Tag Archives: kereta

Dikejar Waktu

Aku tak tahu harus mulai dari mana?
Aku tak tahu harus menulis apa?

Ditanganku duka
Ditanganku suka

Lagu cinta ingin kunyanyikan
Namun lidahku kaku hatiku beku

Aku rindu
Aku tak tahu
Lagu cinta dimana kamu?

Mencari apa yang dicari
Menunggu apa yang ditunggu
Aku merasa dikejar waktu

(Lagu Cinta | Iwan Fals)

Pada sebuah adegan, dalam film Sabtu Bersama Bapak yang beberapa waktu lalu saya tonton, tetiba  terdengar lagu latar yang cukup familiar ini.

Hari ini persis, saya berangkat kembali ke perantauan, setelah libur Lebaran yang cukup panjang (2 mingguan). Lidah kaku, dan hati beku nampak begitu nyata. Di stasiun Tugu ketika tahu orang yang ada dalam doa kita ternyata ada disana. Ah ini cuma kebaperan ala stasiun seperti biasanya pikir ku. Tapi benar aku tak tahu harus mulai dari mana? Aku tak tahu harus menulis apa? Akhirnya selepas Purwokerto, di gerbong restorasi ini saya menyudahi lamunan itu.

Mencari apa yang dicari, Menunggu apa yang ditunggu
Aku merasa dikejar waktu

Sesaat lagi memasuki Stasiun Cirebon.

 

Alternatif Pulang

Ada kabar bagus bagi kaum kelas pekerja dari daerah seperti saya, bahwa mulai bulan September tiket kereta ekonomi turun harga menjadi Rp 50.000,-. Berita ini sungguh menyegarkan bak guyuran hujan dikemarau panjang, dikala hati kering merindu akan kampung halaman. Sebuah harapan untuk bisa sering-sering ketemu keluarga di rumah. Alhamdulillah bisa sering pulang.

Kereta ekonomi menjadi pilihan yang paling masuk akal dan juga masuk dikantong saya. Masuk akal karena perbaikan dari penyediaan layanannya yang semakin membaik dari PT.KAI baik jadwalnya maupun kondisi didalam kereta itu sendiri. Masuk dikantong karena harga tiket untuk kereta ekonomi cukup bersahabat dan terpaut cukup jauh dari kelas-kelas diatasnya. Ada hal lain juga yang saya suka yaitu ketika mengamati suasana dalam kereta ekonomi dan obrolan antar penumpannya.

Kereta Progo, adalah kereta ekonomi jarak jauh PP Jakarta-Jogja, lebih tepatnya Stasiun Pasar Senen (PSE)-Lempuyangan (LMP). Berangkat dari PSE pukul 22.00 dan tiba di LMP sekitar pukul 06.20. Melihat jadwal yang cukup bagus dan pas, artinya bagi pekerja seperti saya, jam 22.00 berangkat dari PSE adalah jam yang cantik, sudah pulang kerja, dan tidak terburu-buru ke stasiun.

Ada sebuah kelompok komunal yang tercipta dengan sendirinya yaitu komunitas PJKA “Pulang Jumat Kembali Ahad”. Kelompok ini secara natural terbentuk bagi para pekerja yang bekerja diluar kota, biasanya orang daerah yang bekerja ke jakarta, yang setiap akhir pekan pulang kedaerah masing-masing untuk bertemu dengan keluarga. Jumat sore selapas jam kantor mereka pulang ke kampung halaman, hari Sabtu bisa berkumpul dengan keluarga, dan Ahad sore mereka kembali ke tempat kerja.

Saya sering mengobrol dengan penumpang lain dikereta ketika pulang, mereka rata-rata mengaku sudah rutin setiap akhir pekan pulang ke daerah mereka. Biasanya bagi yang sudah berkeluarga dan istri-anaknya berada di sana. Mereka rela melakukan perjalanan jarak-jauh setiap minggu untuk keluarganya. Ini sebabnya kerap kali saya temui orang-orang yang sama dalam satu gerbong setiap minggunya.

Kereta Progo menjadi primadona bagi para kelas pekerja juga PJKA dari Jogja seperti saya, jadwalnya yang cantik membuat tiket ini selalu ludes terjual bahkan untuk perjalanan untuk 2 bulan kedepan. Bagi mereka yang rutin setiap minggunya pulang, sudah langsung membeli tiket bahkan ketika waktu tiket dibuka untuk tangal tersebut. Ini sebabnya tiket progo pada hari juma’at malam selalu habis terjual.

