berada di jalan yang benar, maka mudahkanlah rezekiNya“. Dan bapak tersebut pun berperinsip, asalkan kita bergerak pagi keluar kerja apapun itu yang halal pasti sore hari pulang dapat sesuatu untuk keluarganya. Lalu bapak tersebut berusaha setiap hari untuk kerja apapun itu sedikit demi sedikit, serabutan mulai dari tambal ban, kuli bangunan hingga sekarang sudah punya bengkel sendiri. Alhamdullah sampai sekarang gag pernah kekurangan ceritanya, selalu saja ada untuk dimakan setiap harinya. Dia pun berpesan kepada sahabat saya carilah istri yang nantinya bisa mendidik anak-anak. Seketika itu pun sahabat saya tertampat atas sebuah obrolan yang penuh hikmah tadi, saya pun yang mendapat cerita dari nya lewat chat merasa terharu.

Memang benar Allah telah menjamin rezki untuk setiap makhlukNya, tidak akan pernah tertukar, asalkan kita mau berusaha untuk menjemputnya. Sebagai contoh lain ketika kita melewati lorong sepanjang jalan malioboro, kita hampir tiap langkah menjumpai pedagang yang menjajakan oleh oleh khas jogja yang sebagian besar hampir sama, mulai dari kaos dan souvenir lainya, namun rezeki itu sudah dijamin, selalu ada buat mereka dan tidak tertukar. Usaha mereka adalah menjajakan dagangan mereka sambil menawarkan kepada pengunjung, Allah lah menggerakkan hati para pengungjung untuk tertarik pada dagangan tersebut untuk membelinya.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim:34)

Bukankah kunci kebahagiaan itu salah satunya adalah mensyukuri apa yang telah kita punya?

Lebaran yang tak selalu sama

“Semoga diterima ibadahku dan ibadahkalian” –Taqobalallahuminawamingkum

Idul Fitri 1434H

Selalu ada cerita disetiap lebaran, entah lebaran itu sendiri atau moment turunanya yang setiap taun mengekor bahkan menjadi tradisi tersendiri yang membarenginya. Mudik salah satunya, bisa diartikan menuju ke udik, dengan kata lain berarti Pulang Ke Kampung.  Bak laron dimusim hujan, ketika hujan reda laron- laron bertebaran keluar sarang. Musim mudik tiba, para kaum urban maupun transmigran berduyung duyung pulang ke kampung halaman.

Pulang, menjadi salah satu bagian dari sebuah perjalanan. Karena berpergian akan menjadi berarti ketika kita pulang. Mudik merupakan salah satu tahapan dari sebuah perjalanan itu sendiri, yaitu pulang ke kampug halaman setelah sekian lama melakukan perjalanan kehidupan peraduan nasib di tempat yang dipandangnya bisa memberikan penghidupan. Baru kali ini saya merasakan mudik, karena baru pada tahun ini saya keluar dari kota saya, bermigrasi kekota lain menjadi kaum urban menjemput rizkiNya.

Ada kekhasan disetiap Hari raya idul fitri, perayaan sederhana ala keluarga kami. Setahun memang panjang, banyak kejadian yang sudah terjadi dalam setahun tersebut. Suasana lebaran pun akan berbeda tiap tahunnya, anggota keluarga ada yang bertambah maupun berkurang. Hal ini yang membuat sedikit sendu lebaran kami tahun ini. Kekuarga besar kami sudah tidak lengkap lagi. Tidak seperti biasanya, meskipun juga ada penambahan anggota keluarga. Yah begitulah takdir Tuhan, Allah azzawajala mempergilirkan waktu siang dan malam, hidup dan mati agar manusia bisa mengambil pelajaran. Setidaknya kita masih bisa ketemu bulan Ramadhan dan juga merayakan hari raya idul fitri tahun ini. Sangat wajib disyukuri. Tahun depan? Entahlah wallahualam, semoga dipertemukan lagi.

