Tag Archives: KP

Panggilan, pemantik nostalgi sahabat

Kemaren lusa sesaat saya menyeduh secangkir kopi di kantor, baru saja duduk kembali dari pantri, handphone saya bergetar. Sengaja saya silent memang. Muncul nomer dengan awalan 021- nampaknya bukan nomer pribadi juga bukan nomer yang sudah ada di kontakku. Penasaran saya, lalu kuangkat dengan suara lirih, gag enak saya karena meja pak bos pun tidak terlalu jauh dari meja saya.

“Halo dengan Mas Teguh Budi Pratomo”, sapanya dari sana, “gini mas, saya bla-bla-bla-bla”  wew ternyata  ibu HRD tempat saya KP dulu (Yokogawa) menelpon, memang setelah lulus saya pernah menitipkan CV saya kepada pembimbing saya dulu. Kesan positif saat saya KP disana sih cukup enak dan ilmunya dapet. Namun andai saja telpon itu datang sebulan, dua bulan atau bahkan lima bulan yang lalu saya akan mempertimbangkan tawaranya, tapi ternyata tidak, hampir 5 bulan saya menunggu belum ada kabar juga. Malah justru saat ini ketika saya sudah mulai bekerja yang belum genap sebulan di perusahaan lain, baru datang telpon itu. Akhirnya saya jujur saja bahwa saya sudah mulai bekerja di perusahaan lain, mungkin dilain kesempatan bila Allah berkendak ya Bu!

Setelahnya saya jadi kepikiran dengan teman-teman KP saya dulu, apakabarnya ya mereka?

Isnan Rizki Novianto, teman curcol tentang apapun, teman sekamar waktu ngekos pas KP, karena kantong mahasiswa dan harus bisa tetap survive di ibukota maka sekamar diisi berdua. Katanya sih mirip Cristian Sugiono, tapi saya belum bisa membuktikannya, nyatanya cinta nya cukup berliku juga #eh, Kalo masalah karir cukup lancar dia, setelah kita lulus bareng, langsung deh dia ketrima di ADM.

Lain lagi dengan 2 sahabat KP saya ini, mereka beda kamar dengan Aku dan Isnan, Jadi kita KP bareng ber 4, nyewa kos 2 kamar.

Pryandana Wrestato, dia lah yang mengajak kita KP di Yokogawa, bagiku ini adalah tawaran menarik ketika saya hopeless setelah mendapat penolakan dari perusahaan lain, pria asal Gresik yang punya hobi Air Soft Gun ini juga kiper tim futsal kami.

Yogi Prayoga Sakti, anak Madiun yang jago futsal ini adalah andalan kami ketika futsal hingga tim kami bisa juara EC futsal 2 tahun berturut-turut.

Keningku agag mengkerut serius ketika kepikiran dengan kabar dua sahabat saya ini, gimana kabar kalian? Memang akhir-akhir ini saya begitu seringnya kepikiran dengan teman-teman, juga kepada kalian. Terakhir saya dengar kalian masih menyelesaikan skripsi kalian, saya yakin kalian masih semangat mengerjakannya, saya optimis kalian bisa melalui ini, ayo semangat bung! Saya harap kita bisa berfoto saat kalian wisuda, atau seenggag nya bisa melihat foto kalian wisuda. Saya selalu berdoa disini semoga yang terbaik untuk kita semua.

Bapak Setengah Baya di Ujung Tiang Istiqlal

Sabtu sore pada akhir pekan ke dua di Bulan Desember tahun lalu saat para warga jakarta mulai sibuk dengan aktivitas libur weekend nya. Aku yang sedang Kerja Praktek di sana juga turut merasakan suasana weekend itu. Berdiam diri dikosan tidak menarik, akhirnya kita yaitu aku dan beberapa teman KP ku sepakat untuk keluar. Setelah diputuskan akhirnya kita pingin sholat di masjid terbesar di Indonesia yaitu masjid Istiqlal.