Bagi saya yang memang belum bisa pulang setiap minggu, namun insyaAllah saya usahakan sebulan sekali, agak kesulitan mendapatkan tiket tersebut, kecuali kalo sudah merencanakan tanggal tersebut jauh jauh hari mau pulang dan langsung pesan begitu tiket dijual.

Saya mendapatkan alternatif itenerary untuk pulang yaitu saya menggunakan Kereta Ekonomi Tawang Jaya, kereta tujuan Stasiun Pasar Senen-Semarang poncol. Jadi saya terlebih dahulu lewat semarang untuk kemudian dilanjut naik bus menuju Jogja. Memang agag ribet dan pastinya lebih lama, namun bisa jadi alternatif ketika tiket Progo habis. Jadwal kereta Tawang Jaya berangkat dari PSE pukul 22.10 dan sampai di SMC sekitar pukul 05.40, harga tiketnya lebih murah Rp 45.000,-. Selanjutnya dari depan stasiun naik angkutan jurusan terminal Terboyo Rp 5.000,- dan dari terminal bisa memilih bus jurusan Semarang-Jogja. Untuk tiket bus ekonomi biasa Rp 20.000,- dengan waktu tempuhh sekitar 3-4 jam dan untuk tiket ekonomi PATAS-AC Rp 40.000,- waktu tempuh 2-3 jam. Untuk yang ingin segera bertemu keluarga saya sarankan naik yang PATAS, jadi bisa sampai rumah bisa lebih cepat, sekitar pukul 09.00 pagi.

Untuk kembali ke jakartanya pada hari Ahad ada banyak alterntif kereta ekonomi dari Lempuyangan menuju Pasar Senen, mulai dari kereta Progo berangkat pukul 15.30, kereta Bengawan berangkat pukul 16.33 dan Gaya Baru Malam selatan berangkat pukul 17.10, kalo saya lebih memilih naik kereta GBM untuk balik ke Jakarta karena bisa punya lebih banyak waktu dirumah karena jam berangkatnya jam lebih sore.

Ada banyak alasan orang untuk pulang kerumah, bagi saya alasan untuk selalu pulang kerumah adalah kerinduan akan keluarga dan menjenguk orang tua, memastikan mereka bisa melihat saya tumbuh dewasa setalah mereka merawat dan membesarkan saya sedari kandungan.

Sebuah obrolan dalam kereta

Notifikasi chat wa muncul di layar handphone, rupanya dari sahabat saya. Tidak biasa memang, namun kali ini dia mengabarkan sedang dalam perjalanan, berada dalam sebuah kereta Bandung-Jogja. Dia membenarkan apa yang aku ceritakan dulu bahwa akan selalu ada pelajaran dari setiap perjalanan, muncul hal-hal baru yang mengejutkan. Lalu sahabat saya ini menceritakan pengalamannya mendapat sebuah pelajaran dari sebuah obrolan di dalam kereta.

Seorang bapak tertaksir sudah berumur separo abad, dari penampilan dzohirnya terlihat orang yang mengerti agama, bawaannya tenang, berjenggot tipis yang mulai memutih cukup menandakan  kelakilakiannya. Kata sahabat saya, bapak tersebut mulai bercerita mengenai kisah hidupnya, sedangkan sahabat saya diam khidmat mendengar dengan bersandar di kursi kereta ekonomi yang tegak. Cerita ini cukup menarik buat sahabat saya karena mengisahkan bagaimana bapak tadi mendapatkan jodoh. Bapak tersebut bercerita bahwa dulu ketika ingin menikah, dia melakukan sholat tahajud 30 hari full untuk dikasih istri yang sholihah. Keadaan dari bapak tersebut pada waktu itu belum mempunyai penghasilan tetap, pekerjaan gag menentu, rumah belum ada, namun dia pengen menikah. Setelah melakukan beberapa usahanya tadi, ada seorang yang tiba-tiba menawari untuk menikahi seorang anak gadisnya. Bapak itu menjawab dengan membalik bertanya, apakah anak gadis itu mau menikah dengannya atau tidak, dengan kondisi bapak seperti itu.

si gadis itu menjawab, dia mau dinikahi asalkan dibawa untuk keluar dari kota bandung, meskipun kondisi bapak itu belum punya apa-apa. Singkat ceritanya hari Kamis diajukan tawaran tadi, dan hari Ahadnya dilangsungkan akad nikahnya.

