Category Archives: Kerja

Melupakan Jakarta

Jakarta dengan banyak anggapan dan mimpinya menjadikan magnet tersendiri bagi orang-orang untuk mendatanginya. Tidak sedikit yang memimpikan jakarta, atau biasa dibilang Jakarta Dream. dijadikan  menggantungkan mimpi, untuk bekerja, mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Begitupun dengan saya yang sah menjadi salah satu kaum pengurban sekitar 4 tahun lalu. Namun sudah satu semester ini atas taqdir Nya saya meninggalkan kota yang yang saya rasa mempunyai ritme lebih cepat ini.

Dalam kurun satu semester kemaren juga jakarta memang begitu riuh dengan pilkadanya, dan seakan Allah tidak mengizinkan saya untuk ikut pusing di riuhnya pilkada tersebut, Allah menyuruh saya untuk pulang kampung. Sekarang Jakarta sudah menemukan pemimpin pilihannya, semoga itu yang terbaik dari kemungkinan terburuk. Kita titipkan Jakarta kepada mas Anis dan bang Sandi semoga amanah dan menjadikan Jakarta lebih baik.

Lepas dari Jakarta dan mencoba melupakannya, saya menjalani fase yang cukup berat juga dalam menapak. Segala ikhtiar telah diupayakan sambil terus belajar memperbaiki diri. Hal positifnya adalah saya lebih punya waktu untuk membersamai kedua orang tua saya dimana disana terdapat pintu surga saya, simak video kajian berikut mengenai berbakti kepada orang tua , selain itu saya juga punya waktu agag longgar untuk kembali belajar. Pada awal prosesnya saya menjadi pekerja lepas, yang entah saya cukup kerepotan juga ketika orangtua dan tetangga  menanyakan sekarang kerja dimana. Sembari mencari lagi pekerjaan terbaik yang terus diusahakan, Alhamdulillah dua bulan lalu saya mendapatkan pekerjaan yang Allah tunjukkan untuk saya usahakan dan jalani saat ini, berlokasi di Jogja sehingga saya masih bisa terus membersamai orang tua saya dimasa-masa pensiun mereka. Namun jika di tanya kerja dimana, masih kesulitan juga untuk menjelaskan yang kalau saya sebut sebuah perusahaan konsultan teknik terlalu high expectation, akhirnya saya menyederhanakan istilah ketika ditanya kerja yaitu di tempat jasa ketik, print dan fotocopy karena memang kegiatan kerja saya banyak saya habiskan untuk mengetik dan print hehe.

Memang tidak sewah kerja di Jakarta, tapi alhamdulillah semoga dengan kerja di Jogja saya bisa mendapatkan kebaikan yang lebih, bisa membersamai orang tua, bisa lebih didekatkan dengan belajar agama, bisa bersosialisasi dengan tetangga dan menebarkan kebaikan lebih bayak kepada masyarakat, dan bisa membina keluarga dengan lingkungan yang baik nantinya. Akhirnya kata melupakan jakarta pun agagnya memang harus saya ucapkan dengan ikhlas dan mantab.

Bit to remember

Bongkar- bongkar file di HDD nemu sebuah video yang saya buat cukup ngasal. Ceritanya waktu itu saya baru nyoba hp yang gres produk pertamanya xiaomi, redmi 1s. Saya installin aplikasi LapseIt yang saya dapat dari playstore, yaitu sebuah aplikasi untuk membuat timelapse. Timelapse sendiri adalah sekumpulan foto yang diambil dengan periode dan durasi tertentu, yang kemudian disusun menjadi video pendek.

Keisengan awalnya cuma mau nyoba bikin timelapse pake hp, dengan tema aktifitas kantor. Hasilnya lucu juga ternyata, hingga akhirnya terkumpul beberapa video. Waktu itu kan emang akhir tahun ya, melihat di papan pengumuman kantor ada video kontest dalam rangka acara end year party 2014. Saya coba paksakan edit dan gabungin videonya, dan karena footagenya gag banyak alhasil jadilah video yang cukup ‘mekso’. hehe tapi gag papalah minimal jadi salah satu nominasi video yang berhak diputer di acara itu.