Tepat selepas dzuhur kita mulai berangkat, dengan tetap menggunakan busway tentunya. Ternyata weekend tidak membuat antusias warga jakarta untuk keluar rumah menjadi berkurang, ini nampak ketika beberapa  shelter di setiap jalur busway selalu penuh dengan antrian. Suasana desak desakan didalam bus, dan suara derap langkah beradu cepat dijembatan penghubung menjadi hal yang unik tersendiri dan biasa ditemui disini. Aku gag mau ambil pusing dengan itu semua, mencoba menghibur diri dan ikut hanyut dalam riuhnya jakarta.

Pukul dua kita sampai di halaman Istiqlal, langsung mencari jalan masuk ke masjid. Di depan gerbang tertulis hanya buka sampai jam 16.00 emm berarti kita disini hanya bisa sholat ashar saja pikirku. Jalan yang basah menandakan disini baru saja diguyur hujan. Kemudian kita masuk lewat pintu samping yang memang tidak dibuka lebar-lebar, mencari tempat wudhu  dan tempat menaruh sandal.

Setelah wudhu langsung saja kita masuk, melihat lihat, dan takjub subhanallah gede banget ni masjid. Aku selalu terkagum kagum dan hati merinding ketika berada di tengah kubah besar didalam masjid yang luas, sangat berasa banget betapa kecilnya kita. Apalagi didalam masjid yang suasananya khusuk bisa tambah merinding. Setelah itu aku duduk di dekat tiang pilar sebelah belakang masjid istiqlal yang berukuran gede baget. Aku duduk saja disitu sambil ngecek HP. Tiba tiba tersahut suara parau lelaki dengan logat bali berkata “subhanallah mas gede banget masjidnya” sontak aku un kaget karena tidak mengira disitu ada orang bersandar. Lalu aku jawab “iya pak subhanallah gede banget ini masjid, saya baru pertama kesini kagum pak” Bapak separuh baya yang aku perhatikan agag letih itu tetap berdzikir dengan tasbih ditangnya lalu bilang “ sama mas saya juga baru pertama kali kesini” Setelah itu terjadi percakapan hangat antara aku dan bapa itu.

“Saya seorang mualaf dari Bali mas, baru pertama ke Jakarta dan sebenernya tanpa tujuan, namun saya pernah mendengar ada masjid namanya masjid istiqlal disini.”  bapak itu mulai bercerita dan saya menyimaknya. ” Saya juga bingung bagaimana bisa saya sampai kesini, mungkin karena kebesaran Allah saya bisa sampai disini” beliau terus bercerita sambil mengucapkan dzikir yang belum fasih. ” Saya diusir mas, setelah dihajar habis habisan sama keluarga saya karena saya memilih jalan masuk Islam, saya disuruh pergi tanpa membawa bekal apapun dan dianggap bukan menjadi bagian keluarga saya lagi”. “Akhirnya hanya berbekal pakain yang saya pakae waktu itu dan masih saya pakai sampai sekarang saya memutuskan untuk pergi” Cerita bapak itu yang masih kental sekali logat Balinya “saya pernah lihat aa gym di tv dan saya mau mencarinya buat belajar islam lebih dalam. Akhirnya saya menumpang truck yang mau ke surabaya.” Aku pun tanya pada bapaknya “Bapak kan gag bawa apa apa, terus gimana makannya selama ini” Bapak itu menjawab “Alhamdulillah mas, saya masih bisa minum dengan air wudhu selama ini” Seketika itu aku pun  menangis dalam hati, kagum akan kegigihan bapak itu yang masih mualaf namun keyakinannya kuat akan pertolongan Allah. “Saya bisa sampai kesini dengan nyusup naik kereta dari surabaya-ke jakarta, saya berdiam diri terus di toilet mas, kalo saya lapar bisa langsung minum air disana. Sampai dijakarta saya gag tau dimana, mungkin stasiun senen, lalu saya ingat ada masjid istiqlal lalu saya jalan dan sampailah saya disini” Aku bertanya lagi “lalu rencana bapak mau kemana?”. “Saya gag tau mas, saya mau nyari ketempat aa gym”  Sahutnya. “tapi tempatnya aa’ gym masih jauh lho pak, tempatnya di bandung bukan di jakarta” . “Iya mas gagpapa semoga saja saya bisa kuat sampai sana” kemudian bapak itu pun melanjutkan dzikirnya.