Sebuah tradisi ketika lebaran tiba, kita berkunjung kesanak famili kita, bersilaturahmi menjalin kembali persaudaraan yang hari hari biasa tidak sempat bahkan sekedar saling sapa karena berbagaia alasan sok sibuk kita. Sebuah kearifan lokal kita, yang sudah membumi. Meskipun sebaiknya kearifan ini tidak hanya dirayakan setahun sekali ketika lebaran saja, sebaiknya kita membawanya didalam berbagai kesempatan, kekehidupan sehari hari. Alangkah menyenangkan ketika lebaran tiba, semua berubah menjadi pemaaf, dan ikatan kembali terekat.

Tetapi mau gag mau saya harus segera beranjak dari keasrian rumah, dari kehangatan keluarga. Waktu libur saya telah habis, saya harus kembali lagi menjadi kaum-kaum urban melanjutkan peraduan nasib di kota lain. Ya beginilah cerita lebaran tahun ini, selalu ada cerita tersendiri disetiap lebaran, semoga masih ada cerita lebaran di tahun depan 🙂

Kejutan dibulan Juni

Bulan Juni sudah berjalan setengahnya dan berlalu dengan penuh kejutan juga perubahan  yang cukup krusial. Awal bulan berjalan normal seperti biasa, berangkat ke kantor dengan antusias karena memang awal bulan kan. Namun semua berubah ketika ada sebuah telepon dari perusahaan lain yang memberi kesempatan berkarir disana. Memang sebelumnya saya telah menjalani proses hingga MCU. Posisi saya yang sudah bekerja tidak lantas mengiyakan tawaran tersebut, saya meminta waktu untuk berfikir, handover pekerjaan dan ijin perusahaan sekarang, dan yang penting meminta restu orang tua. Setelah berfikir dan menimbang, ijin dan restu dikantong barulah saya mengkonfirmasi kesediaan itu.

Hari terakhir saya di kantor pertama saya, saya berangkat cukup bersemangat karena hari ini mau pamitan dengan rekan kerja yang lain. Saya cukup berkesan dengan suasana kerja dan kekeluargaan di kantor ini. Sambutan hangat dari ketika saya berkenalan masuk di kantor ini selalu saya rasakan setiap hari, dari Manager hingga OB nya. Ending yang sudah saya susun rapi di perusahaan ini tiba-tiba buyar akan sebuah telfon dari perusahaan yang memberi tawaran tadi. “Maaf waktu konfirmasi anda sudah lewat, dan anda tidak bisa lagi masuk”, seketika itu hanya lemes dan bingung, karena surat pengunduran diri saya sudah di approve. Njuk aku kudu piye? Bingung harus berbuat apa, akhirnya saya menghubungi project manager untuk menangguhkan surat pengunduran diri saya, dari beliau tidak masalah namun saya harus menghadap ke Manager dan HR. Ketika itu hari Jum’at, mungkin hari terpanik saya saat kerja. Setelah sholat Jum’at saya berpikir kembali dan mencoba melihat informasi di email yang saya terima, setelah saya lihat ternyata saya tidaklah telat mengkonfirmasi keputusan tersebut ke perusahaan yang menawari tadi. Akhirnya saya berusaha lagi menghubungi HR Manager perusahaan tersebut. Aku jelaskan kronologisnya dan untungnya bapaknya mau mengerti dan qodarullah ini memang kesalahan koordinasi internal mereka, dan bapaknya akan berusaha membantu.

Ketika belum mendapatkan titik terang, namun waktu sudah menunjukkan 18.00, ketika itu saya sudah membeli tiket pulang Jogja kereta jam 18.42. Akhirnya saya keluar kantor dan langsung mencari ojek, tanpa pulang kekosan dulu langsung menuju stasiun. Bapak tukang ojek yang sudah cukup tua tidak mampu menggeber motornya, akhirnya saya memintanya untuk yang di depan. Bisa dibayangkan, pikiran sedang buyar akan kejelasan status yang belum jelas, plus buru-buru ngejar kereta dengan jalanan macet. Alhamdulillah kereta masih bisa terkejar. Ketika duduk dikereta ada notifikasi untuk hari Senin datang ke kantor yang menawari tersebut untuk menjelaskan kronologis dan bertemu presiden direkturnya.

