Category Archives: Review

semua tentang cerita ulasan

Aplikasi Inspirasi Desain Rumah

Ketika sedang berselancar mencari inspirasi saya menemukan website yang cukup kece menurut saya mengenai desain interior Houzz.com. Saya memang bukan anak arsitek atau desain. Tapi senang aja ketika melihat-lihat desain desain rumah, interior, exterior, dan segala keunikannya. Setidaknya bisa buat inspirasi ketika akan membangun atau merenovasi rumah kelak.

Yang uniknya situs ini menyediakan versi aplikasinya. Bisa di unduh di App Store. Karena penasaran, saya pun memasang aplikasi ini di gawai saya. Dan benar aplikasi ini menyuguhkan banyak inspirasi mengenai berbagai macam desain. Selain ada banyak referensi desain yang sudah di kategorikan dalam macam macam ruang, maupun tipe ruangan, kita juga bisa berkonsultasi dengan para pakar desainnya. Disitu juga di paparkan perkiraan harga item/ perabot yang unik unik.

Berikut sekilas tampilannya

Houzz

Salah satu yang menarik adalah kita dapat berlatih mendesain sendiri ruangan kita, dengan menempatkan perabotan dummy yang ada, kita tinggal mengaturnya.

 

Teng GO dan Alternatif Ngopy

Sore selepas ngantor, kali ini pulang teng Go. Memang dalam tiga bulan terakhir siklus kerja saya sudah kembali normal 8-17. Sedikit banyak ada kaitannya dengan harga minyak dunia yang anjlok sehingga banyak perusahaan yang bermain di dunia migas mulai kelimpungan tak terkecuali tempat dimana saya bekerja saat ini. Project pending, hingga cost down dalam segala lini, masih untung tidak ada pengurangan karyawan dan hanya memperketat overtime saja.

Sore ini sesampai di kosan, mendapati pompa air kosan rusak, sehingga krisis air melanda. Selepas isya’ saya mencoba keluar kosan untuk mencari ‘air’. Beruntungnya tempat kosan saya dekat dengan tempat makan dan nongkrong afterwork. Tinggal milih dan jalan┬ámau ke Plaza Festival Epicentrum, atau Setiabudi one.

Kali ini saya memilih Anomali Cafe Setiabudi One. Tempat ini cukup cozy untuk nongkrong afterwork, dengan pilihan kopi khas anomali. Tempat paling cozy adalah pojokan dekat jendela bisa buat mengamati susana luar. Apalagi kalau di luar hujan, sangat pas sekali bagi perenung seperti saya.

Sudah seminggu ini Jakarta mulai diguyur hujan setelah kemarau yang cukup panjang. Hujan memang berkah bagi makhluk bumi, terlihat ranting-ranting mulai kembali menghijau, dan air bisa kembali menghidupi. Namun bisa saja hujan menjadi bencana karena ulah manusia sendiri, membuat tanah-tanah penyerapan menghilang dan diperparah saluran air sungai yang tersumbat. Semoga hujan hujan ini turun dengan berkah-Mu.

Selain Anomali, di Setiabudi One juga ada tempat ngopi lain semisal Starbuck, World Coffe. Untuk Starbuck tidak usah dibahas karena tempat ini jamak dimana-mana. Karena tempat ini selalu rame, saya malas untuk kesini, lagi pula di gedung kantor tempat saya kerja juga ada. Untuk World Coffe baru seminggu lalu saya bersama beberapa teman saya mencobanya. Nampaknya tempat ngopi ini baru dibuka disini. Coffe yang lumayan keras dan harga yang standard, cukup jadi alternatif untuk bisa melek. Susananya juga enak dan gag begitu rame, disediakan juga buku-buka bacaan yang gag biasa.

Kalau lagi tidak ke Setiabudi One, saya memilih Plaza Festival, McD jadi alternatif paling sering saya kunjungi. Selain buka 24 jam, juga tersedia layar lebar untuk menonton pertandingan bola. Namun semenjak berlangganan TV berbayar sendiri saya lebih memilih menonton bola di kosan.

Setidaknya tempat-tempat tadi bisa membuat gairah menulis saya kembali, yang selama ini terkalahkan oleh kasur kosan, setidaknya satu postingan ini ­čÖé

Dibalik Make Up Njagong

Ceritanya lagi mau kondangan ke nikahan Nia dan Fendi di Solo, gag nemu tempat buat dandan, alhasil nunut dandan di SPBU Manahan yang ternyata cukup cozy juga. Tempatnya luas dan ada Cafe di sampingnya.