Sekarang, video yang cukup ‘mekso’ ini jadi secuil untuk mengingat dan mengenang kembali aktifitas di kantor dulu sebelum akhirnya tutup 🙁

Ubah dengan bicara

Diskusi sederhana dengan bapak dan ibu sore ini. Ah saya benar benar merindukan momen ini. Ibu seperti biasa menyiapkan bekal sederhana untuk bisa saya bawa. Bapak seperti biasa duduk santai setelah seharian mengurus ternak dan kebun. Mereka nampak bersiap dibanding hari-hari biasanya . Setidaknya sebulan sekali tiap bulannya ketika saya pulang. Mereka bersiap mengantarkan ke depan pintu rumah ketika saya berpamitan untuk kembali merantau ke ibukota. 

Sedikit berbeda sore ini, ibu tampak sedikit gelisah, menunggu jemputan rombongan bus pengajian. Ibu sore ini memang mau mengaji di kota sebelah. Ibu nampak sudah lebih awal menyiapkan bekal. Ketika sore ini saya sudah bersiap untuk pamitan, ada sedikit diskusi sederhana antara Saya, Ibu dan Bapak untuk hari raya kurban yang akan datang. Pembicaraannya pun begitu sederhana, santai hanya membahas bagaimana rencana kurban mendatang, namun saya menemukan momen yang langka ini, momen yang sudah jarang kami lakukan, karena memang jaraklah yang jadi penghalang. 

Saya akhir-akhir ini terngiang-ngiang dengan iklan sebuah provider telekomunikasi, yang mengiklankan pentingnya bicara atau ngobrol, disitu jelas banget situasinya persis yang saya alami pun juga jamak dialami oleh para perantau yang meninggalkan keluarga. Sebuah pesan pentingnya bicara atau ngobrol apalagi dengan ibu. 

Semoga kita masih bisa banyak ngobrol lagi, Ibu. Saya merindukan momen momen itu.

Pelarian Setelah Jam Kerja

Sudah lebih dari satu semester ini saya menjalani aktivitas di perusahaan baru. Di tempat saya bekerja yang sekarang aktivitas hampir seluruhnya dihabiskan di depan komputer di dalam kotak kubikel. Bisa dibayangkan jam 8-18 setiap harinya rutinitas itu yang selalu dijalani. Saya teringat sebuah perkataan seorang teman saya akan pentingnya ‘manajemen pantat’. Entah apa sebenarnya maksutnya namun saya mengartikannya kita harus pintar pintar menjaga mood kita agar pantat kita nyaman duduk berlama-lama. Kalau teman saya memakainya dalam sebuah aktivitasnya di pondok dengan duduk mendengarkan kyainya, saya memakainya dalam pekerjaan sehari-hari saya di kantor.

Saya sedikit diuntungkan karena letak kantor saya berada di tengah ibukota, yang artinya ketika mencari sesuatu kemungkinan akan mudah ditemukan disini. Saya memanfaatkannya untuk mengisi aktivitas selepas kerja saya, ya itung-itung untuk melepas penat seharian. Suatu waktu saya bisa berjalan ke Goethe Institut sebuah pusat kebudayaan Jerman yang sering mengadakan acara yang anti mainstream. Kadang mendatangkan musisi kolaborasi Jerman-Indonesia dalam Serambi Jazz nya, atau memutar film yang blogbuster dalam ArtCinemanya.

Diwaktu yang lain saya bisa melarikan diri ke @america sebuah semacam galery kebudayaan milik America. Disini saya sering menikmati acara yang disuguhkannya yang gag kalah keren. Saya biasa duduk di depan sendiri ketika Float atau Aditia Sofyan mengisi acara bergantian, atau ketika Payung Teduh membanjiri lagu-lagu sendunya. Bahkan ketika Dik Doank bersama Kandank Jurank DoanK nya tampil penuh semangat saya antusias disana. Tidak hanya musik, film dan talkshow juga ada. Saya masih begitu ingat ketika Rene Suhardono bicara tentang apa itu passion.