Weekend di Jogja pertama saya ketika sudah bekerja, alhamdulillah bisa mengobati tabungan rinduku pada keluarga, pada masakan ibu, pada nuansa khas jogja, pada udara segar dipagi hari, pada sahabat, dan semuanya yang sudah hampir dua bulan tidak menjumpainya. Weekend pun berlalu dan akhirnya harus kembali ke ibukota menjalani sebab diturunkan rizkiNya.

Senin, pagi saya datang ke kantor baru, mencoba melobi dan berdiskusi, dan alhamdulillah semua berjalan dengan baik, officially saya pindah kantor dan kerja hari ini. Kemudian saya kembali pamitan ke perusahaan lama, meskipun perasaan tidak enak karena saking paniknya meminta menangguhkan surat pengunduran diri sebelumnya, namun alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Karena training di kantor baru sudah berjalan selama 2 minggu, maka saya harus berusaha untuk bisa mengejarnya. Beruntung ada teman-teman yang juga ikut training yang bisa dimintai tolong untuk bertanya. Karena jarak kantor baru ke kosan lama cukup jauh, akhirnya saya putuskan untuk pindah kosan.

Pertengahan bulan Juni, umur saya pun genap 23, jatah hidup berkurang, diumur segini saya berharap saya semakin bisa berfikir kedepan, dan bisa belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, semoga umur saya semakin barokah, dan bisa mempergunakan sisa umur dengan kebaikan dan ketaatan. Banyak rencana-rencana besar yang saya harus siap menghadapinya. Semoga Allah menguatkan saya, dan melancarkan segala urusan saya, dan diberikan hasil yang terbaik.

Akhirnya saya mengucapkan terimakasih yang sangat banyak kepada kantor lama yang sudah memberikan sambutan hangat, suasana kerja dan kekeluargaanya. Terimakasih kepada teman-teman baru disana, ilmu baru nya meskipun masih terlalu singkat. Terimakasih kepada kosan pertama saya yang telah memberikan keasriannya, sambutan kicauan burung gereja di pagi hari, warteg yang pas dikantong dan pas rasanya. Terimakasih semuanya, semoga itu semua menjadi bagian pengalaman baru dalam hidup saya yang darinya saya banyak belajar.

Panggilan, pemantik nostalgi sahabat

Kemaren lusa sesaat saya menyeduh secangkir kopi di kantor, baru saja duduk kembali dari pantri, handphone saya bergetar. Sengaja saya silent memang. Muncul nomer dengan awalan 021- nampaknya bukan nomer pribadi juga bukan nomer yang sudah ada di kontakku. Penasaran saya, lalu kuangkat dengan suara lirih, gag enak saya karena meja pak bos pun tidak terlalu jauh dari meja saya.

“Halo dengan Mas Teguh Budi Pratomo”, sapanya dari sana, “gini mas, saya bla-bla-bla-bla”  wew ternyata  ibu HRD tempat saya KP dulu (Yokogawa) menelpon, memang setelah lulus saya pernah menitipkan CV saya kepada pembimbing saya dulu. Kesan positif saat saya KP disana sih cukup enak dan ilmunya dapet. Namun andai saja telpon itu datang sebulan, dua bulan atau bahkan lima bulan yang lalu saya akan mempertimbangkan tawaranya, tapi ternyata tidak, hampir 5 bulan saya menunggu belum ada kabar juga. Malah justru saat ini ketika saya sudah mulai bekerja yang belum genap sebulan di perusahaan lain, baru datang telpon itu. Akhirnya saya jujur saja bahwa saya sudah mulai bekerja di perusahaan lain, mungkin dilain kesempatan bila Allah berkendak ya Bu!

Setelahnya saya jadi kepikiran dengan teman-teman KP saya dulu, apakabarnya ya mereka?

Isnan Rizki Novianto, teman curcol tentang apapun, teman sekamar waktu ngekos pas KP, karena kantong mahasiswa dan harus bisa tetap survive di ibukota maka sekamar diisi berdua. Katanya sih mirip Cristian Sugiono, tapi saya belum bisa membuktikannya, nyatanya cinta nya cukup berliku juga #eh, Kalo masalah karir cukup lancar dia, setelah kita lulus bareng, langsung deh dia ketrima di ADM.