Dari pada bosen nunggu cewek-cewek dandan iseng-iseng njajal aplikasi Magisto. Menurut saya aplikasi ini cukup simpel dengan menyediakan fitur magis nya tinggal memasukkan footage video maupun foto kemudian akan diolah oleh aplikasi ini, maka jadilah video yang ciamik sesuai yang kita mau. Selain gratis terdapat juga banyak template video maupun backsound nya dan setelah jadi tinggal share ke channel sosial media yang kita mau.

Berikut salah satu hasil dari olahan aplikasi Magisto, yang aplikasinya dapat ditemukan di Google play.

 

Melarikan Diri dengan Buku

Beberapa waktu lalu saya pergi ke sebuah toko buku di daerah Semanggi. Mungkin saya lagi drop, semangat saya lagi mlempem sehingga saya memilih melarikan diri ke sana dari pada berdiam diri di kosan. Rak-rak buku itu saya susuri satu demi satu. Sudah agag lama memang saya tidak melakukan aktifitas seperti ini. Menyendiri di kerumunan buku dan para penikmat buku lain dalam suasana relatif sepi khas toko buku. Saya cuma membaca-baca sepintas sampul buku, dan sedikit membaca buku yang kebetulan memang sudah terbuka sampul plastiknya.

Dalam salah satu rak buku bacaan novel dan motivasi saya menemukan buku yang cukup ringan dibaca dan menarik untuk saya ambil. Kebetulan ada yang sudah tidak bersampul plastik. Saya melihat sepintas nampaknya tidak ada salahnya saya membawanya pulang, karena memang saya lagi butuh nutrisi bacaan yang memotivasi namun ringan dibaca. Buku itu berjudul Catatan Pagi Hari ditulis oleh Fitri Sudjarwadi. Buku yang belakangan saya tahu itu merupakan sekumpulan catatan penulis yang di posting di blognya. Selain membawa pulang buku tadi saya juga membeli satu buku lain berjudul Kematian adalah Nikmat karya Quraish Shihab. Agag berat memang, namun saya rasa cukup menarik dan bermanfaat.

Buku pertama saya habiskan tidak lama, sepulang dari toko buku itupun saya mampir disebuah warung makan cepat saji yang kebetulan ada nonbar bola tim favorit. Sambil menunggu pertandingan, sudah habis sepertiga buku saja. Setelahnya saya selesaikan buku itu di kereta perjalanan Jakarta-Jogja weekend lalu. Isi bukunya cukup sederhana yang menceritakan pengalaman pribadi penulis dengan ada bumbu inspirasinya.

Berbeda dengan buku kedua, buku yang cukup berat ini perlu waktu khusus untuk mebaca dan mencernanya. Memang tipikal saya kalo membaca tidak bisa cepat, saya seringnya mengeja kata demi kata sambil berimajinasi arti kata dalam kalimat tersebut. Itu yang membuat bebeapa buku yang saya beli tidak katam saya baca. Meskipun saya belum selesai membaca buku kedua ini, saya sudah setuju dengan buku ini bahwa kita harus menikmati kematian, bukanya malah takut menghindar, karena kematian itu adalah sebuah keniscayaan. Selanjutnya kehidupan didunia ini kita harus menyiapkan bekal untuk menjalani fase setelah kematian. Dalam buku ini dijabarkan secara gamblang hakekat hidup, mati dan segala proses evolusi perjalanan panjang manusia. Dijelaskan pula mengenai pandangan” yang keliru mengenai hidup dan mati.

Memang saya belum selesai membacanya, namun ketika sampai disalah satu halamannya saya teringat postingan terbaru dari Topx├é┬átentang Through Struggle yang saya duga itu kisah dirinya. Berikut akan saya kutipkan dari beberapa paragraf dalam buku itu yang menurut saya menarik. Mengenai jawaban dari Abbas al-‘Aqqad seorang cendekiawan Mesir kenamaan ├é┬áketika ditanya oleh salah seorang mahasiswa yang baru saja diwisudanya mengenai langkah apa yang harus ditempuh setelah lulus itu.