Dikesempatan yang lain juga saya memilih berjalan ke Erasmus Huis, Kedutaan Belanda yang letaknya persis di depan kantor saya. Ketika ada acara open dinner lumayan bisa makan gratis di sana. Atau ketika ada Festival Film Dokumenter saya begitu menikmati sajian film-film dokumenter dari penjuru dunia. Ketika kita menggali sejarah Indonesia, pastinya tidak lepas dengan negeri Belanda. Pamparan foto sejarah Kereta Api Indonesia pernah dipajang di sana.

Jika tidak itu semua, saya memilih untuk duduk menikmati kopi. Kadang sendiri itu bisa lebih membuat hati kita menjadi lebih perasa. Luwes menikmati suasana dan mengamati sekitar. Berpikir kedalam diri sedang apa saya di sini, mengapa saya di sini dan kemana setelah ini itu kadang juga perlu. Jika kita berkaca pada cermin yang besarpun mungkin kita tidak bisa melihat diri kita, mungkin dengan melihat sekitar kita bisa tau diri kita.

Menertawakan Jakarta

Sepetak kubikal dengan seperangkat komputer menjadi sesuatu keseharian saya saat ini. Begitupun dengan kamar ukuran tiga kali empat meter menjadi tempat tidur paling aman dan nyaman. Berangkat pukul tujuh kembali pukul tujuh, belum lagi ganasnya jalanan yang setiap saat mengancam, beruntung saya bisa berdamai dengan angkutan kota, meskipun tak bergaransi setidaknya saya masih bisa diantarkannya sampai tujuan tanpa menambah kemacetan ibukota dengan tanpa berkendaraan sendiri. Itulah aktifitas harian yang harus saya jalani dan coba nikmati.

Rutinitas ini kadang membuat lalai, lupa pada diri sendiri. Tubuh ini sewaktu-waktu memang perlu berhenti, sekedar duduk dan menghirup udara segar yang susah ditemui di tempat ini. Sekedar memanjakan badan untuk beristirahat. itu sebabnya akhir pekan berdiam diri dikamar menjadi pilihan ataupun alternatif paling masuk akal yang bisa dijalani.

***

Sahabat sejak sekolah atas dulu mengabarkan bahwa dia akan ada acara di Jakarta, untuk sebuah seminar atas karya papernya di sebuah konverensi energi di JCC. Saya langsung menawarkan mampir saja dikosan saya. Kita dekat, didekatkan oleh waktu, kita sering membahas hal-hal diluar nalar dan kita sudah tau ihwal satu sama lain dari diri kita masing masing. Sahabat saya ini memilih untuk tidak mengikuti jejak saya menjadi pengurban menjajakan diri di ibukota, dia memilih untuk ‘freelance’ di Jogja. Kata ‘freelance’ yang susah menjelaskannya jika ditanya orang apa pekerjaannya. Dia menulis paper ilmiah, dia meneliti, dia seminar, dia bebas tidak terkungkung di sebuah meja dan kubikal seperti saya.

Akhir pekan ini kita sepakat untuk jalan-jalan di ibukota. Sebuah aktifitas yang tidak biasa. Setidak biasanya Jakarta di hari Ahad, karena jalanan bukan lagi dipenuhi kendaraan bermotor, namun hanya pejalan, pelari dan pesepeda. Saya dan sahabat saya mencoba ikut menikmatinya. Kita berjalan sepanjang jalan sudirman-thamrin, sesekali menertawai Jakarta, entah itu mengomentari gedung-gedungnya, ataupun suasananya. Setidaknya dihari ini aktifitas saya tidak sebatas di kubikal. Sahabat saya terlihat lebih menikmatinya, tertawanya lebih riang, Jakarta memang lucu untuk ditertawakan, saya pun ikut tertawa karena inilah realita yang seharian saya temui.

Perjalanan kita terhenti di Istiqlal, masjid yang konon terbesar di asia tenggara. Kita beristirahat, sejenak melupakan tawa-tawa tadi. Waktu itu memang ada pengajian di sana. Tetiba saya ingat, tubuh ini memerlukan haknya, yang terlupakan oleh rutinitas. Sejenak diam dan mendengarkan rupanya cukup mendamaikan jiwa dan raga ini.