Lain lagi dengan 2 sahabat KP saya ini, mereka beda kamar dengan Aku dan Isnan, Jadi kita KP bareng ber 4, nyewa kos 2 kamar.

Pryandana Wrestato, dia lah yang mengajak kita KP di Yokogawa, bagiku ini adalah tawaran menarik ketika saya hopeless setelah mendapat penolakan dari perusahaan lain, pria asal Gresik yang punya hobi Air Soft Gun ini juga kiper tim futsal kami.

Yogi Prayoga Sakti, anak Madiun yang jago futsal ini adalah andalan kami ketika futsal hingga tim kami bisa juara EC futsal 2 tahun berturut-turut.

Keningku agag mengkerut serius ketika kepikiran dengan kabar dua sahabat saya ini, gimana kabar kalian? Memang akhir-akhir ini saya begitu seringnya kepikiran dengan teman-teman, juga kepada kalian. Terakhir saya dengar kalian masih menyelesaikan skripsi kalian, saya yakin kalian masih semangat mengerjakannya, saya optimis kalian bisa melalui ini, ayo semangat bung! Saya harap kita bisa berfoto saat kalian wisuda, atau seenggag nya bisa melihat foto kalian wisuda. Saya selalu berdoa disini semoga yang terbaik untuk kita semua.

Sesegmen kerandoman untukmu kawan

Saya kali ini mau manulis kerandoman pikiran saya, ingatan saya sedang meloncat-loncat pada ingatan masa lalu. Plot waktunya ketika masa kuliah semester 6 an, dengan latar lokasi sekitaran kos-kosan lama saya. Saat itu saya ngekos bareng Fajar, kita patungan karena memang tujuannya hanya sekedar tempat persinggahan ketika malas pulang. Kos nya pun sederhana, sebelahan sama kamarnya Irfan.

Pikiran saya meloncat pada masa-masa itu, mungkin itu waktu paling selow ketika kuliah. Belum terpikir skripsi  namun sedikit riweuh dengan persiapan KKN. Rambut saya pun mungkin ketika itu rambut terpanjang saya, riwug-riwug tak teratur. Keriweuhan persiapan KKN itu sendiri sangat membekas disini. Rumah Icha yang jadi basecamp waktu itu letaknya pun tak terlalu jauh dari kosan. Sehingga latar ini masuk dalam frame kerandoman saya ini. Aih waktu itu memang berjalan cepat, dan aku sedang merindukan masa-masa itu.

Alasan lain saya ngekos adalah biar bisa nyimpen sepeda saya dikosan. Waktu itu teman-teman BBM lagi seneng-senengnya pit-pitan, entah itu siang hari di akhir pekan atau gowes dimalam hari. Salah satu yang membekas adalah pit-pitan kita dimalam hari. Malam-malam muter-muter jogja, dengan personel yang cukup lengkap waktu itu dengan Warson sebagai leadernya. Namun saya mau sedikit mengingat pada teman-teman saya ini, waktu itu ada Surip, Iyas, Warson, Indra, dll. Mereka masuk frame kerandoman ini karena sepulang sepedaan itu kita ngobrol-ngbrol dikosan saya yang sempit itu. Pikiran saya lagi teringat ke mereka, karena lama memang kita gag berjumpa akhir-akhir ini. Menghilang? entahlah, yang pasti saya tetap optimis mereka masih semangat mengerjakan skripsi mereka. Kalian pasti bisa menyelesaikan skripsi kalian dengan elegan bung.

Gowes malam

Saya ingin mengakhiri kerandoman ini dengan  mau membungkusnya dalam tulisan, supaya ingatan ini tetap tersimpan. Jujur saya kangen dengan segmen ini beserta pemeran-pemeran didalamnya. Saya yakin mereka bisa sukses dengan cara dan peran mereka sendiri-sendiri.