Teruslah berjalan dan berjalan. Janganberhenti berjalan. Kalau perjalanan meletihkanmu, maka duduklah, dan bila engkau duduk lihatlah ke belakangmu, apa yang telah engkau lakukan dan apa pula yang telah engkau persembahkan. Kalau engkau tidak menemukan sesuatu yang telah engkau hasilkan, maka lanjutkan lagi perjalananmu dan bila engkau letih, duduk lagi untuk melakukan instrospeksi dan jangan pernah berhenti bertanya: Apakah engkau telah memilih jalan yang benar, apakah jalan yang kau pilih itu telah menjadikanmu sesuatu yang berarti? Apakah jalan yang engkau lalui datar ataukah penuh dengan rintangan?Apakah engkau menemukan dirimu melompat dari hambatan jalan?Apakah engkau memperhatikan kakimu ketika sedang berjalan?Apakah engkau menggambar pohon atau mengikut pandanganmu ke arah burung yang sedang terbang? Apakah engkau melihat langit dan bertanya: Apa yang berada di atas kita ini? apakah engkau punya peranan? apakah engkau dibutuhkan? kalau itu tidak engkau lakukan dalam hidupmu, maka tidak perlu lagi engkau melanjutkan langkah. (Kematian adalah nikmat, p.37)

Weekend yang tak biasa

Sebagai pekerja, kegiatan saya begitu template yaitu kerja dari Senin sampai Jumat, dan weekend adalah pengecualiannya. Sehingga weekend menjadi waktu yang paling pas untuk memanjakan diri. Kadang saya manja untuk berdiam diri di kamar kosan, kadang juga saya manja untuk bermain futsal bareng teman kantor, dan kadang lain saya memanjakan rindu saya untuk pulang ke rumah, tilik orang tua. Sehingga weekend itupun sudah menjadi variasi template kegiatan tersendiri.

Setelah berbulan-bulan template itu menjadi pola tersendiri  sehingga saya mulai merasakan kerinduan yang lain, mungkin aku butuh piknik. Aku perlu menganti template itu, aku perlu menjalani weekend yang tak biasa.

Akhir January lalu saya gabung dengan segerombolan orang-orang yang mungkin juga sama seperti saya, butuh piknik. Saya bergabung dalam open trip ke suku Baduy Dalam di Lebak Banten. Sengaja saya sendirian bergabung dengan orang-orang yang belum kukenal sebelumnya. Tujuannya memang saya ingin suasana baru. Terangkum cerita dari sana, saya dapat kenalan baru, teman baru. Dari perjalana akhir pekan yang cukup singkat itupun saya kemudian tahu ternyata masih ada sekelompok orang yang lokasinya relatif dekat dengan kemewahan ibukota, mereka memilih untuk mempertahankan kearifan lokal mereka. Hidup dengan tidak mengadopsi budaya luar mentah-mentah, bahkan listrik pun tidak ada. Disana saya ikut merasakan salah satu kehidupan etnic keseharian mereka, mandi di kali dengan air yang masih jernih. It was fun.

Perjalanan weekend yang tak biasa yang lain, awal bulan Maret lalu saya ikut dalam sebuah trip yang diadakan oleh teman-teman kantor lama saya. Kali ini motivasi pertama saya adalah bisa menjaga silaturahmi dengan teman kerja lama saya. Pulau Pari adalah tujuannya, di sini saya bisa melepaskan diri dari kebisingan ibukota. Jalan-jalan keliling pulau pake sepeda, bersantai dibawah pohon dipinggir pantai sambil hammock-an. Main sepak bola pantai sama anak-anak setempat. Hemt cukup menyenangkan.

Dua Minggu lalu ada acara semacam outdoor activity sama teman-teman kantor. Tempatnya di Taman buah Mekarsari. Berkebun yang sebenarnya itu hal biasa di rumah saya, namun karena mungkin di Jakarta ini memang udah jarang ada kebun, aktivitas itu pun menjadi hal yang cukup menarik. Saya mengikuti serangkaian acara bareng teman kantor yang isinya cuma seru-seruan sekejap melupakan pekerjaan. Rumah pohon dan kawasan yang memang berkonsep kebun ini cukup pas untuk sekedar melarikan diri dari hiruk pikuk Jakarta.

Bagaiamana dengan akhir pekan kalian?

Memori dari timur

Setahun lalu, bulan Desember malam ini saya sedang memandangi langit dari atas kapal Sea Lady. Kapal tempat kami bermalam, karena beruntung kami ketemu dengan seorang teman baru dalam penyebrangan dari pelabungan Sape menuju Labuhan Bajo yang ternyata seorang ABK Sea lady yang sedang sandar di dermaga. Hujan telah reda setelah menyambut kedatangan kami, namun kali ini tirai langit tersingkap dan nampaklah bintang-bintang disana.

