Category Archives: Kuliner

Semur Lele

Beberapa waktu lalu selepas pulang kantor, ada pesan singkat ibu saya yang baru belajar menggunakan WhatsApp.

‘Dik, besok libur panjang pulang gag?’. – ibu saya masih tetap memanggil saya dengan Dik, tidak berubah kasih sayang ibu sejak saya kecil dulu.

‘Inggih buk, besok kulo mantuk’- balesku.

‘Mau dimasakkan apa?’ -jarang memang ibu bertanya begini, meskipun sebernya ibu tahu masakan yang pas buat anak-anaknya.

‘Semur lele buk’ – jawabku

‘OK siap’- ibu membalas pungkasan

Dan benar, liburan pun tiba, saya pun pulang ke rumah. Pulang memang membuat kita kembali membumi setelah kita terbang tinggi di perantauan.

Kali ini ada yang istimewa di rumah, ibu sudah menyiapkan ‘semur lele’ khas ibu, dengan bumbu terbaiknya. Tidak perlu kulineran kemana-mana karena di rumah ada masakan khas ibu kita. Ibu kita yang selalu memanggil kita Dik, ibu kita yang takaran sayangnya selalu sama, ibu kita yang bumbu masakannya selalu pas di lidah kita.

Kita hanya perlu mengucapkan terima kasih, dan merundukkan kepala kita di hadapnya, yang beliau selalu pingin memanjakan ataupun dimanjakan oleh kita. Apalagi kini, setelah kita dewasa, saatnya kita membalas segala kebaikannya dengan tidak melupakannya dalam setiap doa kita, dalam setiap interaksi yang baik dengannya, dengan tidak menyakiti perasaannya.

“Ya Rabbi, ampunilah aku, ampunilah kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil”

Semur Lele

“Niki maknyus buk!”- pesan ini aku kirim ke WhatsApp ibu.

Teng GO dan Alternatif Ngopy

Sore selepas ngantor, kali ini pulang teng Go. Memang dalam tiga bulan terakhir siklus kerja saya sudah kembali normal 8-17. Sedikit banyak ada kaitannya dengan harga minyak dunia yang anjlok sehingga banyak perusahaan yang bermain di dunia migas mulai kelimpungan tak terkecuali tempat dimana saya bekerja saat ini. Project pending, hingga cost down dalam segala lini, masih untung tidak ada pengurangan karyawan dan hanya memperketat overtime saja.

Sore ini sesampai di kosan, mendapati pompa air kosan rusak, sehingga krisis air melanda. Selepas isya’ saya mencoba keluar kosan untuk mencari ‘air’. Beruntungnya tempat kosan saya dekat dengan tempat makan dan nongkrong afterwork. Tinggal milih dan jalan┬ámau ke Plaza Festival Epicentrum, atau Setiabudi one.

Kali ini saya memilih Anomali Cafe Setiabudi One. Tempat ini cukup cozy untuk nongkrong afterwork, dengan pilihan kopi khas anomali. Tempat paling cozy adalah pojokan dekat jendela bisa buat mengamati susana luar. Apalagi kalau di luar hujan, sangat pas sekali bagi perenung seperti saya.

Sudah seminggu ini Jakarta mulai diguyur hujan setelah kemarau yang cukup panjang. Hujan memang berkah bagi makhluk bumi, terlihat ranting-ranting mulai kembali menghijau, dan air bisa kembali menghidupi. Namun bisa saja hujan menjadi bencana karena ulah manusia sendiri, membuat tanah-tanah penyerapan menghilang dan diperparah saluran air sungai yang tersumbat. Semoga hujan hujan ini turun dengan berkah-Mu.

Selain Anomali, di Setiabudi One juga ada tempat ngopi lain semisal Starbuck, World Coffe. Untuk Starbuck tidak usah dibahas karena tempat ini jamak dimana-mana. Karena tempat ini selalu rame, saya malas untuk kesini, lagi pula di gedung kantor tempat saya kerja juga ada. Untuk World Coffe baru seminggu lalu saya bersama beberapa teman saya mencobanya. Nampaknya tempat ngopi ini baru dibuka disini. Coffe yang lumayan keras dan harga yang standard, cukup jadi alternatif untuk bisa melek. Susananya juga enak dan gag begitu rame, disediakan juga buku-buka bacaan yang gag biasa.

Kalau lagi tidak ke Setiabudi One, saya memilih Plaza Festival, McD jadi alternatif paling sering saya kunjungi. Selain buka 24 jam, juga tersedia layar lebar untuk menonton pertandingan bola. Namun semenjak berlangganan TV berbayar sendiri saya lebih memilih menonton bola di kosan.

Setidaknya tempat-tempat tadi bisa membuat gairah menulis saya kembali, yang selama ini terkalahkan oleh kasur kosan, setidaknya satu postingan ini ­čÖé