Category Archives: Jalan jalan

semua tentang hobi

Alternatif Pulang

Ada kabar bagus bagi kaum kelas pekerja dari daerah seperti saya, bahwa mulai bulan September tiket kereta ekonomi turun harga menjadi Rp 50.000,-. Berita ini sungguh menyegarkan bak guyuran hujan dikemarau panjang, dikala hati kering merindu akan kampung halaman. Sebuah harapan untuk bisa sering-sering ketemu keluarga di rumah. Alhamdulillah bisa sering pulang.

Kereta ekonomi menjadi pilihan yang paling masuk akal dan juga masuk dikantong saya. Masuk akal karena perbaikan dari penyediaan layanannya yang semakin membaik dari PT.KAI baik jadwalnya maupun kondisi didalam kereta itu sendiri. Masuk dikantong karena harga tiket untuk kereta ekonomi cukup bersahabat dan terpaut cukup jauh dari kelas-kelas diatasnya. Ada hal lain juga yang saya suka yaitu ketika mengamati suasana dalam kereta ekonomi dan obrolan antar penumpannya.

Kereta Progo, adalah kereta ekonomi jarak jauh PP Jakarta-Jogja, lebih tepatnya Stasiun Pasar Senen (PSE)-Lempuyangan (LMP). Berangkat dari PSE pukul 22.00 dan tiba di LMP sekitar pukul 06.20. Melihat jadwal yang cukup bagus dan pas, artinya bagi pekerja seperti saya, jam 22.00 berangkat dari PSE adalah jam yang cantik, sudah pulang kerja, dan tidak terburu-buru ke stasiun.

Ada sebuah kelompok komunal yang tercipta dengan sendirinya yaitu komunitas PJKA “Pulang Jumat Kembali Ahad”. Kelompok ini secara natural terbentuk bagi para pekerja yang bekerja diluar kota, biasanya orang daerah yang bekerja ke jakarta, yang setiap akhir pekan pulang kedaerah masing-masing untuk bertemu dengan keluarga. Jumat sore selapas jam kantor mereka pulang ke kampung halaman, hari Sabtu bisa berkumpul dengan keluarga, dan Ahad sore mereka kembali ke tempat kerja.

Saya sering mengobrol dengan penumpang lain dikereta ketika pulang, mereka rata-rata mengaku sudah rutin setiap akhir pekan pulang ke daerah mereka. Biasanya bagi yang sudah berkeluarga dan istri-anaknya berada di sana. Mereka rela melakukan perjalanan jarak-jauh setiap minggu untuk keluarganya. Ini sebabnya kerap kali saya temui orang-orang yang sama dalam satu gerbong setiap minggunya.

Kereta Progo menjadi primadona bagi para kelas pekerja juga PJKA dari Jogja seperti saya, jadwalnya yang cantik membuat tiket ini selalu ludes terjual bahkan untuk perjalanan untuk 2 bulan kedepan. Bagi mereka yang rutin setiap minggunya pulang, sudah langsung membeli tiket bahkan ketika waktu tiket dibuka untuk tangal tersebut. Ini sebabnya tiket progo pada hari juma’at malam selalu habis terjual.

Bagi saya yang memang belum bisa pulang setiap minggu, namun insyaAllah saya usahakan sebulan sekali, agak kesulitan mendapatkan tiket tersebut, kecuali kalo sudah merencanakan tanggal tersebut jauh jauh hari mau pulang dan langsung pesan begitu tiket dijual.

Saya mendapatkan alternatif itenerary untuk pulang yaitu saya menggunakan Kereta Ekonomi Tawang Jaya, kereta tujuan Stasiun Pasar Senen-Semarang poncol. Jadi saya terlebih dahulu lewat semarang untuk kemudian dilanjut naik bus menuju Jogja. Memang agag ribet dan pastinya lebih lama, namun bisa jadi alternatif ketika tiket Progo habis. Jadwal kereta Tawang Jaya berangkat dari PSE pukul 22.10 dan sampai di SMC sekitar pukul 05.40, harga tiketnya lebih murah Rp 45.000,-. Selanjutnya dari depan stasiun naik angkutan jurusan terminal Terboyo Rp 5.000,- dan dari terminal bisa memilih bus jurusan Semarang-Jogja. Untuk tiket bus ekonomi biasa Rp 20.000,- dengan waktu tempuhh sekitar 3-4 jam dan untuk tiket ekonomi PATAS-AC Rp 40.000,- waktu tempuh 2-3 jam. Untuk yang ingin segera bertemu keluarga saya sarankan naik yang PATAS, jadi bisa sampai rumah bisa lebih cepat, sekitar pukul 09.00 pagi.