Doa istrinya “Ya Allah, jika suamiku ini memang berada di jalan yang benar, maka mudahkanlah rezekiNya“. Dan bapak tersebut pun berperinsip, asalkan kita bergerak pagi keluar kerja apapun itu yang halal pasti sore hari pulang dapat sesuatu untuk keluarganya. Lalu bapak tersebut berusaha setiap hari untuk kerja apapun itu sedikit demi sedikit, serabutan mulai dari tambal ban, kuli bangunan hingga sekarang sudah punya bengkel sendiri. Alhamdullah sampai sekarang gag pernah kekurangan ceritanya, selalu saja ada untuk dimakan setiap harinya. Dia pun berpesan kepada sahabat saya carilah istri yang nantinya bisa mendidik anak-anak. Seketika itu pun sahabat saya tertampat atas sebuah obrolan yang penuh hikmah tadi, saya pun yang mendapat cerita dari nya lewat chat merasa terharu.

Memang benar Allah telah menjamin rezki untuk setiap makhlukNya, tidak akan pernah tertukar, asalkan kita mau berusaha untuk menjemputnya. Sebagai contoh lain ketika kita melewati lorong sepanjang jalan malioboro, kita hampir tiap langkah menjumpai pedagang yang menjajakan oleh oleh khas jogja yang sebagian besar hampir sama, mulai dari kaos dan souvenir lainya, namun rezeki itu sudah dijamin, selalu ada buat mereka dan tidak tertukar. Usaha mereka adalah menjajakan dagangan mereka sambil menawarkan kepada pengunjung, Allah lah menggerakkan hati para pengungjung untuk tertarik pada dagangan tersebut untuk membelinya.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim:34)

Bukankah kunci kebahagiaan itu salah satunya adalah mensyukuri apa yang telah kita punya?

Cerita Ramadhan tahun ini

Bulan Ramandhan sudah berlalu meninggalkan kita. Moment-moment romantis berbuka dan sahur beralih kembali menjadi biasa lagi. Tidak ada lagi mata ‘kriyip-kriyip’ harus keluar mencari makan, ataupun pulang kerja duduk manis menunggu maghrib diteras sebuah masjid. Selalu terselip sebuah doa ketika berpisah dengannya, “Semoga dipertemukan kembali dengan Ramadhan-Ramadhan berikutnya”. Ah, Ramadhan memang ngangenin.

Ada hal yang berbeda Ramadhan kali ini, yang saya rasa yaitu menjalaninya seorang diri di tanah perantauan, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang bisa merasakan kehangatan sahur dan berbuka bareng keluarga. Awalnya terasa hambar, seperti teh celup yang biasa saya seduh tanpa gula. Lambat laun saya harus mulai terbisa dengan ini, karena saya yakin keadaan ini adalah yang terbaik untuk saya jalani saat ini. Kebiasaan baru selama menjalani Ramadhan di perantauan adalah bangun lebih awal mencari buat sahur, beruntung di dekat kosan terdapat sebuah warteg, dengan konsekuaensi menu makan sahur selalu hampir sama hanya kombinasi sayur dan lauk minimalis tiap harinya. Ya saya belajar mensyukurinya.
Dalam kesendirian di rantauan saya menemukan kebersamaan lain ketika berbuka puasa, menunggu maghrib bersama para pekerja lainnya di sebuah masjid sebuah kantor yang menyediakan ta’jil. Meskipun hanya dengan secangkir teh hangat, segelas kolak, dan beberapa butir kurma, tetap membuat kesan kebersamaan tersendiri disetiap buka puasa Ramadhan ini.

Hingga tanpa terasa, pelan namun pasti, waktu terus bergulir dan Ramadhan pun mulai memasuki masa akhirnya.

Saya baru kali ini merasakan sensasi mudik. Tiket kereta sudah saya beli jauh hari sebelumnya, bahkan beberapa jam ketika tiket mulai tersedia H-90hari. Alasan saya selalu memilih kereta adalah moda transportasi paling romantis setau saya. Mulai dari suasana stasiunnya, lekukan gerbongnya, hingga baris-baris tempat duduk dan toiletnya. Apalagi kualitas layanan kereta semakin kesini semakin membaik. 🙂

Tepat hari terakhir masuk kantor saya memilih waktu untuk mudik, karena sudah membuncah kangen suasana rumah, kangen Jogja.
Akhirnya hari-hari terakhir Ramadhan bisa saya nikmati bareng keluarga di rumah.
Alhamdulillah 🙂