Tag Archives: Masjid Istiqlal

Menertawakan Jakarta

Sepetak kubikal dengan seperangkat komputer menjadi sesuatu keseharian saya saat ini. Begitupun dengan kamar ukuran tiga kali empat meter menjadi tempat tidur paling aman dan nyaman. Berangkat pukul tujuh kembali pukul tujuh, belum lagi ganasnya jalanan yang setiap saat mengancam, beruntung saya bisa berdamai dengan angkutan kota, meskipun tak bergaransi setidaknya saya masih bisa diantarkannya sampai tujuan tanpa menambah kemacetan ibukota dengan tanpa berkendaraan sendiri. Itulah aktifitas harian yang harus saya jalani dan coba nikmati.

Rutinitas ini kadang membuat lalai, lupa pada diri sendiri. Tubuh ini sewaktu-waktu memang perlu berhenti, sekedar duduk dan menghirup udara segar yang susah ditemui di tempat ini. Sekedar memanjakan badan untuk beristirahat. itu sebabnya akhir pekan berdiam diri dikamar menjadi pilihan ataupun alternatif paling masuk akal yang bisa dijalani.

***

Sahabat sejak sekolah atas dulu mengabarkan bahwa dia akan ada acara di Jakarta, untuk sebuah seminar atas karya papernya di sebuah konverensi energi di JCC. Saya langsung menawarkan mampir saja dikosan saya. Kita dekat, didekatkan oleh waktu, kita sering membahas hal-hal diluar nalar dan kita sudah tau ihwal satu sama lain dari diri kita masing masing. Sahabat saya ini memilih untuk tidak mengikuti jejak saya menjadi pengurban menjajakan diri di ibukota, dia memilih untuk ‘freelance’ di Jogja. Kata ‘freelance’ yang susah menjelaskannya jika ditanya orang apa pekerjaannya. Dia menulis paper ilmiah, dia meneliti, dia seminar, dia bebas tidak terkungkung di sebuah meja dan kubikal seperti saya.

Akhir pekan ini kita sepakat untuk jalan-jalan di ibukota. Sebuah aktifitas yang tidak biasa. Setidak biasanya Jakarta di hari Ahad, karena jalanan bukan lagi dipenuhi kendaraan bermotor, namun hanya pejalan, pelari dan pesepeda. Saya dan sahabat saya mencoba ikut menikmatinya. Kita berjalan sepanjang jalan sudirman-thamrin, sesekali menertawai Jakarta, entah itu mengomentari gedung-gedungnya, ataupun suasananya. Setidaknya dihari ini aktifitas saya tidak sebatas di kubikal. Sahabat saya terlihat lebih menikmatinya, tertawanya lebih riang, Jakarta memang lucu untuk ditertawakan, saya pun ikut tertawa karena inilah realita yang seharian saya temui.

Perjalanan kita terhenti di Istiqlal, masjid yang konon terbesar di asia tenggara. Kita beristirahat, sejenak melupakan tawa-tawa tadi. Waktu itu memang ada pengajian di sana. Tetiba saya ingat, tubuh ini memerlukan haknya, yang terlupakan oleh rutinitas. Sejenak diam dan mendengarkan rupanya cukup mendamaikan jiwa dan raga ini.

 

Bapak Setengah Baya di Ujung Tiang Istiqlal

Sabtu sore pada akhir pekan ke dua di Bulan Desember tahun lalu saat para warga jakarta mulai sibuk dengan aktivitas libur weekend nya. Aku yang sedang Kerja Praktek di sana juga turut merasakan suasana weekend itu. Berdiam diri dikosan tidak menarik, akhirnya kita yaitu aku dan beberapa teman KP ku sepakat untuk keluar. Setelah diputuskan akhirnya kita pingin sholat di masjid terbesar di Indonesia yaitu masjid Istiqlal.

Tepat selepas dzuhur kita mulai berangkat, dengan tetap menggunakan busway tentunya. Ternyata weekend tidak membuat antusias warga jakarta untuk keluar rumah menjadi berkurang, ini nampak ketika beberapa  shelter di setiap jalur busway selalu penuh dengan antrian. Suasana desak desakan didalam bus, dan suara derap langkah beradu cepat dijembatan penghubung menjadi hal yang unik tersendiri dan biasa ditemui disini. Aku gag mau ambil pusing dengan itu semua, mencoba menghibur diri dan ikut hanyut dalam riuhnya jakarta.

