Tag Archives: ramadhan

Tamu Istimewa yang kedua

Alhamdulillah sudah dua Ramadhan ini saya menjalaninya di tanah rantau. kali ini masih diberi kesempatan untuk menemuinya lagi. Layaknya tamu agung yang datang rutin tiap tahun, yang harus dipersiapkan dan disambut. Ada yang berbeda dengan Ramadhan kali ini karena keriuhannya bercampur dengan adanya Piala dunia dan Pilihan presiden. layaknya distraksi dari keduanya, ketika jenuh akan copras-capres, ada sedikit netralisir dari piala dunia. Setelah keduanya berakhir, kini menyisakan akhir Ramadhan yang khidmat. Namun sendu pun menggelayut di benak umat di seluruh dunia. Saudara kita di Gaza dibantai secara brutal oleh zionis. Anak-anak, wanita dan warga sipil menjadi korban.

Sang tamu agung itu kini sudah akan meninggalkan kita lagi, entah lain waktu apakah bisa bertemu lagi atau tidak, siapa yang tau?. Yang kita bisa adalah memeluk erat  tamu agung itu sebelum berpamitan dan berharap dipertemukan lagi dilain waktu.

Kita hanya perlu waktu lebih lama untuk terjaga diwaktu malam mengobrol dengan Nya, perlu lebih banyak berdiri untuk sholat malam, perlu lebih teliti dan giat dalam membaca kitabNya, perlu lebih banyak air mata untuk minta ampunanNya, perlu lebih banyak uang yang kita sedekahkan, perlu lebih banyak senyum untuk kita tebar ke sesama, perlu lebih banyak maaf yang kita berikan, perlu lebih banyak dzikir yang kita lantunkan, …

Semoga kita mendapatkan keberkahan dari tamu agung yang datang ini, dengan menjadikan kita kembali menjadi manusia yang fitrah manusiawinya.

Cerita Ramadhan tahun ini

Bulan Ramandhan sudah berlalu meninggalkan kita. Moment-moment romantis berbuka dan sahur beralih kembali menjadi biasa lagi. Tidak ada lagi mata ‘kriyip-kriyip’ harus keluar mencari makan, ataupun pulang kerja duduk manis menunggu maghrib diteras sebuah masjid. Selalu terselip sebuah doa ketika berpisah dengannya, “Semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya”. Ah, Ramadhan memang ngangenin.

Ada hal yang berbeda Ramadhan kali ini, yang saya rasa yaitu menjalaninya seorang diri di tanah perantauan, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang bisa merasakan kehangatan sahur dan berbuka bareng keluarga. Awalnya terasa hambar, seperti teh celup yang biasa saya seduh tanpa gula. Lambat laun saya harus mulai terbisa dengan ini, karena saya yakin keadaan ini adalah yang terbaik untuk saya jalani saat ini. Kebiasaan baru selama menjalani Ramadhan di perantauan adalah bangun lebih awal mencari buat sahur, beruntung di dekat kosan terdapat sebuah warteg, dengan konsekuaensi menu makan sahur selalu hampir sama hanya kombinasi sayur dan lauk minimalis tiap harinya. Ya saya belajar mensyukurinya.
Dalam kesendirian di rantauan saya menemukan kebersamaan lain ketika berbuka puasa, menunggu maghrib bersama para pekerja lainnya di sebuah masjid sebuah kantor yang menyediakan ta’jil. Meskipun hanya dengan secangkir teh hangat, segelas kolak, dan beberapa butir kurma, tetap membuat kesan kebersamaan tersendiri disetiap buka puasa Ramadhan ini.

Hingga tanpa terasa, pelan namun pasti, waktu terus bergulir dan Ramadhan pun mulai memasuki masa akhirnya.

Saya baru kali ini merasakan sensasi mudik. Tiket kereta sudah saya beli jauh hari sebelumnya, bahkan beberapa jam ketika tiket mulai tersedia H-90hari. Alasan saya selalu memilih kereta adalah moda transportasi paling romantis setau saya. Mulai dari suasana stasiunnya, lekukan gerbongnya, hingga baris-baris tempat duduk dan toiletnya. Apalagi kualitas layanan kereta semakin kesini semakin membaik. 🙂

Tepat hari terakhir masuk kantor saya memilih waktu untuk mudik, karena sudah membuncah kangen suasana rumah, kangen Jogja.
Akhirnya hari-hari terakhir Ramadhan bisa saya nikmati bareng keluarga di rumah.
Alhamdulillah 🙂

Tabrakan Beruntun

Hari pertama Ramadhan (versi pemerintah), kali ini saya berpuasa start bareng keputusan pemerintah padahal keluargaku udah sehari sebelumnya, ada alasan kenapa demikian, karena aku ingin menggenapkan sya’ban menjadi 30 sesuai hadist yang pernah kubaca. tentunya tidak hanya itu saja namun hujjah lain, tapi biar saja itu dibahas oleh orang yang faham ilmunya.

Buka puasa pertama kali ini tidak meyeruput teh hangat dirumah, namun saya ikut ajakan Prima dan Holand juga Topek untuk ikut acara ngabuburit bareng di Omah Duwur, Kota Gede. Bukan hal yg biasa memang bisa ke tempat makan kelas pelancong manca ini, namun karena ada invitasi untuk ikut acara workshop fototravel  kerjasama antara canon dan cfvd dengan pembicara Misbachul Munir. Alasan lain adalah uang pendaftaranya adalah buat disumbangkan ke pantiasuhan.

Cerita tidak berhenti disitu, setelah sholat taraweh di maskam, ada pesan singkat masuk bahwa temen” KKN masih pada ngobrol di dixie. Ragu aku mau langssung pulang atau menyamperin mereka. dan akhirnya kusamperin mereka yang ternyata lagi pada asyik ngobrol via wathsapp meski lagi saling beertemu bertatapmuka. Tak terasapun jam sudah jam 11 malam aja, obrolan pun diakhiri dan kita pulang masing masing.

Jalan Magelang yang sudah mulai lengan, sesekali berlintas truk muatan, motor, dan mobil saling berpacu dengan waktu menggeber mesin dijalan yang sepi. Kira kira ketika  di kilometer 11 ada motor di depanku persis menyalakan sigh kanan, aku taksir dia mau beli bahan bakar di POM bensin seberang jalan. mobil jazz silver melaju kencang dari arah belakang, bruuuugh tepat disamping depanku tertabraklah motor tadi, motornya mental terlempar kearahku, aku mulai oleng bersama motorku yang terhantam motor tadi dibagian kaki kananku, aku pikir aku akan jatuh karena jalanku sudah terseok bukan dijalanaspalan lagi namun sudah di bahu jalan berkerikil.

Allahamdulillah aku masih diselamatkan Allah sehingga tidak terjatuh atau menubruk angkringan dipinggir jalan. Aku merasa ada pertolongan Allah tadi sebab aku mengira aku bakalan jatuh, namun ternyata tidak. Hanya sedikit lecet dan memar dikaki kananku terhantam motor tadi, juga pecah dibagian sayap depan motorku dan ujung depan jokku sobek . Kemudian karena masih deg degan kenceng dadaku, aku mampir dulu diangkringan depan sambil minum jahesusu. Kemudian polisi datang, selidik punya selidik ternyata seorang remaja putri pengendara mobil jazz itu sedang menggunakan handphonenya ketika menyetir tadi.

Syukur Allhamdulillah aku masih dinaungi pertolongan dan keselamatan oleh Allah sehingga masih bisa selamat pulang sampai di rumah.