Tag Archives: harapan

Pulang menjemput harap

Kata khotib jumat tadi, harapan harus selalu ada dalam setiap keadaan apapun, meskipun dalam keadaan yang hampir pasti kita mati.

Seorang penyair mengatakan ketika kita jatuh kedalam sungai berarus deras sekalipun yang di dalamnya terdapat buaya dan hewan buas lain disana, kita harus tetap punya harapan meskipun hanya dengan berpegangan dengan ekor ular berbisa sekalipun. Karena bisa jadi ular tersebut yang akan menyelamatkan kita.

Dalam setiap lipatan malam yang gelap jangan pernah berhenti berharap karena Allah akan menghadirkan fajar yang menyingsing yang membawa terang.

Deru mesin jahit mungkin disitu letak harapan para tukang jahit. Suara pintu rolling kios ketika dibuka, disitu mungkin letak harapan warung-warung.

Kurang lebih begitulah khotib jumat memberikan khotbahnya tadi.

Bagi saya bersama deru ular besi ini aku pulang untuk kembali mengisi harapan – harapan yang selalu terkikis dalam rutinitas.

(kerata bogowonto, jumat malam)

Mau kemana?

Saat ini mungkin menjadi salah satu waktu ter-krusial bagi saya (bukan versi on the spot), kenapa bisa begitu? ya, ada beberapa alasan yang membuat saya tertegun dan diam berpikir cukup lama. Sebenarnya ini hanya berawal dari pertanyaan singkat nan sederhana dari seorang teman lama yang sudah lama gag saling ngobrol. Awalnya pertanyaan basa basi biasa bertanya kabar, udah lulus belum dan pertanyaan terakhir kalo udah lulus cita citanya mau kemana?

Aku diam, berpikir, untuk jawaban pertanyaan terakhir itu. Iya habis lulus ini aku mau kemana dan ngapain ya? akhirnya obrolan kita pun membahas untuk jawaban pertanyaan terakhir itu.

Dulu ketika kecil kita bisa berucap dengan lantang ‘cita-citaku menjadi dokter, polisi, pilot dll’ beranjak besar cita cita semakin mengerucut dan realstis, ‘aku ingin bisa kuliah di UGM dll, namun sekarang ketika posisi kita sudah berada didalam cita-cita itu bahkan hampir habis masanya ‘mau lulus’. Kemana setelah ini? menjadi sebuah pertanyaan krusial. Entah kemana habis ini yang pasti cita-cita dan harapan harus tetap ada, mungkin  bisa terus diperbaharui, jangan malah setelah kita sampai pada cita cita, kita terus berhenti.

Saat ini memang aku jenuh dengan sistem yang ada selama kuliah ini, namun harusnya aku punya harapan besar lain diluar itu yang satu per satu akan aku wujudkan, aku juga harus tetap menngembangkan diri. Bukan berarti ketika sudah lulus nanti kita berhenti belajar, bukan berarti ketika sudah bekerja nanti waktu kita habis hanya untuk pekerjaan kita, terjebak pada rutunitas dunia lalu mati, namun harusnya kita terus mengembangkan diri, terus menuntut ilmu, lebih lebih ilmu yang bisa menjadi bekal bagi kehidupan kita mendatang. Tersimpul dari obrolan tadi bahwa muara dari semua harapan adalah menjadi manfaat bagi orang lain, bekerja untuk sosial, sehingga ketika kebutuhan untuk sosial terpenuhi maka kebutuhan diri kita pun sudah terpenuhi juga tentunya.

Kemana saya setelah ini? mungkin saat ini belum terputuskan, namun secara sederhana saya membayangkan akan hal ini,bekerja dan bisa terus sambil belajar (entah sekolah lagi maupun menjadi profesional) sehingga bisa menabung, memberangkatkan haji dan umrah kedua orang tua saya, haji dan umrah saya, menabung untuk usaha, menabung untuk menikah dan membangun rumah tangga sehingga kehidupan saya terdamaikan dengan kesejahteraan, mendirikan sekolah, perpustakaan, kawasan belajar dll. Aku harap setelah itu akan muncul impian impian yang baru yang bisa memberikan arah kemana kita selanjutnya.

“jangan berhenti bercita cita dan berharap, karena ketika sudah tidak berharap maka kita hanya akan diam ditempat”