Pukul dua kita sampai di halaman Istiqlal, langsung mencari jalan masuk ke masjid. Di depan gerbang tertulis hanya buka sampai jam 16.00 emm berarti kita disini hanya bisa sholat ashar saja pikirku. Jalan yang basah menandakan disini baru saja diguyur hujan. Kemudian kita masuk lewat pintu samping yang memang tidak dibuka lebar-lebar, mencari tempat wudhu  dan tempat menaruh sandal.

Setelah wudhu langsung saja kita masuk, melihat lihat, dan takjub subhanallah gede banget ni masjid. Aku selalu terkagum kagum dan hati merinding ketika berada di tengah kubah besar didalam masjid yang luas, sangat berasa banget betapa kecilnya kita. Apalagi didalam masjid yang suasananya khusuk bisa tambah merinding. Setelah itu aku duduk di dekat tiang pilar sebelah belakang masjid istiqlal yang berukuran gede baget. Aku duduk saja disitu sambil ngecek HP. Tiba tiba tersahut suara parau lelaki dengan logat bali berkata “subhanallah mas gede banget masjidnya” sontak aku un kaget karena tidak mengira disitu ada orang bersandar. Lalu aku jawab “iya pak subhanallah gede banget ini masjid, saya baru pertama kesini kagum pak” Bapak separuh baya yang aku perhatikan agag letih itu tetap berdzikir dengan tasbih ditangnya lalu bilang “ sama mas saya juga baru pertama kali kesini” Setelah itu terjadi percakapan hangat antara aku dan bapa itu.

“Saya seorang mualaf dari Bali mas, baru pertama ke Jakarta dan sebenernya tanpa tujuan, namun saya pernah mendengar ada masjid namanya masjid istiqlal disini.”  bapak itu mulai bercerita dan saya menyimaknya. ” Saya juga bingung bagaimana bisa saya sampai kesini, mungkin karena kebesaran Allah saya bisa sampai disini” beliau terus bercerita sambil mengucapkan dzikir yang belum fasih. ” Saya diusir mas, setelah dihajar habis habisan sama keluarga saya karena saya memilih jalan masuk Islam, saya disuruh pergi tanpa membawa bekal apapun dan dianggap bukan menjadi bagian keluarga saya lagi”. “Akhirnya hanya berbekal pakain yang saya pakae waktu itu dan masih saya pakai sampai sekarang saya memutuskan untuk pergi” Cerita bapak itu yang masih kental sekali logat Balinya “saya pernah lihat aa gym di tv dan saya mau mencarinya buat belajar islam lebih dalam. Akhirnya saya menumpang truck yang mau ke surabaya.” Aku pun tanya pada bapaknya “Bapak kan gag bawa apa apa, terus gimana makannya selama ini” Bapak itu menjawab “Alhamdulillah mas, saya masih bisa minum dengan air wudhu selama ini” Seketika itu aku pun  menangis dalam hati, kagum akan kegigihan bapak itu yang masih mualaf namun keyakinannya kuat akan pertolongan Allah. “Saya bisa sampai kesini dengan nyusup naik kereta dari surabaya-ke jakarta, saya berdiam diri terus di toilet mas, kalo saya lapar bisa langsung minum air disana. Sampai dijakarta saya gag tau dimana, mungkin stasiun senen, lalu saya ingat ada masjid istiqlal lalu saya jalan dan sampailah saya disini” Aku bertanya lagi “lalu rencana bapak mau kemana?”. “Saya gag tau mas, saya mau nyari ketempat aa gym”  Sahutnya. “tapi tempatnya aa’ gym masih jauh lho pak, tempatnya di bandung bukan di jakarta” . “Iya mas gagpapa semoga saja saya bisa kuat sampai sana” kemudian bapak itu pun melanjutkan dzikirnya.

Beberapa saat kemudian bapak itu mau melanjutkan perjalanannya, pamitan sama aku “Mas saya duluan”. Aku malah bertanya “lho bapak gag sekalian sholat ashar dulu disini?” Saya sudah sholat yang di gabung sama dzuhur itu apa namanya mas? | eee dijamak pak| iya tadi saya sudah menjamaknya. Bapak itu pun lalu pergi dengan menjabat tanganku sambil terucap doa untuk ku dan aku mencoba membantunya semampuku.

Adzan ashar berkumandang, lalu ini sholat jamaah pertamaku di masjid Istiqlal ini. Dengan bergetar terus hatiku masih terngiang akan cerita bapak tadi. Syukur alhamdulillah aku masih di beri nikmat keimanan ini, dan berdoa semoga bapak tadi bisa tetap imannya dan selamat sampai tujuan.