Tag Archives: Kerja

Melupakan Jakarta

Jakarta dengan banyak anggapan dan mimpinya menjadikan magnet tersendiri bagi orang-orang untuk mendatanginya. Tidak sedikit yang memimpikan jakarta, atau biasa dibilang Jakarta Dream. dijadikan  menggantungkan mimpi, untuk bekerja, mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Begitupun dengan saya yang sah menjadi salah satu kaum pengurban sekitar 4 tahun lalu. Namun sudah satu semester ini atas taqdir Nya saya meninggalkan kota yang yang saya rasa mempunyai ritme lebih cepat ini.

Dalam kurun satu semester kemaren juga jakarta memang begitu riuh dengan pilkadanya, dan seakan Allah tidak mengizinkan saya untuk ikut pusing di riuhnya pilkada tersebut, Allah menyuruh saya untuk pulang kampung. Sekarang Jakarta sudah menemukan pemimpin pilihannya, semoga itu yang terbaik dari kemungkinan terburuk. Kita titipkan Jakarta kepada mas Anis dan bang Sandi semoga amanah dan menjadikan Jakarta lebih baik.

Lepas dari Jakarta dan mencoba melupakannya, saya menjalani fase yang cukup berat juga dalam menapak. Segala ikhtiar telah diupayakan sambil terus belajar memperbaiki diri. Hal positifnya adalah saya lebih punya waktu untuk membersamai kedua orang tua saya dimana disana terdapat pintu surga saya, simak video kajian berikut mengenai berbakti kepada orang tua , selain itu saya juga punya waktu agag longgar untuk kembali belajar. Pada awal prosesnya saya menjadi pekerja lepas, yang entah saya cukup kerepotan juga ketika orangtua dan tetangga  menanyakan sekarang kerja dimana. Sembari mencari lagi pekerjaan terbaik yang terus diusahakan, Alhamdulillah dua bulan lalu saya mendapatkan pekerjaan yang Allah tunjukkan untuk saya usahakan dan jalani saat ini, berlokasi di Jogja sehingga saya masih bisa terus membersamai orang tua saya dimasa-masa pensiun mereka. Namun jika di tanya kerja dimana, masih kesulitan juga untuk menjelaskan yang kalau saya sebut sebuah perusahaan konsultan teknik terlalu high expectation, akhirnya saya menyederhanakan istilah ketika ditanya kerja yaitu di tempat jasa ketik, print dan fotocopy karena memang kegiatan kerja saya banyak saya habiskan untuk mengetik dan print hehe.

Memang tidak sewah kerja di Jakarta, tapi alhamdulillah semoga dengan kerja di Jogja saya bisa mendapatkan kebaikan yang lebih, bisa membersamai orang tua, bisa lebih didekatkan dengan belajar agama, bisa bersosialisasi dengan tetangga dan menebarkan kebaikan lebih bayak kepada masyarakat, dan bisa membina keluarga dengan lingkungan yang baik nantinya. Akhirnya kata melupakan jakarta pun agagnya memang harus saya ucapkan dengan ikhlas dan mantab.

Pensiun Dini

Cerita panjang perjalanan perantauan saya di Jakarta, sementara ini kudu berhenti sejenak. Memang adakalanya kita butuh rehat sejenak, untuk bernafas lebih dalam agar bisa lebih memaknai arti sebuah perjalanan. Dalam hal ini literally perjalanan karir saya. Yap sudah hampir sebulan terakhir saya memutuskan untuk ‘Pensiun Dini’. Memang keputusan itu tidak serta merta karena berasal dari keinginan sendiri, namun karena juga ada serangkaian faktor luar yang turut andil.

Singkat ceritanya begini, harga minyak turun, banyak proyek di hold, perusahan tempat saya kerja idle/ tidak ada kerjaan lagi, perusahaan melakukan langkah efisiensi, keadaan tidak juga membaik, tawaran pensiun dini, ada masalah di head office, tutup.

Nah saya memutuskan untuk mengambil opsi pensiun dini tersebut, tentunya setelah melakukan beberapa pertimbangan. Berikut salah satu referensi sebelum memutuskan mengambil pensiun dini Rumus perhitungan pesangon. Selain karena keadaan tidak juga menunjukkan perkembangan kearah yang lebih baik, dan juga suasana kantor sudah tidak cukup kondusif.

pensiun

Ternyata keputusan saya juga sama dengan hampir semua rekan saya. Merekan memilih mengambil opsi itu, hingga belakangan saya ketahui semua rekan kerja saya akhirnya mengambil opsi itu atau dengan kata lain tutup.

