Category Archives: Motivasi

motivasi

Sebelum Melangkah Lebih Jauh

Beberapa waktu lalu gawai saya yang terpasang aplikasi daring telegram berbunyi. Terdapat notif dari salah satu channel yang dikelola oleh seorang ustadz yang saya ikuti. Seorang ustadz muda Hafidzohullah yang sempat beberapa kali saya ikuti kajian beliau ketika masih di Jakarta dulu. Gaya bahasa penyampaian beliau juga karena meskipun beliau masih muda namun  cukup mendalam ilmunya, serta beliau sering membagikan nasihat yang bagus dan tentunya sesuai pemahaman yang sahih dan benar.

Kali ini beliau membagikan sebuah tulisan yang cukup panjang, bahkan sampai terbagi dalam beberapa potongan. Nasihat ini begitu mengena bagi para bujang seperti saya sebelum memutuskan langkah untuk menikah. Olehkarenanya ingin saya memposting ulang nasihat tersebut dalam blog ini, atau silahkan di follow saja akun telegram beliau 

Berikut isi postingannya Continue reading Sebelum Melangkah Lebih Jauh

Langkah Pejalan

Adakalanya beginilah langkah cerita seorang pejalan. Upayanya mengetuk pintu sebuah singgahan, untuk sekedar berteduh atau bahkan menetap tak terbukakan. Dia harus segera menyadari bahwa siempunya memang tak punya tempat untuknya. Tak ada guna terus mengetuk bahkan menggedornya. Lebih baik lanjutkan saja langkah menuju pintu  pintu lain yang dengan senang hati mau menerima.

Tak Terjelaskan

Menjelaskan perkara ini selalu tidaklah mudah. Kadang belibet dan terbentur dengan kenyataan. Terkadang apa yang kita anggap baik untuk kita kadang justru malah menjauh. Terkadang pula apa yang tidak kita duga-duga sebelumnya datang dengan sendirinya. Kitapun dibuat bingung dengan konsep ini, bahwa diri tak selamanya bersama orang yang dipilih, dan hal yang dipilih juga tak begitu saja memilih kita. Allah membuat demikian bukan berarti tidak sayang dan tidak peduli, namun bahkan Dia lebih tau dan lebih peduli melebihi diri kita sendiri.

terispirasi dari postingan ustadz @act_elgharantaly

Teori Apa-Apa

Persiapkan apa-apa, sebelum kelak terjadi apa-apa. Kalau anda sudah mempersiapkan apa-apa, dan kelak terjadi apa-apa. InsyaAllah anda tidak akan diapa-apakan.

Tetapi

Kalau anda tidak mempersiapkan apa-apa, dan kelak terjadi apa-apa, demi Allah engkau pasti akan diapa-apakan.

dan pada hari itu engkau tidak mungkin bisa berbuat apa-apa.

 

disampaikan oleh Ust. Salim bin Yahya Qibas dalam kajian The Rabbaanians yang bertema Bersama Selamanya Part 2. 

Ubah dengan bicara

Diskusi sederhana dengan bapak dan ibu sore ini. Ah saya benar benar merindukan momen ini. Ibu seperti biasa menyiapkan bekal sederhana untuk bisa saya bawa. Bapak seperti biasa duduk santai setelah seharian mengurus ternak dan kebun. Mereka nampak bersiap dibanding hari-hari biasanya . Setidaknya sebulan sekali tiap bulannya ketika saya pulang. Mereka bersiap mengantarkan ke depan pintu rumah ketika saya berpamitan untuk kembali merantau ke ibukota. 

Sedikit berbeda sore ini, ibu tampak sedikit gelisah, menunggu jemputan rombongan bus pengajian. Ibu sore ini memang mau mengaji di kota sebelah. Ibu nampak sudah lebih awal menyiapkan bekal. Ketika sore ini saya sudah bersiap untuk pamitan, ada sedikit diskusi sederhana antara Saya, Ibu dan Bapak untuk hari raya kurban yang akan datang. Pembicaraannya pun begitu sederhana, santai hanya membahas bagaimana rencana kurban mendatang, namun saya menemukan momen yang langka ini, momen yang sudah jarang kami lakukan, karena memang jaraklah yang jadi penghalang. 