Untuk kembali ke jakartanya pada hari Ahad ada banyak alterntif kereta ekonomi dari Lempuyangan menuju Pasar Senen, mulai dari kereta Progo berangkat pukul 15.30, kereta Bengawan berangkat pukul 16.33 dan Gaya Baru Malam selatan berangkat pukul 17.10, kalo saya lebih memilih naik kereta GBM untuk balik ke Jakarta karena bisa punya lebih banyak waktu dirumah karena jam berangkatnya jam lebih sore.

Ada banyak alasan orang untuk pulang kerumah, bagi saya alasan untuk selalu pulang kerumah adalah kerinduan akan keluarga dan menjenguk orang tua, memastikan mereka bisa melihat saya tumbuh dewasa setalah mereka merawat dan membesarkan saya sedari kandungan.

Menertawakan Jakarta

Sepetak kubikal dengan seperangkat komputer menjadi sesuatu keseharian saya saat ini. Begitupun dengan kamar ukuran tiga kali empat meter menjadi tempat tidur paling aman dan nyaman. Berangkat pukul tujuh kembali pukul tujuh, belum lagi ganasnya jalanan yang setiap saat mengancam, beruntung saya bisa berdamai dengan angkutan kota, meskipun tak bergaransi setidaknya saya masih bisa diantarkannya sampai tujuan tanpa menambah kemacetan ibukota dengan tanpa berkendaraan sendiri. Itulah aktifitas harian yang harus saya jalani dan coba nikmati.

Rutinitas ini kadang membuat lalai, lupa pada diri sendiri. Tubuh ini sewaktu-waktu memang perlu berhenti, sekedar duduk dan menghirup udara segar yang susah ditemui di tempat ini. Sekedar memanjakan badan untuk beristirahat. itu sebabnya akhir pekan berdiam diri dikamar menjadi pilihan ataupun alternatif paling masuk akal yang bisa dijalani.

***

Sahabat sejak sekolah atas dulu mengabarkan bahwa dia akan ada acara di Jakarta, untuk sebuah seminar atas karya papernya di sebuah konverensi energi di JCC. Saya langsung menawarkan mampir saja dikosan saya. Kita dekat, didekatkan oleh waktu, kita sering membahas hal-hal diluar nalar dan kita sudah tau ihwal satu sama lain dari diri kita masing masing. Sahabat saya ini memilih untuk tidak mengikuti jejak saya menjadi pengurban menjajakan diri di ibukota, dia memilih untuk ‘freelance’ di Jogja. Kata ‘freelance’ yang susah menjelaskannya jika ditanya orang apa pekerjaannya. Dia menulis paper ilmiah, dia meneliti, dia seminar, dia bebas tidak terkungkung di sebuah meja dan kubikal seperti saya.

Akhir pekan ini kita sepakat untuk jalan-jalan di ibukota. Sebuah aktifitas yang tidak biasa. Setidak biasanya Jakarta di hari Ahad, karena jalanan bukan lagi dipenuhi kendaraan bermotor, namun hanya pejalan, pelari dan pesepeda. Saya dan sahabat saya mencoba ikut menikmatinya. Kita berjalan sepanjang jalan sudirman-thamrin, sesekali menertawai Jakarta, entah itu mengomentari gedung-gedungnya, ataupun suasananya. Setidaknya dihari ini aktifitas saya tidak sebatas di kubikal. Sahabat saya terlihat lebih menikmatinya, tertawanya lebih riang, Jakarta memang lucu untuk ditertawakan, saya pun ikut tertawa karena inilah realita yang seharian saya temui.

Perjalanan kita terhenti di Istiqlal, masjid yang konon terbesar di asia tenggara. Kita beristirahat, sejenak melupakan tawa-tawa tadi. Waktu itu memang ada pengajian di sana. Tetiba saya ingat, tubuh ini memerlukan haknya, yang terlupakan oleh rutinitas. Sejenak diam dan mendengarkan rupanya cukup mendamaikan jiwa dan raga ini.

