Category Archives: Snapshoot

merekam jejak dengan kumpulan cahaya

Pergi Untuk Kembali

 

Sejenak mengurai penat di weekend yang biasa. Sudah lama memang tidak bercerita di blog ini.  Mungkin istilahnya para penulis writer’s block.  Tapi entahlah dengan apa yang terjadi pada diri saya yang bukan ‘penulis’ ini, namun jika harus jujur itu memang benar. Saya lihat postingan  terakhir pada awal tahun lalu. Kehilangan sense untuk cerita dan menulis. Memang tidak ada yang bisa begitu untuk di bagi selama ini, saya tidak bervakansi, tidak jalan-jalan, tidak ada hal ‘wah’ yang terjadi. Kebanyakan justru berjalan-jalan untuk mengusir kejenuhan, saya justru jenuh dengan jalan-jalan itu sendiri. Saya kehilangan esensi dari bervakansi, saya sadar diri selama ini saya hanya terobsesi untuk mencari bukan untuk merefleksi.

Seperti lansekap panorama di atas, mungkin itu gambar biasa dan dari tempat yang jamak dikunjungi. Namun dari situ saya justru mau berefleksi untuk apa kita bervakansi. Saya memilih Parangtritis sebagai tempat sejenak me-refresh itu semua. Selain memang sudah lama tidak ke sana juga yang paling terjangkau dari sisi jarak, waktu dan biaya untuk dikunjungi di weekend yang biasa ini. Dari tulisan sederhana dan weekend yang biasa ini semoga saya bisa kembali bisa menulis setelah ini. Selamat berakhir pekan.

Ballet Ramayana

Ballet Ramayana merupakan sebuah pertunjukan sendratari dengan cerita Ramayana. Kata Soekarno bapak proklamator kita:

Ballet Ramayana adalah satu percobaan (good effort) untuk membawa seni pentas Indonesia ke taraf yang lebih tinggi | Soekarno 25/8/1961

berikut sinopsis ceritanya

Pengantar Prabu Janaka, Raja Kerajaan Mantili memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Dewi Shinta.

Shinta
Shinta

Untuk menentukan siapa calon pendamping yang tepat baginya, diadakanlah sebuah sayembara. Rama Wijaya, Pangeran dari Kerajaan Ayodya akhirnya memenangi sayembara tersebut.

Rama
Rama
Rama dan Shinta
Rama dan Shinta
Rama dan Shinta
Rama dan Shinta mesra

Prabu Rahwana, pemimpin Kerajaan Alengkadiraja sangat menginginkan untuk menikahi Dewi Shinta. Namun, setelah mengetahui siapa Dewi Shinta, ia berubah pikiran. Ia menganggap bahwa Dewi Shinta merupakan jelmaan Dewi Widowati yang telah lama ia cari-cari

Hutan Dandaka Rama Wijaya beserta Shinta, istrinya, dan ditemani oleh adik lelakinya, Leksmana, sedang berpetualang dan sampailah ke Hutan Dandaka.

Di sini mereka bertemu dengan Rahwana yang begitu memuja Dewi Shinta dan sangat ingin memilikinya. Untuk mewujudkan gagasannya, Rahwana mengubah salah satu pengikutnya bernama Marica menjadi seekor kijang yang disebut Kijang Kencana dengan tujuan memikat Shinta. Karena tertarik dengan kecantikan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Rama menyanggupi dan meninggalkan Shinta yang ditemani Leksmana dan mulailah dia memburu kijang tersebut. Setelah menunggu lama, Shinta menjadi cemas karena Rama belum datang juta. Ia meminta Leksamana untuk mencari Rama. Sebelum meninggalkan Shinta, Leksmana membuat lingkaran sakti di atas tanah di sekeliling Shinta untuk menjaganya dari segala kemungkinan bahaya. Begitu mengetahui bahwa Shinta ditinggal sendirian, Rahwana mencoba untuk menculiknya namun gagal karena lingkaran pagar pelindung yang menjaganya. Kemudian ia mengubah diri menjadi seorang Brahmana. Shinta jatuh kasihan terhadap Brahmana yang tua tersebut dan hal tersebut membuatnya keluar dari lingkaran pelindung. Akibatnya, Rahwana – yang menjelma menjadi Brahmana tua tersebut – berhasil merebut dan membawanya terbang ke Kerajaan Alengka.