 

Cerita Ramadhan tahun ini

Bulan Ramandhan sudah berlalu meninggalkan kita. Moment-moment romantis berbuka dan sahur beralih kembali menjadi biasa lagi. Tidak ada lagi mata ‘kriyip-kriyip’ harus keluar mencari makan, ataupun pulang kerja duduk manis menunggu maghrib diteras sebuah masjid. Selalu terselip sebuah doa ketika berpisah dengannya, “Semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya”. Ah, Ramadhan memang ngangenin.

Ada hal yang berbeda Ramadhan kali ini, yang saya rasa yaitu menjalaninya seorang diri di tanah perantauan, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang bisa merasakan kehangatan sahur dan berbuka bareng keluarga. Awalnya terasa hambar, seperti teh celup yang biasa saya seduh tanpa gula. Lambat laun saya harus mulai terbisa dengan ini, karena saya yakin keadaan ini adalah yang terbaik untuk saya jalani saat ini. Kebiasaan baru selama menjalani Ramadhan di perantauan adalah bangun lebih awal mencari buat sahur, beruntung di dekat kosan terdapat sebuah warteg, dengan konsekuaensi menu makan sahur selalu hampir sama hanya kombinasi sayur dan lauk minimalis tiap harinya. Ya saya belajar mensyukurinya.
Dalam kesendirian di rantauan saya menemukan kebersamaan lain ketika berbuka puasa, menunggu maghrib bersama para pekerja lainnya di sebuah masjid sebuah kantor yang menyediakan ta’jil. Meskipun hanya dengan secangkir teh hangat, segelas kolak, dan beberapa butir kurma, tetap membuat kesan kebersamaan tersendiri disetiap buka puasa Ramadhan ini.

Hingga tanpa terasa, pelan namun pasti, waktu terus bergulir dan Ramadhan pun mulai memasuki masa akhirnya.

Saya baru kali ini merasakan sensasi mudik. Tiket kereta sudah saya beli jauh hari sebelumnya, bahkan beberapa jam ketika tiket mulai tersedia H-90hari. Alasan saya selalu memilih kereta adalah moda transportasi paling romantis setau saya. Mulai dari suasana stasiunnya, lekukan gerbongnya, hingga baris-baris tempat duduk dan toiletnya. Apalagi kualitas layanan kereta semakin kesini semakin membaik. 🙂

Tepat hari terakhir masuk kantor saya memilih waktu untuk mudik, karena sudah membuncah kangen suasana rumah, kangen Jogja.
Akhirnya hari-hari terakhir Ramadhan bisa saya nikmati bareng keluarga di rumah.
Alhamdulillah 🙂

Kejutan dibulan Juni

Bulan Juni sudah berjalan setengahnya dan berlalu dengan penuh kejutan juga perubahan  yang cukup krusial. Awal bulan berjalan normal seperti biasa, berangkat ke kantor dengan antusias karena memang awal bulan kan. Namun semua berubah ketika ada sebuah telepon dari perusahaan lain yang memberi kesempatan berkarir disana. Memang sebelumnya saya telah menjalani proses hingga MCU. Posisi saya yang sudah bekerja tidak lantas mengiyakan tawaran tersebut, saya meminta waktu untuk berfikir, handover pekerjaan dan ijin perusahaan sekarang, dan yang penting meminta restu orang tua. Setelah berfikir dan menimbang, ijin dan restu dikantong barulah saya mengkonfirmasi kesediaan itu.

