Tag Archives: @america

Pelarian Setelah Jam Kerja

Sudah lebih dari satu semester ini saya menjalani aktivitas di perusahaan baru. Di tempat saya bekerja yang sekarang aktivitas hampir seluruhnya dihabiskan di depan komputer di dalam kotak kubikel. Bisa dibayangkan jam 8-18 setiap harinya rutinitas itu yang selalu dijalani. Saya teringat sebuah perkataan seorang teman saya akan pentingnya ‘manajemen pantat’. Entah apa sebenarnya maksutnya namun saya mengartikannya kita harus pintar pintar menjaga mood kita agar pantat kita nyaman duduk berlama-lama. Kalau teman saya memakainya dalam sebuah aktivitasnya di pondok dengan duduk mendengarkan kyainya, saya memakainya dalam pekerjaan sehari-hari saya di kantor.

Saya sedikit diuntungkan karena letak kantor saya berada di tengah ibukota, yang artinya ketika mencari sesuatu kemungkinan akan mudah ditemukan disini. Saya memanfaatkannya untuk mengisi aktivitas selepas kerja saya, ya itung-itung untuk melepas penat seharian. Suatu waktu saya bisa berjalan ke Goethe Institut sebuah pusat kebudayaan Jerman yang sering mengadakan acara yang anti mainstream. Kadang mendatangkan musisi kolaborasi Jerman-Indonesia dalam Serambi Jazz nya, atau memutar film yang blogbuster dalam ArtCinemanya.

Diwaktu yang lain saya bisa melarikan diri ke @america sebuah semacam galery kebudayaan milik America. Disini saya sering menikmati acara yang disuguhkannya yang gag kalah keren. Saya biasa duduk di depan sendiri ketika Float atau Aditia Sofyan mengisi acara bergantian, atau ketika Payung Teduh membanjiri lagu-lagu sendunya. Bahkan ketika Dik Doank bersama Kandank Jurank DoanK nya tampil penuh semangat saya antusias disana. Tidak hanya musik, film dan talkshow juga ada. Saya masih begitu ingat ketika Rene Suhardono bicara tentang apa itu passion.

Dikesempatan yang lain juga saya memilih berjalan ke Erasmus Huis, Kedutaan Belanda yang letaknya persis di depan kantor saya. Ketika ada acara open dinner lumayan bisa makan gratis di sana. Atau ketika ada Festival Film Dokumenter saya begitu menikmati sajian film-film dokumenter dari penjuru dunia. Ketika kita menggali sejarah Indonesia, pastinya tidak lepas dengan negeri Belanda. Pamparan foto sejarah Kereta Api Indonesia pernah dipajang di sana.

Jika tidak itu semua, saya memilih untuk duduk menikmati kopi. Kadang sendiri itu bisa lebih membuat hati kita menjadi lebih perasa. Luwes menikmati suasana dan mengamati sekitar. Berpikir kedalam diri sedang apa saya di sini, mengapa saya di sini dan kemana setelah ini itu kadang juga perlu. Jika kita berkaca pada cermin yang besarpun mungkin kita tidak bisa melihat diri kita, mungkin dengan melihat sekitar kita bisa tau diri kita.