 

Cukur sambil beramal #ShaveforHope

Weekend ini saya pulang ke Jogja, seperti biasa sebagai pegawai #PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Memang sudah ada dalam niatan saya untuk selalu mengusahakan agar bisa pulang ke Jogja ketika weekend, minimal sebulan sekali. Orangtua lah yang menjadi alasan saya, selagi mereka masih sehat, selagi saya masih belum berkeluarga sendiri, saya ingin memberikan waktu lebih untuk mereka. Setidaknya mereka masih bisa melihat saya tumbuh menjadi dewasa. Satu hal yang pasti seiring berjalannya waktu mereka akan terus menua, dan kita pun akan terus tumbuh mengikutinya.

Menikmati akhir pekan di rumah bersama kehangatan keluarga dan keasrian rumah, jauh dari hingar bingar ibukota. Teras belakang rumah menjadi pilihan favorit untuk berkumpul, sore itu dengan sambutan angin sepoi-sepoi, ditambah segelas kopi menemani obrolan saya dengan ibu saya. Saya mengobrol manja kepadanya, menikmati setiap moment ini. Bercerita pada bapak, merencanakan hal-hal baru yang akan dilakukan.

Jogja memang kota yang selalu ngangenin. Ini yang membuatku memacu mengeluarkan si Oleng sebutan untuk vespa tua saya untuk sekedar keliling-keliling sekitar rumah. Untung nya kali ini tidak ngambek seperti biasanya. Untuk sekedar tujuan jarak dekat si Oleng masih bisa di andalkanlah. Nampaknya kali ini saya berniat untuk berkeliling agag jauh, menyusuri labirin labirin kota, sejenak menikmati kota, sejumpa satu-dua teman yang masih di Jogja.

Mendapat info ada acara yang cukup menarik yang membuat hati saya terpantik untuk mencoba datang kesana. Sebuah acara yang unik menurut saya, #ShaveforHope yaitu sebuah acara donasi dengan mencukur rambut yang nantinya akan dihargai dan didonasikan untuk anak-anak penderita kanker. Kebetulan rambut saya sudah lumayan gondrong, sembari cukur gratis ikut donasi pula. SHAVE for Hope diselenggarakan oleh Asian Medical Student’s Association Indonesia dan Evio Production dengan Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia-Community of Children with Cancer (YPKAI-C3). Untuk di Jogja kali ini diselenggrakan di Benteng Vredebrug. Disini kita belajar ikut berempati terhadap para penderita cancer yang karena terapi mereka kehilangan rambutnya. Acara yang cukup unik dan sederhana, dengan cukur rambut sambil beramal. Acara di Jogja kali ini ada bintang tamu yang sudah tidak asing lagi bagi orang-orang segenerasi saya, Sheilaon7. Sukses membawa ingatan saya berontak mengurai kenangan-kenangan.

 

After Shave

Lebaran yang tak selalu sama

“Semoga diterima ibadahku dan ibadahkalian” –Taqobalallahuminawamingkum

Idul Fitri 1434H

Selalu ada cerita disetiap lebaran, entah lebaran itu sendiri atau moment turunanya yang setiap taun mengekor bahkan menjadi tradisi tersendiri yang membarenginya. Mudik salah satunya, bisa diartikan menuju ke udik, dengan kata lain berarti Pulang Ke Kampung.  Bak laron dimusim hujan, ketika hujan reda laron- laron bertebaran keluar sarang. Musim mudik tiba, para kaum urban maupun transmigran berduyung duyung pulang ke kampung halaman.

Pulang, menjadi salah satu bagian dari sebuah perjalanan. Karena berpergian akan menjadi berarti ketika kita pulang. Mudik merupakan salah satu tahapan dari sebuah perjalanan itu sendiri, yaitu pulang ke kampug halaman setelah sekian lama melakukan perjalanan kehidupan peraduan nasib di tempat yang dipandangnya bisa memberikan penghidupan. Baru kali ini saya merasakan mudik, karena baru pada tahun ini saya keluar dari kota saya, bermigrasi kekota lain menjadi kaum urban menjemput rizkiNya.