Saya akhir-akhir ini terngiang-ngiang dengan iklan sebuah provider telekomunikasi, yang mengiklankan pentingnya bicara atau ngobrol, disitu jelas banget situasinya persis yang saya alami pun juga jamak dialami oleh para perantau yang meninggalkan keluarga. Sebuah pesan pentingnya bicara atau ngobrol apalagi dengan ibu. 

Semoga kita masih bisa banyak ngobrol lagi, Ibu. Saya merindukan momen momen itu.

Prolog 2015

Hallo 2015

Tahun sudah berganti ke 2015 saja, lalu sudah sampai mana kita melangkah? Mungkin itu sebuah frase yang sering kita dengar ketika pergantian tahun. Dengan waktu yang terus bergulir dan tahun yang terus berganti, memang seharusnya kita harus berfikir sampai mana kita melangkah (dalam hal apapun).

Untuk kasus saya, sampai detik ini saya masih disini, disepetak kubikel yang menjadi keseharian saya. Belum kemana-mana, bahkan sedikit pergerakan pun tidak. Entahlah, mungkin saya hilang arah, hingga tak bisa kemana mana. Seperti seorang pejalan buta yang kehilangan tongkat dan takut meraba.

Kalo boleh bilang setahun kemaren adalah tahun yang berat buat saya. Dalam pekerjaan iya, energi saya terkuras dalam pusaran pekerjaan yang monoton. Saya harus berjibaku untuk bisa survive dalam pekerjaan yang entah ini saya sukai atau tidak. Apakah umur saya hanya akan termakan di sini? Kebingungan itulah yang menghabiskan energi saya. Sampai suatu waktu saya bahkan sampai pada titik untuk menyerah, lalu kalah.

Tapi tidak, hingga saat ini pun saya masih bertahan dan seperti biasa masih dengan rutinitas yang monoton. Hal-hal yang sering bisa menguatkan saya adalah dengan pulang ke rumah, bertemu orang tua dan keluarga. Mungkin doa orang tua saya yang selalu bisa menyuntikkan tambahan energi lagi ketika saya harus kembali bekerja.

Jangan tanya masalah hati , hal itupun tanpa pergerakan berarti. Masih sendiri, bahkan malah semakin terbiasa. Dingin, seperti halnya pekerjaan saya yang monoton. Tapi energi saya justru tidak cukup habis disini, tapi kadang disitu saya merasa sedih.

Rutinitas itu terus bejalan hingga tidak terasa setahun berlalu begitu hampa, tanpa pergerakan, tanpa pencapaian yang cukup berarti.

Ditahun 2015 saya harap ada perubahan besar dalam hidup saya. Pekerjaan yang lebih baik, menemukan tulang rusuk lalu menyempurnakan setengah agama, mengunjungi dua masjid alharam, adalah beberapa agenda besar yang selalu ada dalam list doa saya untuk bisa terwujud ditahun ini. Dan juga harapan-harapan lain yang selalu saya  lantunkan dalam setiap doa. Salah satunya adalah hidup saya semoga bisa lebih bermanfaat lagi bagi sesama. Semoga saya mempunyai cukup banyak energi untuk bisa melakukan perubahan besar ini. Amin, Semoga.

Pulang menjemput harap

Kata khotib jumat tadi, harapan harus selalu ada dalam setiap keadaan apapun, meskipun dalam keadaan yang hampir pasti kita mati.

Seorang penyair mengatakan ketika kita jatuh kedalam sungai berarus deras sekalipun yang di dalamnya terdapat buaya dan hewan buas lain disana, kita harus tetap punya harapan meskipun hanya dengan berpegangan dengan ekor ular berbisa sekalipun. Karena bisa jadi ular tersebut yang akan menyelamatkan kita.

Dalam setiap lipatan malam yang gelap jangan pernah berhenti berharap karena Allah akan menghadirkan fajar yang menyingsing yang membawa terang.

Deru mesin jahit mungkin disitu letak harapan para tukang jahit. Suara pintu rolling kios ketika dibuka, disitu mungkin letak harapan warung-warung.

Kurang lebih begitulah khotib jumat memberikan khotbahnya tadi.

Bagi saya bersama deru ular besi ini aku pulang untuk kembali mengisi harapan – harapan yang selalu terkikis dalam rutinitas.

(kerata bogowonto, jumat malam)