Sebuah perjalanan ketimur dengan bekal pas-pasan, kami ingin menjangkau timur sejauh mungkin, sejauh yang kami bisa. Perjalanan yang mempertemukan dengan orang-orang baru, pengalaman baru, karena memang itukan hakekat sebuah perjalanan, mengambil pelajaran setiap moment di dalamnya.

Tapi itu setahun lalu, kali ini saya hanya bernostalgi dari catatan perjalanan teman saya yang disusun rapi dalam blognya journalkinchan. Setahun memang telah berlalu dan masing-masing dari kami sudah menjalani perjalanannya masing-masing. Dua dari sahabat saya sedang melunasi janji kemerdekaan, mengabdi menjadi guru dipelosok dalam sebuah tugas mulianya. Sedangkan saya dan satu teman yang lain sedang menjalani perjalanan standard, hijrah ke ibukota, menjemput rezeki disana.

Kapan  kita bisa berjalan bersama lagi? Semoga waktu mempertemukan kita lagi dalam perjalanan-perjalanan lain, segera!

Kerjabakti untuk Negri

Kerjabakti, kata ini sudah mulai asing terdengar. Atau mungkin kata ini sudah mulai tenggelam ikut terkubur bersama rata tanah yang mulai dibangun oleh para pengembang. Apalagi di kota seperti Jakarta ini, yang masyarakatnya cenderung individulistis. Berbeda halnya dengan di desa, saya masih bisa menjumpai aktivitas bernama kerjabakti ini, masih jelas diingatan saya ketika membantu salah satu keluarga warga didesa saya ‘gotong royong’ memperbaiki rumahnya. Orang satu desa berkumpul berbagi tugas saling bantu-membantu. Atau lagi saya kembali teringat ketika saya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata, bapak-bapak di desa tempat saya KKN gotong royong, menyusuri saluran air dari sumber mata air yang jaraknya berkilo-kilo meter dan harus naik turun bukit karena beberapa hari terakhir alira air di desa saya KKN tidak lancar. Mungkinkah aktivitas kerjabakti atau gotong royong terlaksana di kota?

Beberapa waktu yang lalu saya menemukan jawaban itu, dan jawabannya adalah mungkin saja terjadi. Saya menemui sebuah gerakan komunal yang cukup menarik, dikemas dalam sebuah seraingkaian acara dalam Festival Gerakan Indonesia Mengajar untuk melakukan kerja bakti. Sebuah acara yang di selenggarakan oleh Yayasan Indonesia Mengajar, bertujuan akhir memberi bantuan media pendukung untuk para Pengajar Muda yang sedang berada didaerah penugasan yang kesulitan fasilitas media belajar.

Acara ini cukup unik, karena menghimpun energi dari para relawan untuk mau turun tangan, bergerak berkontribusi langsung meskipun melakukan hal-hal sederhana, namun bermanfaat cukup besar bagi anak-anak di pelosok negeri sana. Ada banyak wahana yang tersedia, sehingga para relawan kerjabakti bisa memilih wahana kerja bakti apa saja yang ingin dilakukan. Beberapa wahana itu  adalah Kotak Cakrawala memilih dan mengemas buku untuk kemudian dikirim ke rumah belajar di penjuru nusantara, Kartu Pedia rangkuman pengetahuan umum yang dibuat kartu menjadikan informasi menarik buat sekolah, Keping Pedia keping puzzle pengetahuan untuk sarana belajar yang asyik, Surat Semangat berbagi motovasi yang dituangkan di dalam surat, Kemas-Kemas Sains membuat dan mengemas peraga pembelajaran sains, Teater Dongeng merekam dongen yang diperankan sendiri untuk diputar bersama di ujung negeri, Melodi Ceria menyanyikan lagu anak dan daerah untuk perkaya pengetahuan  tentang budaya nasional, Sains Berdendang mengkreasikan lagu populer untuk ceriakan kegiatan belajar, Video Profesi merekam cerita inspiratif mengenai profesi relawan untuk memberi inspirasi anak-anak diujung negri.

Melihat antusias para relawan lain yang datang membuat saya juga terpantik semangat untuk terus berbagi, saya juga meyakini apa yang saya perbuat ini belum ada apa-apanya, namun saya juga percaya, pergerakan kolektif meskipun kecil akan memberikan dampak positif bagi orang lain, dan saya membuktikan sendiri di FGIM ini. Saya optimis masih banyak orang-orang baik di negri ini yang siap turun tangan untuk membantu sesama, membantu saudara kita yang membutuhkan. Semoga langkah saya, langkah kita semua tidak hanya terhenti sampai di sini. Semoga bisa terus turun tangan dan berbagi di hal-hal lain.