Ada kekhasan disetiap Hari raya idul fitri, perayaan sederhana ala keluarga kami. Setahun memang panjang, banyak kejadian yang sudah terjadi dalam setahun tersebut. Suasana lebaran pun akan berbeda tiap tahunnya, anggota keluarga ada yang bertambah maupun berkurang. Hal ini yang membuat sedikit sendu lebaran kami tahun ini. Kekuarga besar kami sudah tidak lengkap lagi. Tidak seperti biasanya, meskipun juga ada penambahan anggota keluarga. Yah begitulah takdir Tuhan, Allah azzawajala mempergilirkan waktu siang dan malam, hidup dan mati agar manusia bisa mengambil pelajaran. Setidaknya kita masih bisa ketemu bulan Ramadhan dan juga merayakan hari raya idul fitri tahun ini. Sangat wajib disyukuri. Tahun depan? Entahlah wallahualam, semoga dipertemukan lagi.

Sebuah tradisi ketika lebaran tiba, kita berkunjung kesanak famili kita, bersilaturahmi menjalin kembali persaudaraan yang hari hari biasa tidak sempat bahkan sekedar saling sapa karena berbagaia alasan sok sibuk kita. Sebuah kearifan lokal kita, yang sudah membumi. Meskipun sebaiknya kearifan ini tidak hanya dirayakan setahun sekali ketika lebaran saja, sebaiknya kita membawanya didalam berbagai kesempatan, kekehidupan sehari hari. Alangkah menyenangkan ketika lebaran tiba, semua berubah menjadi pemaaf, dan ikatan kembali terekat.

Tetapi mau gag mau saya harus segera beranjak dari keasrian rumah, dari kehangatan keluarga. Waktu libur saya telah habis, saya harus kembali lagi menjadi kaum-kaum urban melanjutkan peraduan nasib di kota lain. Ya beginilah cerita lebaran tahun ini, selalu ada cerita tersendiri disetiap lebaran, semoga masih ada cerita lebaran di tahun depan 🙂

Inspirasi Cinta Teknokrat

Beberapa waktu lalu angin kencang berhembus di langit Jogja. Kabarnya badai Narelle dari samudra Hindia yang memantik angin kencang itu. Selama dua hari angin kencang itu lewat diperkirakan 20-30 km per jam. Pohon pohon meliuk-liuk jelas, rumput rumput berbisik rame. Tak ayal pula atap rumah dan segala yang ada di permukaan bumi Jogja goyah.

Sore itu listrik padam di rumah. Mungkin jaringan instalasi listrik terganggu. Lalu terbesit untuk mencari cahaya keluar rumah, sekaligus mau ngecharge batre ponsel dan ngambil charger yang kebetulan tertinggal di kosan teman. Selepas Isya’ saya keluar.

Di jalan terbesit rencanan untuk nonton midnite, baiklah setelah ambil charger lalu meluncur ke   XXI. Jangan tanya sama siapa, iya kali ini saya nonton seorang diri. 🙂 dan gag tanggung-tanggung saya nonton film yang sedang banyak jadi trending topic romantis Habibie & Ainun. Mungkin aneh saya nonton film romantis sendiri, tengah malam pula. Mbak-mbak ticketing nya pun agag kaget saya beli satu tiket, karena yang tersisa waktu itu memang hanya satu kursi di posisi tengah. “Habibie Ainun tinggal satu kursi, gagpapa mas? tanya mbaknya, | gagpapa mbak saya sendiri kog -_-‘. Baikmas, tiket film Habibie Ainun satu saja ya. | Iya mbak itu saja -_-” berhubung film lain seperti the hobbit dan 5cm yang juga lagi diputer juga udah penuh.

Sudah kuduga diawal bakal krik krik krik karena sebagian besar penonton yang lain bergandengan, tetep stay cool :). Saya berjanji tidak mau terbuai dengan romantisme film nya hehe. Saya akan mencoba melihat film dari sisi lain selain romantisnya.

Jadi menurut sisi kacamata saya film ini memang berisi semacam biografi singkat mengenai kisah prof Habibi bersama istri beliau dr Ainun. Kisah cinta berjalan natural dan romantis dengan caranya. Habibie yang baru pulang dari Jerman berkunjung kerumah Ainun dan singkat cerita mereka mengikat kesucian cinta dengan pernikahan. Selanjutnya diawal pernikahan yang penuh dengan pengerbonan dilalui dengan tegarnya. Ini memberikan gambaran visual sederhan bagi saya pribadi mengenai kehidupan setelah menikah *njukmupeng. Ainun rela melepas pekerjaan sebagai dokter di RS UI ikut menemani Habibie merajut mimpi dan cita bagi keluarga kecilnya juga untuk bangsa dan negara nya kelak. Karena bagi Ainun ini merupakan kewajiban seorang istri untuk mengurusi segala keperluan suami.