Sebenarnya sangat disayangkan perusahaan yang punya visi menjadi world leader in ocean technology ini harus menutup cabangnya di Indonesia, namun apa mau dikata keadaan memang tidak lebih membaik. Terimakasih untuk 3 tahun terakhir yang sudah menyediakan tempat bagi saya untuk menjalani sebab sampainya rizkiMu, juga tempat belajar dan mengenal banyak hal baru. Semoga dimudahkan untuk menjalani hal-hal baik lain kedepannya.

Kejutan dibulan Juni

Bulan Juni sudah berjalan setengahnya dan berlalu dengan penuh kejutan juga perubahan  yang cukup krusial. Awal bulan berjalan normal seperti biasa, berangkat ke kantor dengan antusias karena memang awal bulan kan. Namun semua berubah ketika ada sebuah telepon dari perusahaan lain yang memberi kesempatan berkarir disana. Memang sebelumnya saya telah menjalani proses hingga MCU. Posisi saya yang sudah bekerja tidak lantas mengiyakan tawaran tersebut, saya meminta waktu untuk berfikir, handover pekerjaan dan ijin perusahaan sekarang, dan yang penting meminta restu orang tua. Setelah berfikir dan menimbang, ijin dan restu dikantong barulah saya mengkonfirmasi kesediaan itu.

Hari terakhir saya di kantor pertama saya, saya berangkat cukup bersemangat karena hari ini mau pamitan dengan rekan kerja yang lain. Saya cukup berkesan dengan suasana kerja dan kekeluargaan di kantor ini. Sambutan hangat dari ketika saya berkenalan masuk di kantor ini selalu saya rasakan setiap hari, dari Manager hingga OB nya. Ending yang sudah saya susun rapi di perusahaan ini tiba-tiba buyar akan sebuah telfon dari perusahaan yang memberi tawaran tadi. “Maaf waktu konfirmasi anda sudah lewat, dan anda tidak bisa lagi masuk”, seketika itu hanya lemes dan bingung, karena surat pengunduran diri saya sudah di approve. Njuk aku kudu piye? Bingung harus berbuat apa, akhirnya saya menghubungi project manager untuk menangguhkan surat pengunduran diri saya, dari beliau tidak masalah namun saya harus menghadap ke Manager dan HR. Ketika itu hari Jum’at, mungkin hari terpanik saya saat kerja. Setelah sholat Jum’at saya berpikir kembali dan mencoba melihat informasi di email yang saya terima, setelah saya lihat ternyata saya tidaklah telat mengkonfirmasi keputusan tersebut ke perusahaan yang menawari tadi. Akhirnya saya berusaha lagi menghubungi HR Manager perusahaan tersebut. Aku jelaskan kronologisnya dan untungnya bapaknya mau mengerti dan qodarullah ini memang kesalahan koordinasi internal mereka, dan bapaknya akan berusaha membantu.

Ketika belum mendapatkan titik terang, namun waktu sudah menunjukkan 18.00, ketika itu saya sudah membeli tiket pulang Jogja kereta jam 18.42. Akhirnya saya keluar kantor dan langsung mencari ojek, tanpa pulang kekosan dulu langsung menuju stasiun. Bapak tukang ojek yang sudah cukup tua tidak mampu menggeber motornya, akhirnya saya memintanya untuk yang di depan. Bisa dibayangkan, pikiran sedang buyar akan kejelasan status yang belum jelas, plus buru-buru ngejar kereta dengan jalanan macet. Alhamdulillah kereta masih bisa terkejar. Ketika duduk dikereta ada notifikasi untuk hari Senin datang ke kantor yang menawari tersebut untuk menjelaskan kronologis dan bertemu presiden direkturnya.

Weekend di Jogja pertama saya ketika sudah bekerja, alhamdulillah bisa mengobati tabungan rinduku pada keluarga, pada masakan ibu, pada nuansa khas jogja, pada udara segar dipagi hari, pada sahabat, dan semuanya yang sudah hampir dua bulan tidak menjumpainya. Weekend pun berlalu dan akhirnya harus kembali ke ibukota menjalani sebab diturunkan rizkiNya.