Alternatif Pulang

Ada kabar bagus bagi kaum kelas pekerja dari daerah seperti saya, bahwa mulai bulan September tiket kereta ekonomi turun harga menjadi Rp 50.000,-. Berita ini sungguh menyegarkan bak guyuran hujan dikemarau panjang, dikala hati kering merindu akan kampung halaman. Sebuah harapan untuk bisa sering-sering ketemu keluarga di rumah. Alhamdulillah bisa sering pulang.

Kereta ekonomi menjadi pilihan yang paling masuk akal dan juga masuk dikantong saya. Masuk akal karena perbaikan dari penyediaan layanannya yang semakin membaik dari PT.KAI baik jadwalnya maupun kondisi didalam kereta itu sendiri. Masuk dikantong karena harga tiket untuk kereta ekonomi cukup bersahabat dan terpaut cukup jauh dari kelas-kelas diatasnya. Ada hal lain juga yang saya suka yaitu ketika mengamati suasana dalam kereta ekonomi dan obrolan antar penumpannya.

Kereta Progo, adalah kereta ekonomi jarak jauh PP Jakarta-Jogja, lebih tepatnya Stasiun Pasar Senen (PSE)-Lempuyangan (LMP). Berangkat dari PSE pukul 22.00 dan tiba di LMP sekitar pukul 06.20. Melihat jadwal yang cukup bagus dan pas, artinya bagi pekerja seperti saya, jam 22.00 berangkat dari PSE adalah jam yang cantik, sudah pulang kerja, dan tidak terburu-buru ke stasiun.

Ada sebuah kelompok komunal yang tercipta dengan sendirinya yaitu komunitas PJKA “Pulang Jumat Kembali Ahad”. Kelompok ini secara natural terbentuk bagi para pekerja yang bekerja diluar kota, biasanya orang daerah yang bekerja ke jakarta, yang setiap akhir pekan pulang kedaerah masing-masing untuk bertemu dengan keluarga. Jumat sore selapas jam kantor mereka pulang ke kampung halaman, hari Sabtu bisa berkumpul dengan keluarga, dan Ahad sore mereka kembali ke tempat kerja.

Saya sering mengobrol dengan penumpang lain dikereta ketika pulang, mereka rata-rata mengaku sudah rutin setiap akhir pekan pulang ke daerah mereka. Biasanya bagi yang sudah berkeluarga dan istri-anaknya berada di sana. Mereka rela melakukan perjalanan jarak-jauh setiap minggu untuk keluarganya. Ini sebabnya kerap kali saya temui orang-orang yang sama dalam satu gerbong setiap minggunya.

Kereta Progo menjadi primadona bagi para kelas pekerja juga PJKA dari Jogja seperti saya, jadwalnya yang cantik membuat tiket ini selalu ludes terjual bahkan untuk perjalanan untuk 2 bulan kedepan. Bagi mereka yang rutin setiap minggunya pulang, sudah langsung membeli tiket bahkan ketika waktu tiket dibuka untuk tangal tersebut. Ini sebabnya tiket progo pada hari juma’at malam selalu habis terjual.

Bagi saya yang memang belum bisa pulang setiap minggu, namun insyaAllah saya usahakan sebulan sekali, agak kesulitan mendapatkan tiket tersebut, kecuali kalo sudah merencanakan tanggal tersebut jauh jauh hari mau pulang dan langsung pesan begitu tiket dijual.

Saya mendapatkan alternatif itenerary untuk pulang yaitu saya menggunakan Kereta Ekonomi Tawang Jaya, kereta tujuan Stasiun Pasar Senen-Semarang poncol. Jadi saya terlebih dahulu lewat semarang untuk kemudian dilanjut naik bus menuju Jogja. Memang agag ribet dan pastinya lebih lama, namun bisa jadi alternatif ketika tiket Progo habis. Jadwal kereta Tawang Jaya berangkat dari PSE pukul 22.10 dan sampai di SMC sekitar pukul 05.40, harga tiketnya lebih murah Rp 45.000,-. Selanjutnya dari depan stasiun naik angkutan jurusan terminal Terboyo Rp 5.000,- dan dari terminal bisa memilih bus jurusan Semarang-Jogja. Untuk tiket bus ekonomi biasa Rp 20.000,- dengan waktu tempuhh sekitar 3-4 jam dan untuk tiket ekonomi PATAS-AC Rp 40.000,- waktu tempuh 2-3 jam. Untuk yang ingin segera bertemu keluarga saya sarankan naik yang PATAS, jadi bisa sampai rumah bisa lebih cepat, sekitar pukul 09.00 pagi.