Kehidupan awal kepindahan di Jerman yang serba pas berkecukupan, Habibie kadang harus lembur hingga larut malam dan Ainun menunggu dengan sabar. Berkat kesabaran dan kegigihan mereka mengarungi kehidupan rumah tangga kehidupan mereka mulai membaik dan dikarunia 2 orang anak. Kehidupan natural yang luar biasa ini cukup memantik kekaguman saya akan sosok bapak Habibie dan ibu Ainun.

Prestasi dan sepak terjang karir Habibie mulai diperhitungkan di dunia penerbangan hingga ke seantero bumi khusunya Jerman. Kemudian berkat prestasi yang itu presiden Soeharto memanggilnya untuk pulang ke Indonesia. Hingga pada tahun 1974 Habibie kembali dari rantauannya di Jerman, dan menepati janjinya kepada Presiden Soeharto untuk kembali dan berkarya bagi Bangsa dan Negaranya. Pada tahun 1995 Habibie dan para teknokrat muda yang ikut membantu Habibie pada waktu itu berhasil menghadirkan teknologi canggih pesawat terbang di ulang tahun ke-50 HUT Republik Indonesia dengan nama N250-Gatotkaca.

Ini yang saah satu hal terkeren menurut saya, seorang anak Indonesia berhasi menghadiahkan pesawat terbang buatanya untuk hadiah ulang tahun. Namun sayang buah karya briliant ini tidak bisa berlanjut karena banyak faktor penghambat di negri ini. Pergolakan politik yang semakin menjadi mejadikan Habibie sebagai presiden RI yang ke-3 sebelumnya dijabat oleh Soeharto selama 32 tahun dan digantikan oleh wakilnya yakni Habibie sendiri. Tak lama berselang Habibie pun juga mesti beranjak dari kursi kekuasaannya dan digantikan oleh Gusdur.

Tergambarkan jelas kisah perjalanan yang begitu keren dan inspiratif dari beliau  kecil, kuliah di Jerman, menikah, berjuang di Jerman, hingga kembali ke Indonesia dan kemudian jadi orang nomer 1 direpublik ini.

Hingga ahkhirnya kisah kebersamaan Habibie dan Ainun dipisahkan oleh qodarullah. Ainun berpulang ke rahmatullah setelah melewati proses penyembuhan dan operasi yang terus berulang meninggalkan belahan jiwanya. Upaya yang terbaik terus diperjuangkan oleh Habibie tak mampu melawan sebuah ketetapan.  roh Ainun akhirnya dipanggil oleh Sang Pencipta, sang teknokrat pun merasakan kesedihan yang mendalam ditinggal separuh jiwanya. Bagi Habibie cintanya kepada Ainun adalah Manunggal, dipatri oleh cinta yang murni, suci, sempurna dan abadi.

Kisah prof Habibie ini secara umum memberikan inspirasi dan warisan kisah bagi kita bagaimana menggapai suatu cita, kehidupan cintanya, dan tidak lupanya akan negara. Beruntung saya pernah kuliah umum bersama beliau, tak hentinya beliau mengingatkan kepada kita untuk bisa membuat teknologi untuk membantu kita dan tidak diperbudak teknologi. Dengan kemandirian teknologi maka negara ini akan bisa maju. Beliau juga banyak bercerita mengenai bagaimana bangsa ini pernah bisa membuat pesawat terbang sendiri yang dibuat oleh tangan-tangan anak bangsa sendiri. Beliau sangat berharap hal itu dapat terulang dan bisa terwujud kembali demi kemajuan bangsa nantinya. Prof Habibie jasa jasa mu, dan segala inspirasimu akan selalu kami kenang, semoga kami bisa meneruskannya.

 

 

Ballet Ramayana

Ballet Ramayana merupakan sebuah pertunjukan sendratari dengan cerita Ramayana. Kata Soekarno bapak proklamator kita:

Ballet Ramayana adalah satu percobaan (good effort) untuk membawa seni pentas Indonesia ke taraf yang lebih tinggi | Soekarno 25/8/1961

berikut sinopsis ceritanya

Pengantar Prabu Janaka, Raja Kerajaan Mantili memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Dewi Shinta.