Memburu Kijang Rama berhasil memanah kijang yang dikejarnya, namun tiba-tiba kijang tersebut berubah menjadi raksasa. Terjadilah perkelahian antara Rama dengan raksasa tersebut. Raksasa tersebut akhirnya dapat dibunuh Rama menggunakan panahnya. Kemudian tibalah Leksama dan meminta Rama untuk segera kembali ke tempat di mana Shinta berada.

Penculikan Shinta Dalam perjalanan ke Alengka, Rahwana bertemu dengan burung garuda bernama Jatayu. Mereka kemudian terlibat pertengkaran karena Jatayu mengetahui bahwa Rahwana menculik Dewi Shinta – yang adalah anak Prabu Janaka, teman dekatnya. Sayangnya, Jatayu berhasil dikalahkan oleh Rahwana saat mencoba membebaskan Shinta dari cengkeraman Rahwana. Mengetahui bahwa Shinta tidak lagi berada di tempat semula, Rama dan Leksmana memutuskan untuk mencarinya. Dalam perjalanan pencarian tersebut, mereka bertemu dengan Jatayu yang terluka parah. Saat bertemu pertama kali tersebut, Rama mengira bahwa Jatayulah yang menculik Shinta sehingga ia berniat membunuhnya namun Leksmana mencegahnya. Jatayu menjelaskan apa yang terjadi sebelum akhirnya ia meninggal.

Jatayu Mati
Jatayu Mati

Tidak lama kemudian, seekor kera putih bernama Hanoman tiba. Ia diutus oleh pamannya, Sugriwa, untuk mencari dua pendekar yang mampu membunuh Subali.

Hanoman
Hanoman
Hanoman
Hanoman

Subali adalah serang yang suci dan telah mengambil Dewi Tara, wanita kesayangan Sugriwa. Setelah dipaksa, akhirnya Rama memutuskan untuk membantu Sugriwa.

Gua Kiskendo Pada saat Subali, Dewi Tara dan anak lelakinya sedang berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah Sugriwa dan langsung menyerang Subali. Sugriwa yang dibantu oleh Rama akhirnya mampu mengalahkan Subali. Sugriwa berhasil merebut kembali Dewi Tara. Untuk membalas kebaikan Rama, Sugriwa akan membantu Rama mencari Dewi Shinta. Untuk tujuan ini, Sugriwa mengutus Hanoman untuk mencaritahu mengenai Kerajaan Alengka. Kemenakan Rahwana, Trijata, sedang menghibur Shinta di taman. Rahwana datang untuk meminta kesediaan Shinta menjadi istrinya. Shinta menolak permintaan tersebut. Hal ini membuat Rahwana kalap dan mencoba membunuhnya namun Trijata menghalanginya dan memintanya untuk bersabar. Trijata berjanji untuk merawat Shinta. Saat Shinta merasa sedih, ia tiba-tiba mendengar nyanyian indah yang disuarakan oleh Hanoman, si kera putih.

Hanuman menolong Shinta
Hanuman menolong Shinta

Hanoman memberi tahu Shinta bahwa ia adalah utusan Rama yang dikirim untuk membebaskannya. Setelah menjelaskan tujuannya, Hanoman mulai mencari tahu kekuatan seluruh pasukan Alengka. Ia kemudian merusak taman tersebut. Indrajit, anak lelaki Rahwana, berhasil menangkap Hanoman namun Kumbokarno mencegahnya untuk membunuhnya dan Hanoman dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar.

Hanuman Obong
Hanuman Obong

Namun saat dibakar, Hanoman berhasil lari dan justru membakar kerajaan dengan tubuhnya yang penuh kobaran api.

Hanuman Obong
Hanuman Obong

Segera setelah membakar kerajaan, Hanoman datang kepada Rama dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Rama kemudian pergi ke Alengka disertai dengan pasukan kera. Ia menyerang kerajaan dan membuat pasukan Alengka kocar-kacir setelah Indrajit – sebagai kepala pasukan kerajaan – berhasil dibunuh. Rahwana kemudian menunjuk Kumbokarno – raksasa yang bijaksana – untuk memimpin pasukan dan menyerang kerajaan Alengka. Namun kemudian Kumbokarno berhasil dibunuh oleh Rama dengan panah pusakanya. Rahwana mengambil alih komando dan mulai menyerang Rama dengan bala tentara seadanya. Rama akhirnya juga berhasil membunuh Rahwana. Dibawa oleh Hanoman, mayat Rahwana diletakkan di bawah gunung Sumawana.

Rama Bertemu Shinta Setelah kematian Rahwana, Hamonan menjemput Shinta untuk dipertemukan dengan Rama. Namun Rama menolak Shinta karena ia berpikir bahwa Shinta sudah tidak suci lagi. Shinta kecewa dan untuk membuktikan kesetiaannya kepada suaminya, ia menceburkan diri ke dalam kobaran api dan membakar diri.