Beberapa saat kemudian bapak itu mau melanjutkan perjalanannya, pamitan sama aku “Mas saya duluan”. Aku malah bertanya “lho bapak gag sekalian sholat ashar dulu disini?” Saya sudah sholat yang di gabung sama dzuhur itu apa namanya mas? | eee dijamak pak| iya tadi saya sudah menjamaknya. Bapak itu pun lalu pergi dengan menjabat tanganku sambil terucap doa untuk ku dan aku mencoba membantunya semampuku.

Adzan ashar berkumandang, lalu ini sholat jamaah pertamaku di masjid Istiqlal ini. Dengan bergetar terus hatiku masih terngiang akan cerita bapak tadi. Syukur alhamdulillah aku masih di beri nikmat keimanan ini, dan berdoa semoga bapak tadi bisa tetap imannya dan selamat sampai tujuan.

Jalan-Jalan di Ibukota #1

Bagi para karyawan atau pegawai kantoran, weekend adalah saat saat yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu. Begitu juga dengan kami yang baru melakukan Kerja Praktek. Kita bisa mengisi waktu weekend untuk merefresh pikiran dan semangat kita, bisa dengan jalan -jalan atau hanya bermalas malasan di kamar atau menghabiskan waktu buat nonton dll yang pasti sejenak melupakan pekerjaan.

Kami yang KP di Jakarta, untuk merefresh pikiran ke gunung atau pantai sangatlah jauh, apalagi kita terkendala kendaraan. Akhirnya di weekend pertama kita dijakarta ini kita berencana Continue reading Jalan-Jalan di Ibukota #1

Week #1 KP

Saya akan mencoba share apa yang saya dan beberapa teman saya dapat selama kerja praktek di PT. Yokogawa Indonesia. karena tidak pintar bercerita dan terlalu sulit untuk mengungkapnya, maka akan aku rangkum ceritanya per week ya hehehe

benar adanya kalau KP ini merupakan rencanaku yang ke sekian, setelah mencoba mengajukan di beberapa perusahaan oil & gas lain yang menurut track recordnya menggiurkan, dan itulah rencana Allah, Dia yang merencanakan yg terbaik buat kita. Continue reading Week #1 KP

Hijrah:move on

Awal bulan ini dalam kalender islam merupakan juga awal tahun hijriah, menilik kisah kanjeng nabi pada waktu itu beliau harus hijrah dari mekah ke madinah karena banyak alasan dan salah satunya adalah ancaman pembunuhan oleh kaum kafir quraisy. Kita sebagai umatnya juga patut mencontoh sebaik baik teladan tersebut, ketika kita sudah stuck pada suatu hal maka kita harus pindah mencari hal baru dalam bahasa kerennya move on.

Dalam bulan desember ini, bagi saya dan beberapa temen saya adalah situasi yang mengharuskan move on, atau pindah ke tempat baru. Kalo dalam pelajaran sosial dulu namanya Urbanisasi yaitu pindah dari desa kekota. Kita harus menjalani Kerja Praktek di Jakarta. Salah satu step yang harus ditempuh oleh mahasiswa di prodi kami. Kami memilih PT Yokogawa Indonesia sebagai tempat KP kami, karena beberapa hal (nanti akan saya ceritakan pengalaman KP disana). Mungkin ini adalah plan F saya bisa kerja praktek disini, karena sebelumnya sudah ditolak Chevron untuk KP disana. hahaha tak masalah dan Tuhan adalah sebaik baik perenccana dan penentu bagi makhluknya 🙂 (tunggu cerita selanjutnya selama kita KP) Continue reading Hijrah:move on