Shinta
Shinta

Untuk menentukan siapa calon pendamping yang tepat baginya, diadakanlah sebuah sayembara. Rama Wijaya, Pangeran dari Kerajaan Ayodya akhirnya memenangi sayembara tersebut.

Rama
Rama
Rama dan Shinta
Rama dan Shinta
Rama dan Shinta
Rama dan Shinta mesra

Prabu Rahwana, pemimpin Kerajaan Alengkadiraja sangat menginginkan untuk menikahi Dewi Shinta. Namun, setelah mengetahui siapa Dewi Shinta, ia berubah pikiran. Ia menganggap bahwa Dewi Shinta merupakan jelmaan Dewi Widowati yang telah lama ia cari-cari

Hutan Dandaka Rama Wijaya beserta Shinta, istrinya, dan ditemani oleh adik lelakinya, Leksmana, sedang berpetualang dan sampailah ke Hutan Dandaka.

Di sini mereka bertemu dengan Rahwana yang begitu memuja Dewi Shinta dan sangat ingin memilikinya. Untuk mewujudkan gagasannya, Rahwana mengubah salah satu pengikutnya bernama Marica menjadi seekor kijang yang disebut Kijang Kencana dengan tujuan memikat Shinta. Karena tertarik dengan kecantikan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Rama menyanggupi dan meninggalkan Shinta yang ditemani Leksmana dan mulailah dia memburu kijang tersebut. Setelah menunggu lama, Shinta menjadi cemas karena Rama belum datang juta. Ia meminta Leksamana untuk mencari Rama. Sebelum meninggalkan Shinta, Leksmana membuat lingkaran sakti di atas tanah di sekeliling Shinta untuk menjaganya dari segala kemungkinan bahaya. Begitu mengetahui bahwa Shinta ditinggal sendirian, Rahwana mencoba untuk menculiknya namun gagal karena lingkaran pagar pelindung yang menjaganya. Kemudian ia mengubah diri menjadi seorang Brahmana. Shinta jatuh kasihan terhadap Brahmana yang tua tersebut dan hal tersebut membuatnya keluar dari lingkaran pelindung. Akibatnya, Rahwana – yang menjelma menjadi Brahmana tua tersebut – berhasil merebut dan membawanya terbang ke Kerajaan Alengka.

Memburu Kijang Rama berhasil memanah kijang yang dikejarnya, namun tiba-tiba kijang tersebut berubah menjadi raksasa. Terjadilah perkelahian antara Rama dengan raksasa tersebut. Raksasa tersebut akhirnya dapat dibunuh Rama menggunakan panahnya. Kemudian tibalah Leksama dan meminta Rama untuk segera kembali ke tempat di mana Shinta berada.

Penculikan Shinta Dalam perjalanan ke Alengka, Rahwana bertemu dengan burung garuda bernama Jatayu. Mereka kemudian terlibat pertengkaran karena Jatayu mengetahui bahwa Rahwana menculik Dewi Shinta – yang adalah anak Prabu Janaka, teman dekatnya. Sayangnya, Jatayu berhasil dikalahkan oleh Rahwana saat mencoba membebaskan Shinta dari cengkeraman Rahwana. Mengetahui bahwa Shinta tidak lagi berada di tempat semula, Rama dan Leksmana memutuskan untuk mencarinya. Dalam perjalanan pencarian tersebut, mereka bertemu dengan Jatayu yang terluka parah. Saat bertemu pertama kali tersebut, Rama mengira bahwa Jatayulah yang menculik Shinta sehingga ia berniat membunuhnya namun Leksmana mencegahnya. Jatayu menjelaskan apa yang terjadi sebelum akhirnya ia meninggal.

Jatayu Mati
Jatayu Mati

Tidak lama kemudian, seekor kera putih bernama Hanoman tiba. Ia diutus oleh pamannya, Sugriwa, untuk mencari dua pendekar yang mampu membunuh Subali.

Hanoman
Hanoman
Hanoman
Hanoman

Subali adalah serang yang suci dan telah mengambil Dewi Tara, wanita kesayangan Sugriwa. Setelah dipaksa, akhirnya Rama memutuskan untuk membantu Sugriwa.

