Tag Archives: Mudik

Lebaran yang tak selalu sama

“Semoga diterima ibadahku dan ibadahkalian” –Taqobalallahuminawamingkum

Idul Fitri 1434H

Selalu ada cerita disetiap lebaran, entah lebaran itu sendiri atau moment turunanya yang setiap taun mengekor bahkan menjadi tradisi tersendiri yang membarenginya. Mudik salah satunya, bisa diartikan menuju ke udik, dengan kata lain berarti Pulang Ke Kampung.  Bak laron dimusim hujan, ketika hujan reda laron- laron bertebaran keluar sarang. Musim mudik tiba, para kaum urban maupun transmigran berduyung duyung pulang ke kampung halaman.

Pulang, menjadi salah satu bagian dari sebuah perjalanan. Karena berpergian akan menjadi berarti ketika kita pulang. Mudik merupakan salah satu tahapan dari sebuah perjalanan itu sendiri, yaitu pulang ke kampug halaman setelah sekian lama melakukan perjalanan kehidupan peraduan nasib di tempat yang dipandangnya bisa memberikan penghidupan. Baru kali ini saya merasakan mudik, karena baru pada tahun ini saya keluar dari kota saya, bermigrasi kekota lain menjadi kaum urban menjemput rizkiNya.

Ada kekhasan disetiap Hari raya idul fitri, perayaan sederhana ala keluarga kami. Setahun memang panjang, banyak kejadian yang sudah terjadi dalam setahun tersebut. Suasana lebaran pun akan berbeda tiap tahunnya, anggota keluarga ada yang bertambah maupun berkurang. Hal ini yang membuat sedikit sendu lebaran kami tahun ini. Kekuarga besar kami sudah tidak lengkap lagi. Tidak seperti biasanya, meskipun juga ada penambahan anggota keluarga. Yah begitulah takdir Tuhan, Allah azzawajala mempergilirkan waktu siang dan malam, hidup dan mati agar manusia bisa mengambil pelajaran. Setidaknya kita masih bisa ketemu bulan Ramadhan dan juga merayakan hari raya idul fitri tahun ini. Sangat wajib disyukuri. Tahun depan? Entahlah wallahualam, semoga dipertemukan lagi.

Sebuah tradisi ketika lebaran tiba, kita berkunjung kesanak famili kita, bersilaturahmi menjalin kembali persaudaraan yang hari hari biasa tidak sempat bahkan sekedar saling sapa karena berbagaia alasan sok sibuk kita. Sebuah kearifan lokal kita, yang sudah membumi. Meskipun sebaiknya kearifan ini tidak hanya dirayakan setahun sekali ketika lebaran saja, sebaiknya kita membawanya didalam berbagai kesempatan, kekehidupan sehari hari. Alangkah menyenangkan ketika lebaran tiba, semua berubah menjadi pemaaf, dan ikatan kembali terekat.

Tetapi mau gag mau saya harus segera beranjak dari keasrian rumah, dari kehangatan keluarga. Waktu libur saya telah habis, saya harus kembali lagi menjadi kaum-kaum urban melanjutkan peraduan nasib di kota lain. Ya beginilah cerita lebaran tahun ini, selalu ada cerita tersendiri disetiap lebaran, semoga masih ada cerita lebaran di tahun depan 🙂

Cerita Ramadhan tahun ini

Bulan Ramandhan sudah berlalu meninggalkan kita. Moment-moment romantis berbuka dan sahur beralih kembali menjadi biasa lagi. Tidak ada lagi mata ‘kriyip-kriyip’ harus keluar mencari makan, ataupun pulang kerja duduk manis menunggu maghrib diteras sebuah masjid. Selalu terselip sebuah doa ketika berpisah dengannya, “Semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya”. Ah, Ramadhan memang ngangenin.

Ada hal yang berbeda Ramadhan kali ini, yang saya rasa yaitu menjalaninya seorang diri di tanah perantauan, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang bisa merasakan kehangatan sahur dan berbuka bareng keluarga. Awalnya terasa hambar, seperti teh celup yang biasa saya seduh tanpa gula. Lambat laun saya harus mulai terbisa dengan ini, karena saya yakin keadaan ini adalah yang terbaik untuk saya jalani saat ini. Kebiasaan baru selama menjalani Ramadhan di perantauan adalah bangun lebih awal mencari buat sahur, beruntung di dekat kosan terdapat sebuah warteg, dengan konsekuaensi menu makan sahur selalu hampir sama hanya kombinasi sayur dan lauk minimalis tiap harinya. Ya saya belajar mensyukurinya.
Dalam kesendirian di rantauan saya menemukan kebersamaan lain ketika berbuka puasa, menunggu maghrib bersama para pekerja lainnya di sebuah masjid sebuah kantor yang menyediakan ta’jil. Meskipun hanya dengan secangkir teh hangat, segelas kolak, dan beberapa butir kurma, tetap membuat kesan kebersamaan tersendiri disetiap buka puasa Ramadhan ini.

Hingga tanpa terasa, pelan namun pasti, waktu terus bergulir dan Ramadhan pun mulai memasuki masa akhirnya.

Saya baru kali ini merasakan sensasi mudik. Tiket kereta sudah saya beli jauh hari sebelumnya, bahkan beberapa jam ketika tiket mulai tersedia H-90hari. Alasan saya selalu memilih kereta adalah moda transportasi paling romantis setau saya. Mulai dari suasana stasiunnya, lekukan gerbongnya, hingga baris-baris tempat duduk dan toiletnya. Apalagi kualitas layanan kereta semakin kesini semakin membaik. 🙂

Tepat hari terakhir masuk kantor saya memilih waktu untuk mudik, karena sudah membuncah kangen suasana rumah, kangen Jogja.
Akhirnya hari-hari terakhir Ramadhan bisa saya nikmati bareng keluarga di rumah.
Alhamdulillah 🙂