Hari terakhir saya di kantor pertama saya, saya berangkat cukup bersemangat karena hari ini mau pamitan dengan rekan kerja yang lain. Saya cukup berkesan dengan suasana kerja dan kekeluargaan di kantor ini. Sambutan hangat dari ketika saya berkenalan masuk di kantor ini selalu saya rasakan setiap hari, dari Manager hingga OB nya. Ending yang sudah saya susun rapi di perusahaan ini tiba-tiba buyar akan sebuah telfon dari perusahaan yang memberi tawaran tadi. “Maaf waktu konfirmasi anda sudah lewat, dan anda tidak bisa lagi masuk”, seketika itu hanya lemes dan bingung, karena surat pengunduran diri saya sudah di approve. Njuk aku kudu piye? Bingung harus berbuat apa, akhirnya saya menghubungi project manager untuk menangguhkan surat pengunduran diri saya, dari beliau tidak masalah namun saya harus menghadap ke Manager dan HR. Ketika itu hari Jum’at, mungkin hari terpanik saya saat kerja. Setelah sholat Jum’at saya berpikir kembali dan mencoba melihat informasi di email yang saya terima, setelah saya lihat ternyata saya tidaklah telat mengkonfirmasi keputusan tersebut ke perusahaan yang menawari tadi. Akhirnya saya berusaha lagi menghubungi HR Manager perusahaan tersebut. Aku jelaskan kronologisnya dan untungnya bapaknya mau mengerti dan qodarullah ini memang kesalahan koordinasi internal mereka, dan bapaknya akan berusaha membantu.

Ketika belum mendapatkan titik terang, namun waktu sudah menunjukkan 18.00, ketika itu saya sudah membeli tiket pulang Jogja kereta jam 18.42. Akhirnya saya keluar kantor dan langsung mencari ojek, tanpa pulang kekosan dulu langsung menuju stasiun. Bapak tukang ojek yang sudah cukup tua tidak mampu menggeber motornya, akhirnya saya memintanya untuk yang di depan. Bisa dibayangkan, pikiran sedang buyar akan kejelasan status yang belum jelas, plus buru-buru ngejar kereta dengan jalanan macet. Alhamdulillah kereta masih bisa terkejar. Ketika duduk dikereta ada notifikasi untuk hari Senin datang ke kantor yang menawari tersebut untuk menjelaskan kronologis dan bertemu presiden direkturnya.

Weekend di Jogja pertama saya ketika sudah bekerja, alhamdulillah bisa mengobati tabungan rinduku pada keluarga, pada masakan ibu, pada nuansa khas jogja, pada udara segar dipagi hari, pada sahabat, dan semuanya yang sudah hampir dua bulan tidak menjumpainya. Weekend pun berlalu dan akhirnya harus kembali ke ibukota menjalani sebab diturunkan rizkiNya.

Senin, pagi saya datang ke kantor baru, mencoba melobi dan berdiskusi, dan alhamdulillah semua berjalan dengan baik, officially saya pindah kantor dan kerja hari ini. Kemudian saya kembali pamitan ke perusahaan lama, meskipun perasaan tidak enak karena saking paniknya meminta menangguhkan surat pengunduran diri sebelumnya, namun alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Karena training di kantor baru sudah berjalan selama 2 minggu, maka saya harus berusaha untuk bisa mengejarnya. Beruntung ada teman-teman yang juga ikut training yang bisa dimintai tolong untuk bertanya. Karena jarak kantor baru ke kosan lama cukup jauh, akhirnya saya putuskan untuk pindah kosan.

Pertengahan bulan Juni, umur saya pun genap 23, jatah hidup berkurang, diumur segini saya berharap saya semakin bisa berfikir kedepan, dan bisa belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, semoga umur saya semakin barokah, dan bisa mempergunakan sisa umur dengan kebaikan dan ketaatan. Banyak rencana-rencana besar yang saya harus siap menghadapinya. Semoga Allah menguatkan saya, dan melancarkan segala urusan saya, dan diberikan hasil yang terbaik.

Akhirnya saya mengucapkan terimakasih yang sangat banyak kepada kantor lama yang sudah memberikan sambutan hangat, suasana kerja dan kekeluargaanya. Terimakasih kepada teman-teman baru disana, ilmu baru nya meskipun masih terlalu singkat. Terimakasih kepada kosan pertama saya yang telah memberikan keasriannya, sambutan kicauan burung gereja di pagi hari, warteg yang pas dikantong dan pas rasanya. Terimakasih semuanya, semoga itu semua menjadi bagian pengalaman baru dalam hidup saya yang darinya saya banyak belajar.