Gua Kiskendo Pada saat Subali, Dewi Tara dan anak lelakinya sedang berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah Sugriwa dan langsung menyerang Subali. Sugriwa yang dibantu oleh Rama akhirnya mampu mengalahkan Subali. Sugriwa berhasil merebut kembali Dewi Tara. Untuk membalas kebaikan Rama, Sugriwa akan membantu Rama mencari Dewi Shinta. Untuk tujuan ini, Sugriwa mengutus Hanoman untuk mencaritahu mengenai Kerajaan Alengka. Kemenakan Rahwana, Trijata, sedang menghibur Shinta di taman. Rahwana datang untuk meminta kesediaan Shinta menjadi istrinya. Shinta menolak permintaan tersebut. Hal ini membuat Rahwana kalap dan mencoba membunuhnya namun Trijata menghalanginya dan memintanya untuk bersabar. Trijata berjanji untuk merawat Shinta. Saat Shinta merasa sedih, ia tiba-tiba mendengar nyanyian indah yang disuarakan oleh Hanoman, si kera putih.

Hanuman menolong Shinta
Hanuman menolong Shinta

Hanoman memberi tahu Shinta bahwa ia adalah utusan Rama yang dikirim untuk membebaskannya. Setelah menjelaskan tujuannya, Hanoman mulai mencari tahu kekuatan seluruh pasukan Alengka. Ia kemudian merusak taman tersebut. Indrajit, anak lelaki Rahwana, berhasil menangkap Hanoman namun Kumbokarno mencegahnya untuk membunuhnya dan Hanoman dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar.

Hanuman Obong
Hanuman Obong

Namun saat dibakar, Hanoman berhasil lari dan justru membakar kerajaan dengan tubuhnya yang penuh kobaran api.

Hanuman Obong
Hanuman Obong

Segera setelah membakar kerajaan, Hanoman datang kepada Rama dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Rama kemudian pergi ke Alengka disertai dengan pasukan kera. Ia menyerang kerajaan dan membuat pasukan Alengka kocar-kacir setelah Indrajit – sebagai kepala pasukan kerajaan – berhasil dibunuh. Rahwana kemudian menunjuk Kumbokarno – raksasa yang bijaksana – untuk memimpin pasukan dan menyerang kerajaan Alengka. Namun kemudian Kumbokarno berhasil dibunuh oleh Rama dengan panah pusakanya. Rahwana mengambil alih komando dan mulai menyerang Rama dengan bala tentara seadanya. Rama akhirnya juga berhasil membunuh Rahwana. Dibawa oleh Hanoman, mayat Rahwana diletakkan di bawah gunung Sumawana.

Rama Bertemu Shinta Setelah kematian Rahwana, Hamonan menjemput Shinta untuk dipertemukan dengan Rama. Namun Rama menolak Shinta karena ia berpikir bahwa Shinta sudah tidak suci lagi. Shinta kecewa dan untuk membuktikan kesetiaannya kepada suaminya, ia menceburkan diri ke dalam kobaran api dan membakar diri.

Shinta dikerumuni dewi dewi
Shinta dikerumuni dewi dewi

Karena kesuciannya dan atas bantuan Dewa Api, ia tidak terbakar dan selamat. Hal tersebut membuat Rama bahagia dan akhirnya menerimanya kembali menjadi istrinya.

Simpuh Shinta pada Rama
Simpuh Shinta pada Rama

thanks to om nya dek Tata yang udah ngasih free ticket buat liat pertunjukan ini, sering sering yah 🙂

Pulang dan Pergi

Dua hari yang lalu ada sms teman saya (Fika), ada kabar duka dari teman saya kuliah (Kurnia) bahwa ayahandanya telah tiada. Saya dan Fika terus merencanakan gimana caranya bisa takziah kesana. Rumah Kurnia ada di daerah Gombong/Kebumen,ya kira kira sekitar 150 km dari Yogya. Akhirnya diputuskan untuk naik motor, berangkat pagi jam 6 karena rencana dimakamkan pukul 10.

Mentari
Silih bergantinya siang dan malam, hidup dan mati sudah ada yang mengatur

 

Awalnya jalanan lancar karena masih pagi, namun semakin lama sudah mulai padat merayap karena memang ini H+4 Lebaran orang-orang pada balik ke tempat kerja mereka setelah mudik. Hampir disetiap terminal yang kita lewati penuh dengan antrean. Euforia mudik dan arus balik ini juga terasa oleh ku di jalanan pagi ini. Kalo kata temen saya PAMER SUSU (Padat Merayap, Susul Menyusul).