Senin, pagi saya datang ke kantor baru, mencoba melobi dan berdiskusi, dan alhamdulillah semua berjalan dengan baik, officially saya pindah kantor dan kerja hari ini. Kemudian saya kembali pamitan ke perusahaan lama, meskipun perasaan tidak enak karena saking paniknya meminta menangguhkan surat pengunduran diri sebelumnya, namun alhamdulillah semua berjalan dengan baik. Karena training di kantor baru sudah berjalan selama 2 minggu, maka saya harus berusaha untuk bisa mengejarnya. Beruntung ada teman-teman yang juga ikut training yang bisa dimintai tolong untuk bertanya. Karena jarak kantor baru ke kosan lama cukup jauh, akhirnya saya putuskan untuk pindah kosan.

Pertengahan bulan Juni, umur saya pun genap 23, jatah hidup berkurang, diumur segini saya berharap saya semakin bisa berfikir kedepan, dan bisa belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, semoga umur saya semakin barokah, dan bisa mempergunakan sisa umur dengan kebaikan dan ketaatan. Banyak rencana-rencana besar yang saya harus siap menghadapinya. Semoga Allah menguatkan saya, dan melancarkan segala urusan saya, dan diberikan hasil yang terbaik.

Akhirnya saya mengucapkan terimakasih yang sangat banyak kepada kantor lama yang sudah memberikan sambutan hangat, suasana kerja dan kekeluargaanya. Terimakasih kepada teman-teman baru disana, ilmu baru nya meskipun masih terlalu singkat. Terimakasih kepada kosan pertama saya yang telah memberikan keasriannya, sambutan kicauan burung gereja di pagi hari, warteg yang pas dikantong dan pas rasanya. Terimakasih semuanya, semoga itu semua menjadi bagian pengalaman baru dalam hidup saya yang darinya saya banyak belajar.

Hari Raya Kelas Pekerja

1 Mei, merupakan harinya bagi para kelas pekerja. Biasa disebutnya May Day. Sejarah berawal dari sebuah perayaan atas keberhasilan para kelas pekerja dalam memperoleh hak-hak mereka atas kejamnya kapitalisme industri. Berbagai tuntutan awal mengenai jumlah jam kerja 8 jam per hari menjadi sebuah pergerakan kaum buruh.

Di Indonesia sendiri kabarnya Hari Buruh identik dengan sebuah pergerakan kiri yang konon di tunggangi PKI. Sehingga pada masa OrBa hari buruh ini tidak pernah diperingati. Kekhawatiran akan sebuah aksi yang anarkislah yang membuatnya tak pernah terperingati. Namun belakangan setelah revormasi hari buruh ini mulai mencul kembali dan rutin dilaksanakan oleh para kelas pekerja kita.

Umumnya, mereka akan turun kejalan menyuarakan tuntutannya supaya bisa didengarkan penguasa. Meskipun tak jarang aktivitas seperti ini kadang berujung rusuh dan terganggunya kativias masyarakat umum lainnya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penyampaian pendapat dan harapan untuk pemerintah dengan menyuarakan langsung, asalkan jangan anarkis dan tidak mengganggu kepentingan umum. Karena kaum kelas pekerja pun juga mempunyai hak untuk bicara dan menyampaikan pendapat mereka.

Kabarnya mulai tahun depan akan ada libur nasional pada hari buruh. Logis sih, jika dilihat dari runtutannya, otomatis para pekerja jika ingin turun aksi pasti tidak masuk kerja, perusahaan tidak beroprasi, para pekerja turun ke jalan, aktivitas pegawai lain jadi terhambat, mungkin solusi pemerintah untuk meliburkan pada hari buruh adalah pilihan yang pas.

Pada hari ini 1 Mei saya yang juga mulai menjadi pekerja di ibukota sedikit merasakan euforia para kaum kelas pekerja di ibukota. Hari ini memang saya tidak masuk kerja, saya ijin karena ada invitasi MCU dari perusahaan lain di suatu lab dikawasan buncit. Setelah MCU selesai saya pulang dengan busway transportasi andalan saya di ibukota. Namun karena ada aksi dari teman-teman buruh, busway yang saya tumpangi tidak bisa menuju ketempat yang saya tuju akhirnya hanya bisa berhenti di halte terdekat saat itu. Menunggu cukup lama di halte tersebut, melihat jalanan macet juga para pekerja yang bersemangat turun kejalan maka saya berusaha menikmati suasana tersebut, alhasil setelah berapa lama jalan bisa berjalan normal kembali.

Saya berharap yang terbaik buat kalian dan kita semua wahai saudara-saudaraku kelas pekerja.