Hari Raya Kelas Pekerja

1 Mei, merupakan harinya bagi para kelas pekerja. Biasa disebutnya May Day. Sejarah berawal dari sebuah perayaan atas keberhasilan para kelas pekerja dalam memperoleh hak-hak mereka atas kejamnya kapitalisme industri. Berbagai tuntutan awal mengenai jumlah jam kerja 8 jam per hari menjadi sebuah pergerakan kaum buruh.

Di Indonesia sendiri kabarnya Hari Buruh identik dengan sebuah pergerakan kiri yang konon di tunggangi PKI. Sehingga pada masa OrBa hari buruh ini tidak pernah diperingati. Kekhawatiran akan sebuah aksi yang anarkislah yang membuatnya tak pernah terperingati. Namun belakangan setelah revormasi hari buruh ini mulai mencul kembali dan rutin dilaksanakan oleh para kelas pekerja kita.

Umumnya, mereka akan turun kejalan menyuarakan tuntutannya supaya bisa didengarkan penguasa. Meskipun tak jarang aktivitas seperti ini kadang berujung rusuh dan terganggunya kativias masyarakat umum lainnya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penyampaian pendapat dan harapan untuk pemerintah dengan menyuarakan langsung, asalkan jangan anarkis dan tidak mengganggu kepentingan umum. Karena kaum kelas pekerja pun juga mempunyai hak untuk bicara dan menyampaikan pendapat mereka.

Kabarnya mulai tahun depan akan ada libur nasional pada hari buruh. Logis sih, jika dilihat dari runtutannya, otomatis para pekerja jika ingin turun aksi pasti tidak masuk kerja, perusahaan tidak beroprasi, para pekerja turun ke jalan, aktivitas pegawai lain jadi terhambat, mungkin solusi pemerintah untuk meliburkan pada hari buruh adalah pilihan yang pas.

Pada hari ini 1 Mei saya yang juga mulai menjadi pekerja di ibukota sedikit merasakan euforia para kaum kelas pekerja di ibukota. Hari ini memang saya tidak masuk kerja, saya ijin karena ada invitasi MCU dari perusahaan lain di suatu lab dikawasan buncit. Setelah MCU selesai saya pulang dengan busway transportasi andalan saya di ibukota. Namun karena ada aksi dari teman-teman buruh, busway yang saya tumpangi tidak bisa menuju ketempat yang saya tuju akhirnya hanya bisa berhenti di halte terdekat saat itu. Menunggu cukup lama di halte tersebut, melihat jalanan macet juga para pekerja yang bersemangat turun kejalan maka saya berusaha menikmati suasana tersebut, alhasil setelah berapa lama jalan bisa berjalan normal kembali.

Saya berharap yang terbaik buat kalian dan kita semua wahai saudara-saudaraku kelas pekerja.

 

Cerita awal perantauan

Dua minggu lalu saya berpamitan pada ibu dan bapak saya, mohon doa restu menjalani sebab untuk mencari sebuah akibat didatangkan rizky Nya untukku. Saya merantau di tanah orang, yang katanya keras kehidupannya. Penyematan gelar kerasnya ibukota itu memang benar adanya. Sepintas menjejakkan kaki disana langsung kental terasa buasnya di sepanjang jalan.

Adalah sebuah perusahaan EPC (Engineering, Procrument, Construction) yang berkantor di kawasan Industri Pulogadung sebut saja IBP lah yang mau menerimaku. IBP adalah nama Indonesia dari perusaahan yang berasal dari negerinya Napoleon. Pikirku sudah jalani saja dulu, insyaAllah Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik jika kita berusaha. Memang ini bukan list pertamaku, yang sebenarnya saya sangat mengharapkan sebuah owner minyak plat merah, namun karena surat cintanya tak kunjung tiba apa  daya saya harus menerimanya.

