Tag Archives: sahabat

Untuk Sahabat Rahimahallah

Tangan saya terus gemetar memegang gawai sambil membaca pesan di grub mengabarkan bahwa kamu telah berpulang kembali kepada pemilik mu yang sesungguhnya. Kamu akhirnya mengalah atas sakitmu demi tidak merasakan sakit lagi, memilih untuk istirahat yang lebih panjang di tempat lain. Seketika itu pula, bayangan saya menerawang memanggil memori saya yang berserakan. Meskipun tidak intens sebelumnya namun membekas dalam, aku yakin banyak juga yang merasakan hal yang sama, buah dari ketulusanmu.

Pertemanan kita diawali dari sebuah tim pengabdian masyarakat ketika di bangku kuliah. Berkat dirimu dan juga keluargamu yang membantu banyak, tim pengabdian itu bisa dikatakan berjalan lancar dan sukses, bahkan hingga hari terakhir pun dirimu dan keluargamu masih direpotkan dengan tetek mbengeknya.

Dari sana, pertemanan itu terus berlanjut. Beberapa kali komunikasi masih tetap terjalin lewat jaringan komunikasi online yang semakin canggih. WhatsApp misalnya, atau ketika mulai booming telegram pun kamu masih bertanya apa bedanya dengan platform lain dan bercerita dipaksa mengunduh oleh temen kantor mu.

Teringat cerita meetup ala ala reunian kecil kecilkan misalnya, saat awal awal dulu merantau di Jakarta. Atau saat aktivitas Ahad pagi tanpa kendaraan bermotor di sekitaran Sudirman-Thamrin kita bersepeda santai dan terhenti di nasi uduk di Jalan Sabang. Luwes tanpa canggung, akrab bergaul dengan siapapun tanpa membeda-bedakan teman.

Suatu hari dulu ketika, saat awal dirawat, saya bersama seorang teman sempat menjenguk di rumah sakit, namun kamu masih bercerita bahwa belum tau sakit apa, baru belakangan saya tau bahwa ternyata sakitmu cukup parah, kangker paru paru. Pernah saling berbalas pesan singkat bertanya kabar, namun kamu menampakkan masih kuat, bahkan masih bercanda aktivitas di kantor semenjak sakit.

Akhir pekan lalu, ada kabar di grub kamu dirawat di rumah sakit yang sama ketika waktu saya sempat menjenguk dulu, awal pekan ini ada update kabar kamu dalam kondisi koma, hingga tadi pagi terdengar kabar yang cukup mengagetkan dan meyesakkan kamu telah berpulang, dikalahkan oleh sakitmu yang selama ini telah kamu perjuangkan kesembuhannya. Engkau telah memberikan pelajaran untuk tidak menyerah pada sakit, meskipun akhirnya harus mengalah. Hari ini hari Jumat semoga engkau khusnul khotimah Icha, allahummafirlaha warhamha wa’afihiwa’fuanha .

Rak Nostalgia Untuk Sahabat

Kuliah selama 4 tahun lebih tidak lepas  dengan yang namanya teman juga sahabat. Pastinya persahabatan itu tercipta secara natural karena kebersamaan dalam tempo yang cukup lama itu. Sekedar tenguk bareng,  ngerjain tugas bareng, dan segala kehidupan khas mahasiswa lainnya juga bareng. Ada cerita cerita yang kita punya, yang bisa kita putar kembali nanti.

Puspo Dewanto misalnya, Lelaki yang khas dengan gojekan rodo waton nya mampu memecah suasana ketika hening. Ide-idenya yang agag nyleneh pun sering muncul tiba-tiba. Ah dia sekarang sudah jadi seorang teknisi di perusahaan rokok berlambang djarum itu.

M Shahid Ardi, lelaki paling udzur diangkatan kami ini memang pantas dituakan. Terlihat dari guratan wajah dan sikapnya. Sebenarnya lancang bagi saya berpartner dengannya dan dia jadi Sekjennya, harusnya dialah yang pantas dituakan. Tapi ternyata cerita berkata lain, duniapun terbalik. Mas Sahid kini sudah bekerja di sebuah perusahaan PLTU di Jepara.

Orang yang cukup sepuh juga diantara kita yaitu, Ferry Agusta, karena hadeh hadeh nya, dia bertitel simbah simbah. Cukup sering saya bersama simbah mulai dari KKN bahkan sampai bimbingan Skripsi pun bareng. Sekarang mungkin dia mau menjajaki dunia perbank-kan.

Ahmad Fajrul Falah, seorang cendekia kita, mungkin dia jenius tapi gag pernah bilang bilang, hal ini terbukti karena pernah ikut di Gama Cendekia. Ide ide besar mu dan brainstorming denganmu selalu berlogika. Namun sayang akhir akhir ini jarang saya berjumpa dengan mu sobat, gimana skripsimu?, mungkin kamu telah diam diam menikah dengan akhwat pilihanmu, entahlah?

Nur Ikhwan, ini jagonya event organiser, dunia per EO an sudah malang melintang diikutinya. Ngobrol kreatif dan segala hal yang berotak kiri itu sama kamu. Terakhir ketemu kita bicara kebuntuan tugas akhirmu, namun jawabanku tetap pragmatis dan tanpa solusi berarti. Yang pasti kerjakan saja wak, dicicil dikit dikit.

Saya terusik ketika melihat halaman facebook dan melihat profil picture salah satu teman diatas berubah menjadi foto kita bareng. Saya juga resah dan rindu dengan teman-teman diatas, terutama dua nama yang saya sebut terakhir karena tidak kunjung selesai mengerjakan skripsi. Namun saya masih percaya dan optimis, mereka bisa melaluinya.

Mungkin tulisan ini yang hanya bisa saya tuliskan untuk bisa menyemangati mereka, karena jujur saja saya bukan pacarnya yang bisa menyemangatinya setiap saat, bukan pula dosen pembimbing yang mengerti detail penelitain mereka, saya hanyalah seorang kawan yang rindu ketika nanti kita berfoto bareng lagi, kita sudah sukses semua. Kemudian foto itu akan saya simpan dalam rak rak nostalgia persahabatan dan pertemanan kita.