Rak Nostalgia Untuk Sahabat

Kuliah selama 4 tahun lebih tidak lepas  dengan yang namanya teman juga sahabat. Pastinya persahabatan itu tercipta secara natural karena kebersamaan dalam tempo yang cukup lama itu. Sekedar tenguk bareng,  ngerjain tugas bareng, dan segala kehidupan khas mahasiswa lainnya juga bareng. Ada cerita cerita yang kita punya, yang bisa kita putar kembali nanti.

Puspo Dewanto misalnya, Lelaki yang khas dengan gojekan rodo waton nya mampu memecah suasana ketika hening. Ide-idenya yang agag nyleneh pun sering muncul tiba-tiba. Ah dia sekarang sudah jadi seorang teknisi di perusahaan rokok berlambang djarum itu.

M Shahid Ardi, lelaki paling udzur diangkatan kami ini memang pantas dituakan. Terlihat dari guratan wajah dan sikapnya. Sebenarnya lancang bagi saya berpartner dengannya dan dia jadi Sekjennya, harusnya dialah yang pantas dituakan. Tapi ternyata cerita berkata lain, duniapun terbalik. Mas Sahid kini sudah bekerja di sebuah perusahaan PLTU di Jepara.

Orang yang cukup sepuh juga diantara kita yaitu, Ferry Agusta, karena hadeh hadeh nya, dia bertitel simbah simbah. Cukup sering saya bersama simbah mulai dari KKN bahkan sampai bimbingan Skripsi pun bareng. Sekarang mungkin dia mau menjajaki dunia perbank-kan.

Ahmad Fajrul Falah, seorang cendekia kita, mungkin dia jenius tapi gag pernah bilang bilang, hal ini terbukti karena pernah ikut di Gama Cendekia. Ide ide besar mu dan brainstorming denganmu selalu berlogika. Namun sayang akhir akhir ini jarang saya berjumpa dengan mu sobat, gimana skripsimu?, mungkin kamu telah diam diam menikah dengan akhwat pilihanmu, entahlah?

Nur Ikhwan, ini jagonya event organiser, dunia per EO an sudah malang melintang diikutinya. Ngobrol kreatif dan segala hal yang berotak kiri itu sama kamu. Terakhir ketemu kita bicara kebuntuan tugas akhirmu, namun jawabanku tetap pragmatis dan tanpa solusi berarti. Yang pasti kerjakan saja wak, dicicil dikit dikit.

Saya terusik ketika melihat halaman facebook dan melihat profil picture salah satu teman diatas berubah menjadi foto kita bareng. Saya juga resah dan rindu dengan teman-teman diatas, terutama dua nama yang saya sebut terakhir karena tidak kunjung selesai mengerjakan skripsi. Namun saya masih percaya dan optimis, mereka bisa melaluinya.

Mungkin tulisan ini yang hanya bisa saya tuliskan untuk bisa menyemangati mereka, karena jujur saja saya bukan pacarnya yang bisa menyemangatinya setiap saat, bukan pula dosen pembimbing yang mengerti detail penelitain mereka, saya hanyalah seorang kawan yang rindu ketika nanti kita berfoto bareng lagi, kita sudah sukses semua. Kemudian foto itu akan saya simpan dalam rak rak nostalgia persahabatan dan pertemanan kita.

Resahnya Seorang Sarjana Baru

Saya memang, sudah dikukuhkan lulus menjadi seorang Sarjana pada November 2012 lalu, hal itu tidak lantas membuat kehidupan seorang Sarjana selurus rambutnya Anggun C Sasmi. Kejenuhan saya pada dunia birokrasi kampus khususnya di elins, ugm, dan Indonesia membuat saya berpikir ulang untuk meneruskan kuliah. Mungkin suatu saat jika ada rejeki maupun beasiswa sekaligus mood saya sudah pulih saya mau kembali ke bangku kuliah.

Kehidupan setelah lulus,  menurut saya pribadi justru membuat beban moral tersendiri. Euforia kelulusan dan kelegaan memang terasa pada awalnya, namun tidak lebih dari seminggu. Setelahnya, kita hanya menjadi penyuplai angka pengangguran di negri ini jika kita hanya diam saja.