Shinta dikerumuni dewi dewi
Shinta dikerumuni dewi dewi

Karena kesuciannya dan atas bantuan Dewa Api, ia tidak terbakar dan selamat. Hal tersebut membuat Rama bahagia dan akhirnya menerimanya kembali menjadi istrinya.

Simpuh Shinta pada Rama
Simpuh Shinta pada Rama

thanks to om nya dek Tata yang udah ngasih free ticket buat liat pertunjukan ini, sering sering yah 🙂

Pulang dan Pergi

Dua hari yang lalu ada sms teman saya (Fika), ada kabar duka dari teman saya kuliah (Kurnia) bahwa ayahandanya telah tiada. Saya dan Fika terus merencanakan gimana caranya bisa takziah kesana. Rumah Kurnia ada di daerah Gombong/Kebumen,ya kira kira sekitar 150 km dari Yogya. Akhirnya diputuskan untuk naik motor, berangkat pagi jam 6 karena rencana dimakamkan pukul 10.

Mentari
Silih bergantinya siang dan malam, hidup dan mati sudah ada yang mengatur

 

Awalnya jalanan lancar karena masih pagi, namun semakin lama sudah mulai padat merayap karena memang ini H+4 Lebaran orang-orang pada balik ke tempat kerja mereka setelah mudik. Hampir disetiap terminal yang kita lewati penuh dengan antrean. Euforia mudik dan arus balik ini juga terasa oleh ku di jalanan pagi ini. Kalo kata temen saya PAMER SUSU (Padat Merayap, Susul Menyusul).

Berbekal alamat daerah yang sama sekali belum pernah dikunjungi, dan insting, serta guide terbaik (bertanya penduduk setempat) kami akhirnya sampai pas pukul 10 dirumah Jisung (nama samarannya). Lumayan pegel pantat saya hampir 4 jam duduk di jok motor. Ketika itu jenazah sudah diantarkan kemakam, dan kamipun langsung menuju makam menemui Kurnia, memberi bahu untuknya, memberi semangat, meyakinkan bahwa ayahanda akan baik-baik saja di sisiNya, menyemangati segera memberi yang terbaik buat keluarga terutama ibunya bahwa kita bisa lulus bareng besok November.

Kemudian kamipun pamit, dan dikasih tau agar lewat jalur pantai selatan saja karena lebih cepat ya meskipun jalannya tambal sulam. Selepas dzuhur kami pun kembali lewat jalur pinggir pantai selatan dan benar saja jalanan relatif sepi tapi bergelombang penuh tambal sulam. Setelah berjalan hampir 2 jam kita sampai kembali di Jogja.

Pulang dan Pergi
Pergi dan Pulang merupakan siklus kehidupan, dan setiap yang pergi pasti akan kembali

 

Begitulah hidup, silih berganti pagi dan siang, sore dan malam, hidup dan mati sudah ada yang mengatur. Kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepadaNya. Kita hanyalah seorang pengembara kehidupan mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya, dalam perjalanan pun ada lubang dan rintangan yang harus dihadapi, kemudian kita akan berpulang.

Semoga ayahanda Kurnia diterima disisi Nya, diampuni dosanya, dan dilapangkan kuburnya, juga Kunia dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H

Ramadhan telah usai, bulan yang penuh berkah dan ampunan telah berlalu, berharap segala amal ibadah kita diterima oleh Nya. Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian).

Salam perpisahan untuk Ramadhan, tiada bulan yg lebih mulia selain dirimu, semoga masih diberi umur dan kesempatan untuk menjumpaimu kembali.

“Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Lathaif Al Ma’arif, 366)Karena dibulan Ramadhan yang penuh ampunan, Allah memberi ampunan dengan amalan kita, sehingga kita layaknya bayi yg baru lahir, insyaAllah.

Saya yang banyak salah dan khilaf ini mohon maaf lahir batin, semoga Allah mengampuni segala dosa kita dan senantiasa menunjukkan kepada jalan yang lurus, jalan yang di ridhoiNya.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433H

Tetap Lebaran

Menurut saya foto ini romantis, sebuah keluarga tetep bersilaturahmi ke sanak keluarga yang lain, meskipun dengan bersepeda.

Mencari Pintu Maaf

Untuk bertemu keluarga dan mencari pintu maaf, seseorang yang berpergian pun harus pulang, meskipun harus berjalan kaki.