Langkah awal saya di perusahaan ini sangat terbantu dengan adanya kakak angkatan kuliah saya disini Mas Jalu (elins 04). Jauh sih beda angkatanya bahkan mungkin gag sempat berjumpa dengan sadar dikampus. Namun beliaulah yang membantuku mengantarkan mencari kos, hingga sering nebengi waktu pulang. Pertemuan kita pun pada awalnya bukan diperusahaan ini, namun waktu itu kita lagi sama-sama diundang interview di perusahaan Kuda Laut anak dari perusahaan owner plat merah. Namun lagi-lagi surat cintanya belum juga sampai pada kita.

Saya mendapatkan kos di sebuah kompleks perumahan di daerah Jalan Layur, Jakarta TImur. Alasan utama memilih kos ini adalah dekat dengan masjid, selain itu karena suasana komples perumahan jadi cukup kondusif dan tidak terlalu kumuh. Jaraknya sekitas 3 km dari kantor dan kalo jalan kaki sekitar 30 menitan. Harganya pun cukup wajar, dengan 500rb perbulan sudah ada kipas di kamar dan ada mesin  cuci untuk mencuci, meskipun kamar mandi di luar. Sejauh ini kos ini cukup nyaman saya tempati.

Hari pertama saya berangkat ke kantor dengan jalan kaki. Aku pikir lumayan dekat kalo aku lihat di google map, namun ternyata cukup ngos-ngosan juga jalan cepat sekitar 3 km biar gag terlambat. Namun seterusnya saya naik angkot dulu separo jalan (karena angkotnya gag masuk kawasan) lanjut jalan kaki menuju kantor. Untuk pulangnya juga jalan kaki, namun jika ada tebengan ya saya gag nolak 🙂

Hari pertama diajak oleh HR nya kenalan ke seluruh orang kantor mulai dari front office sampe CEO di perusahaan ini. Kebetulan ada satu teman lagi yang juga baru masuk dia bagian Electrical Eng, sedangkan saya Instrument Eng. Setelah itu oleh Manager Eng nya saya ditempatkan di div COMI *lupa kepanjangannya, ingetnya C.. Oil, Mining, I… Setelah itu dikasih meja, dan kebetulan di dekat mejanya mas Jalu. Untuk saat ini memang belum ada project baru, sehingga saya baru disuruh bantu projectnya mas Jalu yang sedang mengerjakan projectnya PHE ONWJ itupun sudah hampir selasai sudah sampai tahap As-Built.  Sementara saya bantu-bantu review drawing document.

Sudah hampir dua minggu ini saya merasakan suasana kantor yang cukup nyaman. Kalo kata mas Nugroho (electrical eng, project Chevron) “Suasananya disini memang dapet sih”, lain lagi kata mas Riza (instr eng, project PHE) “Untuk FG, masih susah buat belajar karena terlalu santai dan agag semrawut, juga untuk kantong agag kasihan saya”. Project Manager nya pun insyaAllah orang yang ngerti sunah, sehingga tiap sholat kita bisa ke masjid meskipun lokasinya agag jauh. Dari sini saya merasakan orang-orang di sini sangat  welcome pada orang baru, suasananya pun enak, namun bagi FG seperti saya masih agag bingung belajarnya karena tidak ada trainig di awal dan juga untuk kantong masih harus hemat ketat, juga sangat mengharapkan bisa ke site, yang rate per day nya lumayan.

Alhamdulillah sejauh ini saya bisa beradaptasi di lingkungan baru, insyaAllah akan saya jalani dulu dengan ikhlas, semoga Allah memudahkan jalan dan menunjukkan jalan terbaik. 🙂

 

Perbedaan FAT dan SAT

Pertama kali mendengar kata FAT dan SAT adalah saat melaksanakan Kerja Praktek. Kedua kata itu memang membuat saya penasaran karena sering saya dengar dari pembimbing yang lagi mengerjakan tugas tersebut. Akhirnya kedua kata baru itu baru saya ketahui artinya setelah saya tanyakan langsung kepada pembimbing saya.

FAT = Factory Acceptance Testing
SAT = Site Acceptance Testing Continue reading Perbedaan FAT dan SAT