Berbekal alamat daerah yang sama sekali belum pernah dikunjungi, dan insting, serta guide terbaik (bertanya penduduk setempat) kami akhirnya sampai pas pukul 10 dirumah Jisung (nama samarannya). Lumayan pegel pantat saya hampir 4 jam duduk di jok motor. Ketika itu jenazah sudah diantarkan kemakam, dan kamipun langsung menuju makam menemui Kurnia, memberi bahu untuknya, memberi semangat, meyakinkan bahwa ayahanda akan baik-baik saja di sisiNya, menyemangati segera memberi yang terbaik buat keluarga terutama ibunya bahwa kita bisa lulus bareng besok November.

Kemudian kamipun pamit, dan dikasih tau agar lewat jalur pantai selatan saja karena lebih cepat ya meskipun jalannya tambal sulam. Selepas dzuhur kami pun kembali lewat jalur pinggir pantai selatan dan benar saja jalanan relatif sepi tapi bergelombang penuh tambal sulam. Setelah berjalan hampir 2 jam kita sampai kembali di Jogja.

Pulang dan Pergi
Pergi dan Pulang merupakan siklus kehidupan, dan setiap yang pergi pasti akan kembali

 

Begitulah hidup, silih berganti pagi dan siang, sore dan malam, hidup dan mati sudah ada yang mengatur. Kita tidak tahu kapan kita akan kembali kepadaNya. Kita hanyalah seorang pengembara kehidupan mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya, dalam perjalanan pun ada lubang dan rintangan yang harus dihadapi, kemudian kita akan berpulang.

Semoga ayahanda Kurnia diterima disisi Nya, diampuni dosanya, dan dilapangkan kuburnya, juga Kunia dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

 

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H

Ramadhan telah usai, bulan yang penuh berkah dan ampunan telah berlalu, berharap segala amal ibadah kita diterima oleh Nya. Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian).

Salam perpisahan untuk Ramadhan, tiada bulan yg lebih mulia selain dirimu, semoga masih diberi umur dan kesempatan untuk menjumpaimu kembali.

“Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.” (Lathaif Al Ma’arif, 366)Karena dibulan Ramadhan yang penuh ampunan, Allah memberi ampunan dengan amalan kita, sehingga kita layaknya bayi yg baru lahir, insyaAllah.

Saya yang banyak salah dan khilaf ini mohon maaf lahir batin, semoga Allah mengampuni segala dosa kita dan senantiasa menunjukkan kepada jalan yang lurus, jalan yang di ridhoiNya.

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433H

Tetap Lebaran

Menurut saya foto ini romantis, sebuah keluarga tetep bersilaturahmi ke sanak keluarga yang lain, meskipun dengan bersepeda.

Mencari Pintu Maaf

Untuk bertemu keluarga dan mencari pintu maaf, seseorang yang berpergian pun harus pulang, meskipun harus berjalan kaki.

Kedua gambar saya ambil sehabis sholat ied dijalanan depan rumah yang lengang.

Omar

Sahur tadi, dalam hatiku menangis, bukan karena sedih, bukan karena sakit, namun karena terharu ketika mendengar Umar bin Khatab melafalkan syahadat, persaksian bahwa tidak ada illah yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad ada utusan Allah. 

Kisah sejarah/sirah islam dengan tokoh utama  salah seorang sahabat nabi yang begitu kuat dan punya karakter pemimpin yang tegas yaitu Umar bin Khatab, terdiskripsikan jelas dalam film serial kolosal yang berjudul Omar, yang di tayangkan di MNC TV selama bulan Ramadhan tahun ini. Waktu penayangan film serial ini adalah saat waktu sahur. Film ini sarat akan makna dan pesan mengenai kisah islam dan perkembangan awal islam. Dan tentu menjelaskan bagaimana kisah seorang Umar bin Khatab yang awalnya mempunyai sikap yang keras pada akhirnya masuk Islam

Film ini menjadi tontonan yang pas, dan baik diambil pelajaran mengenai sharah islam. Sayangnya karena nabrak waktu sholat subuh di wilayah Jogja jadi tidak bisa melihatnya penuh  setiap episodenya. Berharap segera menemukan link download film ini 🙂

sumber video youtube.com

 Alhamdulillah, akhirnya dapat link downloadnya disini