 

Cerita awal perantauan

Dua minggu lalu saya berpamitan pada ibu dan bapak saya, mohon doa restu menjalani sebab untuk mencari sebuah akibat didatangkan rizky Nya untukku. Saya merantau di tanah orang, yang katanya keras kehidupannya. Penyematan gelar kerasnya ibukota itu memang benar adanya. Sepintas menjejakkan kaki disana langsung kental terasa buasnya di sepanjang jalan.

Adalah sebuah perusahaan EPC (Engineering, Procrument, Construction) yang berkantor di kawasan Industri Pulogadung sebut saja IBP lah yang mau menerimaku. IBP adalah nama Indonesia dari perusaahan yang berasal dari negerinya Napoleon. Pikirku sudah jalani saja dulu, insyaAllah Allah akan menunjukkan jalan yang terbaik jika kita berusaha. Memang ini bukan list pertamaku, yang sebenarnya saya sangat mengharapkan sebuah owner minyak plat merah, namun karena surat cintanya tak kunjung tiba apa  daya saya harus menerimanya.

Langkah awal saya di perusahaan ini sangat terbantu dengan adanya kakak angkatan kuliah saya disini Mas Jalu (elins 04). Jauh sih beda angkatanya bahkan mungkin gag sempat berjumpa dengan sadar dikampus. Namun beliaulah yang membantuku mengantarkan mencari kos, hingga sering nebengi waktu pulang. Pertemuan kita pun pada awalnya bukan diperusahaan ini, namun waktu itu kita lagi sama-sama diundang interview di perusahaan Kuda Laut anak dari perusahaan owner plat merah. Namun lagi-lagi surat cintanya belum juga sampai pada kita.

Saya mendapatkan kos di sebuah kompleks perumahan di daerah Jalan Layur, Jakarta TImur. Alasan utama memilih kos ini adalah dekat dengan masjid, selain itu karena suasana komples perumahan jadi cukup kondusif dan tidak terlalu kumuh. Jaraknya sekitas 3 km dari kantor dan kalo jalan kaki sekitar 30 menitan. Harganya pun cukup wajar, dengan 500rb perbulan sudah ada kipas di kamar dan ada mesin  cuci untuk mencuci, meskipun kamar mandi di luar. Sejauh ini kos ini cukup nyaman saya tempati.

Hari pertama saya berangkat ke kantor dengan jalan kaki. Aku pikir lumayan dekat kalo aku lihat di google map, namun ternyata cukup ngos-ngosan juga jalan cepat sekitar 3 km biar gag terlambat. Namun seterusnya saya naik angkot dulu separo jalan (karena angkotnya gag masuk kawasan) lanjut jalan kaki menuju kantor. Untuk pulangnya juga jalan kaki, namun jika ada tebengan ya saya gag nolak 🙂

Hari pertama diajak oleh HR nya kenalan ke seluruh orang kantor mulai dari front office sampe CEO di perusahaan ini. Kebetulan ada satu teman lagi yang juga baru masuk dia bagian Electrical Eng, sedangkan saya Instrument Eng. Setelah itu oleh Manager Eng nya saya ditempatkan di div COMI *lupa kepanjangannya, ingetnya C.. Oil, Mining, I… Setelah itu dikasih meja, dan kebetulan di dekat mejanya mas Jalu. Untuk saat ini memang belum ada project baru, sehingga saya baru disuruh bantu projectnya mas Jalu yang sedang mengerjakan projectnya PHE ONWJ itupun sudah hampir selasai sudah sampai tahap As-Built.  Sementara saya bantu-bantu review drawing document.

Sudah hampir dua minggu ini saya merasakan suasana kantor yang cukup nyaman. Kalo kata mas Nugroho (electrical eng, project Chevron) “Suasananya disini memang dapet sih”, lain lagi kata mas Riza (instr eng, project PHE) “Untuk FG, masih susah buat belajar karena terlalu santai dan agag semrawut, juga untuk kantong agag kasihan saya”. Project Manager nya pun insyaAllah orang yang ngerti sunah, sehingga tiap sholat kita bisa ke masjid meskipun lokasinya agag jauh. Dari sini saya merasakan orang-orang di sini sangat  welcome pada orang baru, suasananya pun enak, namun bagi FG seperti saya masih agag bingung belajarnya karena tidak ada trainig di awal dan juga untuk kantong masih harus hemat ketat, juga sangat mengharapkan bisa ke site, yang rate per day nya lumayan.

Alhamdulillah sejauh ini saya bisa beradaptasi di lingkungan baru, insyaAllah akan saya jalani dulu dengan ikhlas, semoga Allah memudahkan jalan dan menunjukkan jalan terbaik. 🙂