Kedua gambar saya ambil sehabis sholat ied dijalanan depan rumah yang lengang.

the destination when we stuck in routinity

Masih menggunakan device handphone android saya, saya akan mengandalkannya untuk dibawa bersama menyusuri dinginnya Ranu Kumbolo. Kali ini saya membuat video timelapse super singkat dengannya. Pinginnya sih panjangan dikit biar jadi alurnya, namun karena ditengah menunggu matahari muncul dibalik danau Rakum tiba tiba hape saya mati ternyata e ternyata batre habis, ya sudahlah karena emang gag ada batre cadanganya akhirnya sejadinya saja dan ini dia cekitprut 🙂

Camera : HTC Nexus One using Lapse It Pro (Andrography)
Music : Silver Bullet | Japan 2011

Kado dalam Bingkai

Sebenernya ini bukanlah hal yang biasa bagi saya, namun setahun belakangan ini menjadi sesuatu yang mungkin salah satu moment yang ditunggu bagi temen-temen buat saling ‘mengeksekusi’ mengerjain satu sama lain ketika berulang tahun. Belakangan kesadisan dan kekonyolan temen temen menjadi ritual yang tidak bisa terlepas dari kami, pun waktunya udah lewat. Kalo kata salah seorang dari kita ‘kalo gag bisa eksekusi hari h ya besoknya, pasti kena-lah’. Kami adalah sekumpulan manusia yang awalnya tidak saling kenal namun akhirnya tersatukan menjadi satu keluarga baru yaitu NHTF. Berproses selama 2 bulan dibalut hawa dingin justru itu yang membuat hangatnya sebuah keluarga baru. Bukanlah suatu hal yang wah ternyata yang membuat kita tetap hangat, namun cukup sebuah ingatan kita satu sama lain, sebuah doa kita satu sama lain, dan sebuah kejuatan kita satu sama lain. Semua dapat giliran semua dapat jatahnya Continue reading Kado dalam Bingkai

Harvest on One Day

Ketika musim panen tiba, ini adalah hal hal yang paling ditunggu oleh para petani. Mereka sangat mengharapkan limpahan dari hasil cocok tanam mereka. Mungkin keberadaan mereka dianggap kampungan dan tidak mengikuti perkembangan jaman. Tapi apa jadinya kita semua tanpa jerih payah para petani? Merekalah  yang menanam padi, yang kemudian padi menjadi beras yang biasa kita makan. Itulah yang melatar belakangi dibuatnya video timelipse singkat ini. Berikut adalah suatu potret kegiatan para petani saat melakukan panen padi.

Video ini dibuat menggunakan divice senjata andalan saya, ya karena memang gag punya yang lain (gagpunya DSLR) hehehe. Saya mencoba memanfaatkan apa yang saya punyai. HP HTC Nexus One dengan aplikasi LipseIt. Di aplikasi ini sudah ada intervalometernya yang bisa kita set setiap berapa detik sekali akan menjepret. Kemudian juga ada fasilitas rendernya. Jadi bisa dibilang video ini dibuat dengan device android, Continue reading Harvest on One Day

Harjo | 16.02.2012

Tiba tiba saja di suatu siang hangponge  berbunyi, bener ini dengan mas Teguh? iya mbak | ini saya dari Harjo mau wawancara… | what? tentang apa mbak? saya gag nglakuin kriminal lho… | enggag mas, ini tentang penelitian PKM nya | ooo PKM, tapi saya kan gag masuk Pimnas mbak? | gag papa mas, ini tentang inovasi penelitiannya kog | beklah klo begitu, besok ya mbak jam 10 dikampus Continue reading Harjo | 16.02.2012

Musim Tandur

Masuknya musim hujan, merupakan berkah tersendiri bagi para petani. Ini merupakan waktu saatnya para petani untuk mulai mengolah sawah mereka dan mulai bercocok tanam. Karena hujan telah membuat kembali tanah-tanah menjadi basah dan kembali subur untuk ditanami.

berawal dari pagi pagi, ada niatan buat muter muter sekitar ruman dengan sepeda, yang pagi itu lumayan cerah. menyusuri jalanan deket rumah yang lama gag aku lewati, masih sama seperti waktu kecil dulu, dan belum banyak berubah. Ditengah perjalan ketemu ibu-ibu yang berangkat kesawah
berangkat

pagi pagi mereka mulai beraktifitas untuk melakukan tandur, sepeda terus melaju mengikuti mereka, terbesit niat untuk melihat tandur yang udah lama memang gag melihat kegiatan ini Continue reading Musim Tandur