Untuk kembali ke jakartanya pada hari Ahad ada banyak alterntif kereta ekonomi dari Lempuyangan menuju Pasar Senen, mulai dari kereta Progo berangkat pukul 15.30, kereta Bengawan berangkat pukul 16.33 dan Gaya Baru Malam selatan berangkat pukul 17.10, kalo saya lebih memilih naik kereta GBM untuk balik ke Jakarta karena bisa punya lebih banyak waktu dirumah karena jam berangkatnya jam lebih sore.

Ada banyak alasan orang untuk pulang kerumah, bagi saya alasan untuk selalu pulang kerumah adalah kerinduan akan keluarga dan menjenguk orang tua, memastikan mereka bisa melihat saya tumbuh dewasa setalah mereka merawat dan membesarkan saya sedari kandungan.

Menertawakan Jakarta

Sepetak kubikal dengan seperangkat komputer menjadi sesuatu keseharian saya saat ini. Begitupun dengan kamar ukuran tiga kali empat meter menjadi tempat tidur paling aman dan nyaman. Berangkat pukul tujuh kembali pukul tujuh, belum lagi ganasnya jalanan yang setiap saat mengancam, beruntung saya bisa berdamai dengan angkutan kota, meskipun tak bergaransi setidaknya saya masih bisa diantarkannya sampai tujuan tanpa menambah kemacetan ibukota dengan tanpa berkendaraan sendiri. Itulah aktifitas harian yang harus saya jalani dan coba nikmati.

Rutinitas ini kadang membuat lalai, lupa pada diri sendiri. Tubuh ini sewaktu-waktu memang perlu berhenti, sekedar duduk dan menghirup udara segar yang susah ditemui di tempat ini. Sekedar memanjakan badan untuk beristirahat. itu sebabnya akhir pekan berdiam diri dikamar menjadi pilihan ataupun alternatif paling masuk akal yang bisa dijalani.

***

Sahabat sejak sekolah atas dulu mengabarkan bahwa dia akan ada acara di Jakarta, untuk sebuah seminar atas karya papernya di sebuah konverensi energi di JCC. Saya langsung menawarkan mampir saja dikosan saya. Kita dekat, didekatkan oleh waktu, kita sering membahas hal-hal diluar nalar dan kita sudah tau ihwal satu sama lain dari diri kita masing masing. Sahabat saya ini memilih untuk tidak mengikuti jejak saya menjadi pengurban menjajakan diri di ibukota, dia memilih untuk ‘freelance’ di Jogja. Kata ‘freelance’ yang susah menjelaskannya jika ditanya orang apa pekerjaannya. Dia menulis paper ilmiah, dia meneliti, dia seminar, dia bebas tidak terkungkung di sebuah meja dan kubikal seperti saya.

Akhir pekan ini kita sepakat untuk jalan-jalan di ibukota. Sebuah aktifitas yang tidak biasa. Setidak biasanya Jakarta di hari Ahad, karena jalanan bukan lagi dipenuhi kendaraan bermotor, namun hanya pejalan, pelari dan pesepeda. Saya dan sahabat saya mencoba ikut menikmatinya. Kita berjalan sepanjang jalan sudirman-thamrin, sesekali menertawai Jakarta, entah itu mengomentari gedung-gedungnya, ataupun suasananya. Setidaknya dihari ini aktifitas saya tidak sebatas di kubikal. Sahabat saya terlihat lebih menikmatinya, tertawanya lebih riang, Jakarta memang lucu untuk ditertawakan, saya pun ikut tertawa karena inilah realita yang seharian saya temui.

Perjalanan kita terhenti di Istiqlal, masjid yang konon terbesar di asia tenggara. Kita beristirahat, sejenak melupakan tawa-tawa tadi. Waktu itu memang ada pengajian di sana. Tetiba saya ingat, tubuh ini memerlukan haknya, yang terlupakan oleh rutinitas. Sejenak diam dan mendengarkan rupanya cukup mendamaikan jiwa dan raga ini.