Tag Archives: romantis

Cerita Ramadhan tahun ini

Bulan Ramandhan sudah berlalu meninggalkan kita. Moment-moment romantis berbuka dan sahur beralih kembali menjadi biasa lagi. Tidak ada lagi mata ‘kriyip-kriyip’ harus keluar mencari makan, ataupun pulang kerja duduk manis menunggu maghrib diteras sebuah masjid. Selalu terselip sebuah doa ketika berpisah dengannya, “Semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya”. Ah, Ramadhan memang ngangenin.

Ada hal yang berbeda Ramadhan kali ini, yang saya rasa yaitu menjalaninya seorang diri di tanah perantauan, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang bisa merasakan kehangatan sahur dan berbuka bareng keluarga. Awalnya terasa hambar, seperti teh celup yang biasa saya seduh tanpa gula. Lambat laun saya harus mulai terbisa dengan ini, karena saya yakin keadaan ini adalah yang terbaik untuk saya jalani saat ini. Kebiasaan baru selama menjalani Ramadhan di perantauan adalah bangun lebih awal mencari buat sahur, beruntung di dekat kosan terdapat sebuah warteg, dengan konsekuaensi menu makan sahur selalu hampir sama hanya kombinasi sayur dan lauk minimalis tiap harinya. Ya saya belajar mensyukurinya.
Dalam kesendirian di rantauan saya menemukan kebersamaan lain ketika berbuka puasa, menunggu maghrib bersama para pekerja lainnya di sebuah masjid sebuah kantor yang menyediakan ta’jil. Meskipun hanya dengan secangkir teh hangat, segelas kolak, dan beberapa butir kurma, tetap membuat kesan kebersamaan tersendiri disetiap buka puasa Ramadhan ini.

Hingga tanpa terasa, pelan namun pasti, waktu terus bergulir dan Ramadhan pun mulai memasuki masa akhirnya.

Saya baru kali ini merasakan sensasi mudik. Tiket kereta sudah saya beli jauh hari sebelumnya, bahkan beberapa jam ketika tiket mulai tersedia H-90hari. Alasan saya selalu memilih kereta adalah moda transportasi paling romantis setau saya. Mulai dari suasana stasiunnya, lekukan gerbongnya, hingga baris-baris tempat duduk dan toiletnya. Apalagi kualitas layanan kereta semakin kesini semakin membaik. 🙂

Tepat hari terakhir masuk kantor saya memilih waktu untuk mudik, karena sudah membuncah kangen suasana rumah, kangen Jogja.
Akhirnya hari-hari terakhir Ramadhan bisa saya nikmati bareng keluarga di rumah.
Alhamdulillah 🙂