Saya memang merencanakan untuk semacam “Graduation Trip” setelah lulus, dengan perencanaan yang cukup matang meskipun modal pas-pasan juga nekat, bersama beberapa orang kawan kita ber-rekreasi yang kita sebut Kelana Nusa Tenggara. Opsi jalan darat lah yang kita pilih, rencananya menyusuri sampai batas timur Nusa Tenggara, namun terhenti di Labuan Bajo, Flores karena kita kehabisan bekal yang dari awal memang sudah pas pasan, Ahhirnya kita putuskan untuk pulang. Kita pun selamat sampai dirumah kembali setelah berkelana sekitar 10 hari.

Mengajar adik-adik di desa tempat tinggal saya menjadi kegiatan yang mengasyikkan tersendiri. Bagiku ini menjadi tempat berbagi, meskipun apa yang aku berikan tidaklah seberapa, namun melihat antusias adik-adik di desa saya untuk terus datang setiap pekannya, saya tersulut semangat untuk terus berbagi.

Kelas Inspirasi menjadi salah satu program voulenterism yang saya ikuti setelah lulus. Awalnya iseng mendaftar dari pada ‘nganggur’ namun kesempatan untuk bertemu teman-teman baru dari kalangan profesional membuat saya semakin semangat. Dari persiapan sampai hari H, kita saling berkoordinasi untuk berjalannya Hari Inspirasi. Bermacam backgroud profesi baru saya kenal, namun keberagaman itu justru menjadi hal yang kita cari untuk mengisi, memberikan inspirasi kepada adik-adik Sekolah Dasar. Meskipun cuma sehari, namun keikhlasan lah yang dibutuhkan untuk bisa terus memancarkan inspirasi yang nantinya akan berbuah jadi mimpi mimpi.

Seperti pada umumnya mahasiswa setelah lulus, aktifitas utama adalah memantengin kolom lowongan pekerjaan. Mencari peluang terbaik di perusahaan idaman. Sudah dari pertengahan tahun 2012 lalu saya sudah mulai mencari cari meskipun waktu itu belum lulus, hingga saat ini hampir 5 bulan setelah lulus belum ada yang nyantol di perusahaan idaman. Kalo boleh saya list perusahaan yang pernah saya apply (hampir seratus CV saya kirimkan) dan ikut proses seleksi (yang saya ingat) bisa lebih dari selusin  :

  1. Pertamina PHE ONWJ sampai psikotest
  2. Trackindo sampai FGD
  3. Pama Persada sampai psikotest
  4. Adaro sampai psikotes
  5. Astra Internasional sampai psikotest
  6. Astra Daihatsu sampai interview HRD
  7. TJB Power Service sampai teknikal test
  8. Elnusa sampai FGD
  9. Agit sampai psikotest
  10. Samsung sampai interview user
  11. Nutrifood sampai psikotest
  12. Quick sampai interview HRD
  13. BP sampai aptitude test
  14. Schlumberger sampai FGD
  15. DSME sampai interview user
  16. Elnusa (2) sampai interview user
  17. BPS Pertamina sampai test Inggris
  18. General Electric sampai HR interview call
  19. Cegelec Indokomas sampai offering

Pergolakan antara Idialisme dan Realita semakin hari semakin membuncak. Ketika yang kita usahakan belum mencapai hasil yang diharapkan, yang harusnya kita lakukan adalah tetap terus berusaha sekuat tenaga, berdoa setulus hati untuk menjemput rizki Allah yang telah ditentukan untuk kita oleh Nya.

Kunci kebahagian adalah “Mensyukuri yang kita punyai atas rizki Allah saat ini, Bersabar dengan ujian atau sesuatu yang belum kita dapati, dibarengi dengan kesegeraan untuk sadar diri/ Taubat atas segala dosa dan kesalahan yang kita perbuat”

Semoga kita semua senantiasa diberikan kemudahan dalam melakukan kebaikan, kemudahan mencari rizki yang halal, kemudahan yang mendekatkan diri kita pada Rabbul’alamin.